Suku Dayak Punan
dengan Hutan Adat yang akan Terampas
Dosen
Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko,
S.Hut., M.Si.
Disusun
oleh :
Horeb Yoyada
Marbun
171201008
MNH 5
PROGRAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2019
Sejarah dan Asal usul Suku Dayak Punan
Dalam riwayat atau cerita, leluhur
mereka ini asal-usulnya datang dari negeri yang bernama “Yunan “ sebuah daerah
dari daratan Cina. Mereka berasal dari keluarga salah satu kerajaan Cina yang
kalah berperang yang kemudian lari bersama perahu-perahu, sehingga sampai ke
tanah Pulau Kalimantan. Karena merasa aman, mereka lalu menetap di daratan
tersebut.
Punan adalah salah satu rumpun suku Dayak yang terdapat di
Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Dayak Punan juga
tersebar di Sabah dan Serawak, Malaysia Timur yang menjadi bagian dari Pulau
Kalimantan. Populasinya paling banyak ditemukan di Kalimantan Timur
diperkirakan berjumlah 8.956 jiwa suku Punan yang tersebar pada 77 lokasi
pemukiman. Punan sendiri memiliki 14 sub rumpun diantaranya
1. Suku Dayak Hovongan di Kapuas Hulu,
Kalbar
2. Suku Dayak Uheng Kereho/Oloh Ot Nyawong/Suku Dayak Seputan di Kapuas Hulu,
Kalbar
3. Suku Dayak
Punan Murung di Murung Raya,
Kalteng
4. Suku Dayak Aoheng (Suku Penihing) di
Kalimantan Timur
6. Suku Dayak Punan Aput-Busang
10. Suku Dayak
Bukat
14. Suku Dayak Punan Kelay-Segah
di Sungai Kelay, Kalimantan Timur
Dihitung dari populasi keberadaan
Dayak Punan ini kian tahun kian menurun bahkan cendrung punah. Tetapi walau
demikian mereka tetap saja tak pula berubah dengan pola adat istiadat dari
leluhur mereka yang dipercayai.
Kehidupan dan Adat Istiadat Suku Dayak Punan
Keunikan Suku Punan
Dari keseluruhan Suku Dayak, orang
Punan inilah yang paling terbelakang baik budaya maupun kehidupan mereka.
Secara umum kehidupan mereka terbilang unik dengan tinggal di goa-goa anak anak
sungai dan lain sebagainya. Mereka juga tak mengenal pakaian bagus dan kemajuan
zaman. Lebih aneh lagi dari kehidupan masyarakat Punan ini adalah secara umum
mereka merasa takut dan alergi terhadap Sabun . Entah apa sebabnya tak ada yang
mengetahui secara pasti. Keadaan hidup seperti ini membawa mereka selalu
berpindah pindah dari satu tempat ke lain tempat dan terus menghindar dari
kelompok manusia lain. Dalam kepercayaan mereka para leluhur lah yang
menghendaki demikian. Dengan banyak tanda yang diberikan semisal ada diantara
mereka yang meninggal. Setelah dikubur, serentak mereka berpindah menuju daerah
lain. Mereka sangat percaya kalau roh yang meninggal akan bergentayangan
membuat mereka tak akan merasa tenteram. Warga Punan ini disebut juga warga
pengembara dan hidup dalam satu kelompok tanpa berpisah pisah.
Mereka juga senang dengan makanan
yang masih mentah seperti sayur sayuran hutan yang berasal dari pohon nibung
atau banding (teras dala). Begitu pula dengan daun pakis, atau labu hutan yang
memang banyak terdapat. Soal beras tak terlalu perlu bagi mereka. Makanan utama
mereka adalah umbi dan umbut umbutan hutan, ditambah dengan daging buruan yang
mereka temukan. Untuk daging inipun jarang mereka masak. Jika ada binatang
buruan yang didapat mereka lebih suka menjemur daging-daging tersebut di
matahari panas sehingga menjadi daging asinan atau dendeng.
