Kamis, 05 Maret 2020

LAPORAN PRAKTIKUM SILVIKULTUR JUDUL PEMUPUKAN

PENDAHULUAN
Latar belakang
Kesuburan tanah adalah potensi tanah untuk menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup, dalam bentuk tersedia serta seimbang untuk menjamin pertumbuhan tanah yang maksimum. Komponen penting kesuburan tanah adalah unsur hara esensial yang dapat diserap tanaman yang digunakan untuk berbagai proses pertumbuhannya. Tanah yang subur yaitu tanah yang mempunyai profil yang dalam (kedalaman yang sangat  dalam) melebihi 150 cm, strukturnya gembur remah, pH sekitar 6-6,5, mempunyai aktivitas jasad renik yang tinggi (maksimum). Kandungan unsur haranya yang tersedia bagi tanaman adalah cukup dan tidak terdapat pembatasan-pembatasan tanah untuk pertumbuhan tanaman. Tanah merupakan suatu sistem yang ada dalam suatu keseimbangan dinamis dengan lingkungannya (lingkungan hidup atau lingkungan lainnya). Tanah tersusun atas 5 komponen yaitu partikel mineral, berupa fraksi anorganik, hasil perombakan bahan-bahan batuan dan anorganik yang terdapat di permukaan bumi; bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tanaman dan binatang dan berbagai hasil kotoran binatang; air dan kehidupan jasad renik (Pairunan, 2007).
  Pemupukan adalah penambahan pupuk ke dalam tanah agar tanah menjadi lebih subur. Pemupukan dalam arti luas adalah penambahan bahan-bahan yang dapat memperbaiki sifat-sifat tanah. Contoh penambahan pasir pada tanah liat, penambahan tanah mineral pada tanah organik, pengapuran dan sebagainya. Dalam ilmu memupuk bertujuan untuk menyelidiki tentang zat-zat apakah yang perlu diberikan kepada tanah sehubugan dengan kekurangan zat-zat tersebut yang terkandung di dalam tanah yang perlu guna pertumbuhan dan perkembangan tanaman dalam rangka produksinya agar tercapai hasil yang timggi. Tujuan pemupukan adalah untuk memperbaiki kesuburan tanah, menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, mencukupkan handungan zat-zat mineralnya, menambah kandungan bahan-bahan organik. Pemupukan dilakukan apabila tanah mengalami kemunduran artinya berkurang kesuburannya akibat penghanyutan hara oleh erosi, pencucian hara , dan terangkut pada saat panen (Sutejo,2002).
         
            Nitrogen dibutuhkan tanaman selama masa pertumbuhan sampai pematangan biji. Tanaman menghendaki tersedianya nitrogen secara terus menerus pada semua stadia pertumbuhan sampai pembentukan biji. Bila kekurangan N tanaman akan menjadi kerdil dan daun akan menjadi sempit. Tanaman membutuhkan pasokan unsur P sampai stadia lanjut, khususnya saat tanaman masih muda. Gejala kekurangan fosfot akan terlihat sebelum tanaman setinggi lutut. Kalium diambil tanaman sejak tanaman setinggi lutut sampai selesai pembungaan. Pada tanah yang kaya akan kalium, pemupukan dengan kalium ini dapat ditiadakan. Kekurangan magnesium akibatnya adalah klorosis, gejala-gejalanya akan tampak pada permukaan daun sebelah bawah. Kekurangan Ca akan mengakibatkan pertumbuhan ujung dan bulu-bulu akar akan terhambat sedangkan bagian-bagian yang telah terbentuk akan mati dan berwarna cokelat kemerah-merahan. Kekurangan Ca pada tanaman gejalanya pada pucuk. Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan (Suwandi dkk, 2000).
   Takaran pupuk yang digunakan untuk memupuk satu jenis tanaman akan berbeda untuk masing-masing jenis tanah, hal ini dapat dipahami karena setiap jenis tanah, memiliki karakteristik dan susunan kimia tanah yang berbeda. Beberapa hal penting yang perlu dicermati untuk mendapatkan efesiensi dalam pemupukan antara lain : jenis pupuk yang digunakan, sifat dari pupuk tersebut, waktu pemupukan dan syarat pemberian pupuk serta cara atau metode pemupukan. Dengan tingginya hasil tanaman yang dipanen, berarti jumlah unsure hara yang diambil oleh tanaman dari dalam tanah akan banyak pula karena pengambilan unsur hara dari dalam tanah berlangsung secara pararel terhadap pembentukan bahan kering atau produksi tanaman. Sehingga untuk tahun-tahun pertanaman berikutnya unsure hara yang berada didalam tanah lambat laun akan terus berkurang (Cahyono, 2003).
           