Bagi Punan yang tinggal di dalam
goa-goa, kebanyakan tak mengenal suami atau isteri. Secara umum jika mereka mau
bergaul tergantung dari kesepakatan atau suka sama suka. Dalam keseharian jika
ada di antara wanita dan pria yang saling suka, mereka melakukan hubungan intim
di dalam hutan. Jadi bagi mereka tak ada istilah cemburu atau rasa memiliki
sendiri. Jika ada yang hamil kemudian melahirkan, maka anak tersebut adalah
anak bersama mereka. Di mana mereka saling sayang menyayangi dan saling merawat
satu dan lainnya. Begitu juga dengan tradisi melahirkan, jika ada yang hamil
tua dan mau melahirkan wanita tersebut dibawa ke dalam hutan atau tepi sungai
untuk melahirkan bayinya.
Kesaktian
Suku Punan
Punan adalah orang gaib, manusia
perkasa di hutan rimba. Mereka bisa menghilangkan diri hanya dengan berlindung
di balik sehelai daun. Jejaknya sulit diikuti. Mereka berjalan miring dan
sangat cepat. Tubuh mereka ringan karena tidak makan garam. Orang Punan sangat
ditakuti oleh suku lainnya karena merupakan suku yang berani dan berilmu
tinggi. Mereka memiliki kelebihan insting dalam berburu dengan kecepatan luar
biasa. Selain kecepatan, suku Punan juga dianugerahi kekuatan fisik yang luar
biasa, seorang perempuan saja bahkan dapat mengangkat motor perahu berkekuatan
40 PK dengan mudahnya. Padahal biasanya dibutuhkan dua orang pria untuk
mengangkat benda berat tersebut. Mungkin kekuatan tubuh yang di atas rata-rata
mereka dapatkan dari tempaan alam. Orang-orang Punan ini juga memiliki
kelebihan dengan penciuman mereka. Mereka tahu ada sesuatu melalui arah
bertiupnya angin. Hebatnya mereka bisa membedakan bau manusia, dan binatang
binatang dengan jarak yang cukup jauh. Walaupun dalam kondisi apapun mereka
tahu kalau bau binatang atau manusia yang tercium membahayakan mereka.
Jago
Berperang
Konon, orang Punan jaman dahulu
sangat ditakuti oleh suku Dayak lainnya karena mampu berperang dengan baik.
Sebagai “pemburu kepala” atau “ngayau” (dalam bahasa Inggris diistilahkan head
hunter). Termasuk dalam kategori suku kanibal karena mempunyai kebiasaan
memenggal, memakan hati dan isi perut lawannya adalah hal yang lumrah mereka
lakukan. Mereka juga punya kebiasaan memakan bagian punggung kanan musuhnya
yang tewas dalam perang karena bagian tubuh itulah yang diyakini paling enak
dimakan.
Dalam keseharian mereka selalu waspada dan siap berkelahi dengan siapapun, termasuk binatang-binatang ganas di dalam hutan. Tradisi siap tempur ini diwarisi semenjak nenek moyang mereka sebagaimana diceritakan di atas tadi. Mereka memiliki ilmu bela diri yang sangat tangguh dan berbeda dengan ilmu bela diri secara umum yang ada di masyarakat. Mungkin ilmu bela diri yang mereka miliki adalah ilmu yang mereka bawa dari daratan Cina asal-usul leluhur mereka.
Dalam keseharian mereka selalu waspada dan siap berkelahi dengan siapapun, termasuk binatang-binatang ganas di dalam hutan. Tradisi siap tempur ini diwarisi semenjak nenek moyang mereka sebagaimana diceritakan di atas tadi. Mereka memiliki ilmu bela diri yang sangat tangguh dan berbeda dengan ilmu bela diri secara umum yang ada di masyarakat. Mungkin ilmu bela diri yang mereka miliki adalah ilmu yang mereka bawa dari daratan Cina asal-usul leluhur mereka.