Tujuan
Adapun Tujuan dari praktikum silvikultur yang berjudul “Pemupukan” untuk  untuk lebih mengetahui pengaplikasian jenis pupuk dan dosis pupuk serta pengaruhnya pada tanaman.
TINJAUAN PUSTAKA
Penggunaan pupuk di dunia terus meningkat sesuai dengan pertambahan luas areal pertanian, pertambahan penduduk, kenaikan tingkat intensifikasi serta makin beragamnya penggu­naan pupuk sebagai usaha peningkatan hasil pertanian. Para ahli lingkungan hidup khawatir dengan pemakaian pupuk mineral yang berasal dari pabrik ini akan menambah tingkat polusi tanah yang akhirnya berpengaruh juga terhadap kesehatan manusia. Pupuk merupakan salah satu faktor produksi utama selain lahan, tenaga kerja dan modal. Pemumupukan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan hasil pertanian. Anjuran pemupukan terus ditingkatkan melalui program pemupukan berimbang, namun sejak sekitar tahun 1986 terjadi gejala pelandaian produktivitas ( leveling off ), suatu petunjuk terjadi penurunan efesiensi pemupukan karena berbagai faktor tanah dan lingkungan yang harus dicermati (Tyas, 2008).
Pupuk organik merupakan hasil penguraian bahan organik oleh jasad renik atau mikroorganisme yang berupa zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik seperti namanya pupuk yang dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik antara lain adalah pupuk kandang, kompos, kascing, gambut, rumput laut dan guano. Berdasarkan bentuknya pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa orang juga mengkelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu (yang kaya K) ke dalam golongan pupuk organik. Beberapa pupuk organik yang diolah dipabrik misalnya adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan. Pupuk organik cair antara lain adalah compost tea, ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, fermentasi tumbuhan, dan lain-lain (Siahaan, 2005).
Pemberian pupuk kandang sapi memberikan rata-rata kadar C-organik tanah yanglebih tinggi bila dibandingkan dengan jenis pupuk organik yang lainnya. Hal inidisebabkan karena pupuk kandang sapi merupakan pupuk dinginyang artinya perombakan oleh mikroorganisme tanah terjadi secara perlahan-lahan, kurang terbentuk  panas sehingga hara yang terlepaskan secara berangsur-angsur. Selain itu, pupuk kandang sapi kadar C-organik awalnya lebih tinggi dari yang lain, banyak mengandungair, lendir dan bila kena udara menjadi padat/kerak sehingga udara dan air selanjutnyasukar masuk ke dalamnya, sehingga dengan demikian karena sulit termineralisasimenyebabkan kadar C-organik tanah lebih tinggi bila dibandingkan dengan jenis pupuk organik yang lainnya.Kadar N-total tanah setelah panen terendah terlihat pada perlakuan tanpa pupuk organic yaitu 0,21 %, dan tertinggi pada perlakuan yaitu 0,41 %, berbeda nyata bila dibandingkan denganjenis pupuk organik yang lain Sedangkan pada perlakuandosis urea kadar N-total tanah terrendah terlihat pada perlakuan tanpa pupuk urea (n0)yaitu 0,24 %, dan tertinggi terlihat pada perlakuan n3 yaitu 0,40 %, berbeda nyata biladibandingkan dengan dosis pupuk urea lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik ke dalam tanah dapat meningkatkan kadar N-total di dalam tanah (Setyo, 2009).
Bahan organik yang mempunyai C/N masih tinggi berarti masih mentah. Kompos yang belum matang (C/N tinggi) dianggap merugikan, karena bila diberikan langsung ke dalam tanah maka bahan organik diserang oleh mikrobia (bakteri maupun fungi) untuk memperoleh enersi. Sehingga populasi mikrobia yang tinggi memerlukan juga hara tanaman untuk tumbuhan dan kembang biak. Hara yang seharusnya digunakan oleh tanaman berubah digunakan oleh mikrobia. Dengan kata lain mikrobia bersaing dengan tanaman untuk memperebutkan hara yang ada.  Hara menjadi  tidak tersedia (unavailable) karena berubah dari senyawa anorganik menjadi senyawa organik jaringan mikrobia, hal ini disebut immobilisasi hara. Terjadinya immobilisasi hara tanaman bahkan sering menimbulkan adanya gejala defisiensi.  Makin banyak bahan organik mentah diberikan ke dalam tanah makin tinggi populasi yang menyerangnya, makin banyak hara yang mengalami immobilisasi. Walaupun demikian nantinya bila mikrobia mati akan mengalami dekomposisi hara yang immobil tersebut berubah menjadi tersedia lagi. Jadi immobilasasi merupakan pengikatan hara tersedia menjadi tidak tersedia dalam jangka waktu tidak terlalu lama (Winarto, 2010)
Pupuk adalah zat yang ditambahkan pada tumbuhan agar berkembang dengan baik. Pupuk dapat dibuat dari bahan organik ataupun non-organik. Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Meski memiliki kelemahan pupuk organik mempunyai banyak kelebihan dan keuntungan. Penggunaan pupuk organik membuat tanah menjadi gembur sehingga mudah terjadi sirkulasi udara dan mudah ditembus perakaran tanaman. Untuk tanah yang bertekstur pasiran bahan organik akan meningkatkan pengikatan antar partikel tanah dan meningkatkan kemampuan mengikat air (Siregar, 2012).
Kesuburan tanah selain berasal dari residu makhluk hidup atau yang bersifat alami, kesuburan tanah juga dapat ditingkatkan dengan penambahan pupuk anorganik. Pupuk anorganik  yang banyak dibutuhakan oleh tanah dalam pertumbuh tanaman antara lain adalah urea. Pupuk ini  disebut juga sebagai pupuk N, karena mengandung lebih banyak nitrogen. Urea ini berfungsi dalam perkembangan vegetatif dari tanaman. Selain itu, kelebihan pupuk ini juga dapat membuat tanaman menjadi hangus, terutama yang memiliki daun yang agak peka. Bahan organik merupakan bahan penting dalam menciptakan kesuburan tanah, baik secara fisika, kimia maupun dari segi biologi tanah. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah, selain itu bahan organik adalah sumber energi dari sebagian besar organisme tanah (Damayanti, 2006).
Nitrogen merupakan salah satu unsure hara yang sangat diperlukan oleh tanaman danlam jumlah yang banyak untuk proses fisiologis seperti fotosintesis, pembentukan asam amino dan protein. Pemberian pupuk nitrogen dibrikan secara bertahap karena nitrogen bersifat mudah tercuci dan terdenitrifikasi. Nitrogen merupakan unsure hara essensial (keberadaannya mutlak ada untuk kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan tanaman) dan dibutuhkan dalam jumlah yang banyak sehingga disebut unsure hara makro. Sebagian besar tanah untuk mencuci tanaman tersebut perlu diberikan tambahan dalam bentuk pupuk. Tanaman yang cukup N maka tanaman tersebut akan tumbuh dengan baik dan daun tanaman tersebut akan berwarna hijau. Hilangnya N dalam tanah disebabkan oleh ; 1) digunakan tanaman dan mikroorganisme, 2) N dalam bentuk NH4+ dapat diikat oleh mineral liat jenis illit sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman, 3) N dalam bentuk NO3- mudah tercuci oleh air hujan, dan 4) proses denitrifikasi, yaitu proses reduksi nitrat menjadi N2 gas (Hardjo, 2005).
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
            Praktikum Silvikultur yang berjudul “Pemupukan dibawah Tegakan Damar (Agathis sp.)” dilaksanakan pada hari Jumat, 18 Mei 2018 pada pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai. Praktikum ini dilakukan di Ruang 203, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah cangkul, tali plastik, pacak, dan sprayer. Bahan yang digunakan adalah bibit tanaman agaths (Agathis sp.) dan pupuk NPK.