Aktivitas
Ekonomi
Kehidupan dan kerja mereka
sehari-hari berdasarkan limpahan kasih dari alam. Memang mereka bisa juga
berhubungan dagang dengan masyarakat umum, tetapi tidak ditukar dengan uang
namun dilakukan secara barter (Pertukaran). Yang dibawa mereka adalah seperti
rotan, damar, kayu gaharu, sarang wallet. Yang dibarter dengan , gula, tembakau
atau rokok. Dan ada pula kain kainan.
Cara penukaran barangpun tidak langsung bertemu dengan orangnya, melainkan barang barang yang dibawa diletakkan disuatu tempat yang tersedia. Setelah barang mereka diambil dan dibayar pula dengan barang yang dibutuhkan mereka. Setelah yakin pengantar barang sudah tidak ada, maka barulah mereka mengambil barang yang menjadi milik mereka.
Cara penukaran barangpun tidak langsung bertemu dengan orangnya, melainkan barang barang yang dibawa diletakkan disuatu tempat yang tersedia. Setelah barang mereka diambil dan dibayar pula dengan barang yang dibutuhkan mereka. Setelah yakin pengantar barang sudah tidak ada, maka barulah mereka mengambil barang yang menjadi milik mereka.
Konflik di Lingkungan Suku Dayak Punan
Hutan
masyarakat adat Dayak Punan yang masuk ‘kawasan’ PT Intracawood di Kabupaten
Bulungan, Kalimantan Timur (Kaltim) seluas 23.139 hektare (ha). PT Intracawood,
sudah menggarap dan mengambil kayu diperkirakan 15 ribu ha. Kini, masyarakat
adat harap-harap cemas. Perusahaan mau masuk lagi dan menggarap hutan yang
masih tersisa. Masyarakat Punan tidak mau. “Masyarakat adat tak mau. Kembalikan
hutan adat kami. Kembalikan tanah adat kami. Semua. Yang sudah digarap maupun
yang belum,” kata Anggota Komunitas Adat Dayak Punan, Kaharuddin kepada
Mongabay, akhir Juni 2012. Kaharuddin juga kepala Desa Punan Dalau. Dia
mengatakan, masyarakat ingin lahan dan hutan mereka kembali. “Tolonglah
pemerintah, perhatikan kami. Kami perlu bantuan…” Warga sudah seringkali
berusaha berkomunikasi dengan perusahaan, tetapi upaya itu seakan tak
dihiraukan pihak bermodal besar ini. “Mereka menyalahkan pemerintah desa.
Mereka anggap pemerintah tak bisa fasilitasi masyarakat.”
PT.Intracawood
Manufacturing (Intraca) merupakan bagian dari Central Cipta Murdaya Grup(CCM).
Tiga pemegang saham mayoritas intraca yaitu PT. Inhutani I (24%) PT.Altrac
78(49.5%) dan PT.Berca Indonesia (24.7%). PT Altrac dan Berca adalah milik CCM
grup. PT. Intracawood didirikan sebagai bisnis patungan dengan PT Inhutani I.
Kegiatan mereka mengelola kawasan hak pengusahaan hutan (HPH) seluas 226.326
ha. Perusahaan menggunakan tebang pilih dalam memasok log mentah ke industri
kayu lapis Intraca di Tarakan. Intracawood mendapat subkontraktor hak konsesi
dari PT Inhutani I tahun 1988 dengan mengantongi izin jangka panjang selama 75
tahun. Setelah operasional dipertanyakan Menteri Kehutanan. Lalu, tahun 2003
Menteri Kehutanan mengizinkan kembali beroperasi dengan izin baru selama
45tahun berdasarkan SK No. 335/Menhut-II/2004 tgl 31 agustus 2004, luas konsesi
195.110 ha. Konsesi ini meliputi tiga kabupaten, Bulungan, Berau dan Malinau. Untuk
kecamatan Sekatak konsesi PT Intacawood mencakup 23 kampung dihuni warga Dayak
Tidung, Punan dan Belusu.
Menurut hasil
laporan hasil tim penelitian SmartWood tahun 2006, pertengahan tahun 2002 –
hingga pertengahan 2003, penyelesaian konflik dengan masyarakat setempat dengan
mengeluarkan 30.000 ha berdasarkan klaim masyarakat. Pada 25 januari 2003,
ditandatanngani nota kesepakatan untuk mengembangkan penelitian hutan hujan dan
program training antara PT Intracawood Manufacturing, Innoprise Corporation
Sdn.Bhd, Sabah, Malaysia dan Royal Society Southeeast Asia Rainforest Research
Programme, Inggris. Atas izin pemerintah Indonesia dan Bupati Bulungan dipilih
kawasan hutan primer Intracawood seluas 26,257 ha terletak dekat dengan kawasan
konsesi untuk training dan ekoturisme. Pada 2004 dalam SK hak pengusahaan hutan
(HPH) ditandatangani Menteri Kehutanan disebutkan ekplisit perpaduan HCVF dalam
pengelolaan hutan produksi. Penetapan kawasan itu, tanpa persetujuan dan komunikasi
dengan warga pemilik kawasan. PT Intracawood mengabaikan prinsip-prinsip Free,
prior and informed consent (FPIC) yang menjadi dasar penetapan kawasan HCVF
ini. Malah, masyarakat dilarang berburu, berladang dan merambah kawasan mereka
sendiri. Pada tahun 2011 didirikan pos-pos penjagaan dalam kawasan itu untuk
mengontrol keluar masuk warga.
Warga Punan dan
Belusu merasa dibatasi di atas tanah sendiri. Pada 13 Maret lalu, dalam
pertemuan dengan komisi II DPRD Kaltim, warga Punan dan Belusu menyampaikan
beberapa tuntutan.
1.
Pertama, pemerintah
mencabut izin HPH PT Itracawood.
2. Kedua, meminta
pemerintah mengeluarkan kawasan masyarakat dari wilayah HCVF yang didirikan
diatas tanah kas desa dan kawasan rambah masyarakat Punan dan Belusu di
Kecamatan Sekatak.
3. Ketiga, pemerintah dan
DPRD membentuk pansus penyelesaian agraria khusus dalam yang terjadi di wilayah
masyarakat adat di Kaltim.
Permintaan masyarakat ini seakan berhembus bersama angin
alias belum ada tindaklanjut yang berarti. Saat ini, malah banyak warga terkena
tuduhan illegal logging. “Mereka dianggap bersalah mengambil kayu di tempat
yang biasa sejak dulu.” Sekitar 17 warga dipolisikan, bahkan ada yang dipenjara
dua kali. “Ini baru orang, belum kerugian seperti mesin yang dilenyapkan. Mesin
katanya jadi barang bukti. Kasian kondisi masyarakat.”
- Gambar Hutan Adat Suku Dayan Punan yang ingin dijadikan Perkebunan Sawit oleh Perusahaan
Referensi Penulis :
diakses pada : Sabtu, 28 September 2019, Pukul : 13.00
diakses pada : Sabtu, 28 September 2019, Pukul : 13.20
Jurnal Manajemen Hutan Tropika, IPB
Jurnal Eprints, UNDIP
Terima Kasih,
Salam Rimba!!!
Mantap kak
BalasHapusKeren πππ
BalasHapusKerenπππ
BalasHapusKeren
BalasHapusIni nih ��������
BalasHapusIni nihhh π
BalasHapusMantap π
BalasHapusKeren blognya
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusMakasih informasinya om
BalasHapusSangat membatu
BalasHapusSangat membatu
BalasHapusBaguss, terima kasih
BalasHapusTerima kasih atas informasinya gan
BalasHapus