Prosedur Praktikum
1.      Disiapkan alat dan bahan.
2.      Dibuat lubang tanam 30 cm x 30 cm pada tanah menggunakan cangkul.
3.      Dimasukkan bibit kedalam lubang tanam dengan memasukkan top soil terlebih dahulu kemudian ditutup dengan sub soil.
4.      Dilakukan pemupukan untuk menambah unsur hara pada komplek tanah.
5.      Diamati pertumbuhan bibit tersebut.





HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil dari Praktikum Silvikultur yang berjudul “Pemupukan dibawah Tegakan Damar (Agathis sp.)”  adalah sebagai berikut.

gambar 1. Agathis sp. yang belum dilakukan pemupukan

gambar 2. Proses pemupukan di sekitar tanaman damar (Agathis sp.)
Pembahasan
Pada Praktikum Silvikultur yang berjudul “Pemupukan dibawah Tegakan Damar (Agathis sp.)” diketahui bahwa berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa cara melakukan pemupukan yang dilakukan disekitaran tanaman damar (Agathis spp) yang berada di sepanjang jalan pintu 4 usu adalah dengan cara mencangkul rumputan atau gulma yang berada disekitaran damar yang menghambat pertumbuhan dari tanaman damar tersebut hal ini sesuai dengan pernyataan Sutejo (2002) yang menyatakan bahwa pemupukan adalah penambahan pupuk ke dalam tanah agar tanah menjadi lebih subur. Pemupukan dalam arti luas adalah penambahan bahan-bahan yang dapat memperbaiki sifat-sifat tanah. Contoh penambahan pasir pada tanah liat, penambahan tanah mineral pada tanah organik, pengapuran dan sebagainya. Dalam ilmu memupuk bertujuan untuk menyelidiki tentang zat-zat apakah yang perlu diberikan kepada tanah sehubugan dengan kekurangan zat-zat tersebut yang terkandung di dalam tanah yang perlu guna pertumbuhan dan perkembangan tanaman dalam rangka produksinya agar tercapai hasil yang timggi.
Pada Praktikum Silvikultur yang berjudul “Pemupukan dibawah Tegakan Damar (Agathis sp.)” diketahui bahwa takaran pupuk yang digunakan untuk memupuk satu jenis tanaman akan berbeda untuk masing-masing jenis tanah, hal ini dapat dipahami karena setiap jenis tanah, memiliki karakteristik dan susunan kimia tanah yang berbeda. Beberapa hal penting yang perlu dicermati untuk mendapatkan efesiensi dalam pemupukan antara lain : jenis pupuk yang digunakan, sifat dari pupuk tersebut, waktu pemupukan dan syarat pemberian pupuk serta cara atau metode pemupukan. Dengan tingginya hasil tanaman yang dipanen, berarti jumlah unsure hara yang diambil oleh tanaman dari dalam tanah akan banyak pula karena pengambilan unsur hara dari dalam tanah berlangsung secara pararel terhadap pembentukan bahan kering atau produksi tanaman.
Pada Praktikum Silvikultur yang berjudul “Pemupukan dibawah Tegakan Damar (Agathis sp.)” diketahui bahwa Kesuburan tanah selain berasal dari residu makhluk hidup atau yang bersifat alami, kesuburan tanah juga dapat ditingkatkan dengan penambahan pupuk anorganik. Pupuk anorganik  yang banyak dibutuhakan oleh tanah dalam pertumbuh tanaman antara lain adalah urea. Pupuk ini  disebut juga sebagai pupuk N, karena mengandung lebih banyak nitrogen. Urea ini berfungsi dalam perkembangan vegetatif dari tanaman. Selain itu, kelebihan pupuk ini juga dapat membuat tanaman menjadi hangus, terutama yang memiliki daun yang agak peka. Nitrogen merupakan salah satu unsure hara yang sangat diperlukan oleh tanaman danlam jumlah yang banyak untuk proses fisiologis seperti fotosintesis, pembentukan asam amino dan protein.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.    Pemupukan adalah penambahan pupuk ke dalam tanah agar tanah menjadi lebih subur. Pemupukan dalam arti luas adalah penambahan bahan-bahan yang dapat memperbaiki sifat-sifat tanah.
2.    Pupuk adalah zat yang ditambahkan pada tumbuhan agar berkembang dengan baik. Pupuk dapat dibuat dari bahan organik ataupun non-organik.
3.    Pupuk organik merupakan hasil penguraian bahan organik oleh jasad renik atau mikroorganisme yang berupa zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman.
4.    Takaran pupuk yang digunakan untuk memupuk satu jenis tanaman akan berbeda untuk masing-masing jenis tanah, hal ini dapat dipahami karena setiap jenis tanah, memiliki karakteristik dan susunan kimia tanah yang berbeda.
5.    Hal penting yang perlu dicermati untuk mendapatkan efesiensi dalam pemupukan antara lain : jenis pupuk yang digunakan, sifat dari pupuk tersebut, waktu pemupukan dan syarat pemberian pupuk serta cara atau metode pemupukan.
Saran
            Sebaiknya dalam melakukan proses pemupukan harus sesuai dengan prosedur pemupukan dan teknik pemupukan, dan memperhatikan jarak tanam agar tidak terjadi persaingan










DAFTAR PUSTAKA
Cahyono. 2003. Peran Pupuk Hayati Dalam Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Menunjang Keberlanjutan Produktivitas Tanah. Jurnal Sumber Daya Lahan. 1 (4):148-156.

Damayanti, S. 2006. Penanaman dan Budidaya Tanaman Jagung. Fakultas Pertanian. Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto.

Hardjo, B. 2005. Dasar-dasar agronomi. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Pairunan, D. 2007. Dasar- Dasar Bercocok Tanam. Kanisus. Jakarta.

Setyo, A. 2009. Pertanian organik: Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Jakarta.

Siahaan, P. 2005. Verifikasi Metode Pengujian NH3 Pada Sampel Udara Ambient. Makassar : SMAK

Siregar, C. 2012. Sifat dan Ciri Tanah. Departemen Tanah Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Sutejo, K. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan.  Jakarta: Rineka Cipta.

Suwandi. Mertiana, A. Yuliasti, K. 2000. Bercocok Tanam Sayuran Dataran Rendah. Balai Penelitian Hortikultura Lembang dan Proyek ATA 395. 3 (6): 1-3.

Tyas, Y. 2008. Rancangan Percobaan; Teori Dan Aplikasi.  Palembang: Fakultas Pertanian UNSRI.  

Winarto, T. 2010. Pengolahan Limbah Cair Pabrik Pupuk Urea Dengan Menggunakan Proses Gabungan Nitrifikasi Dinitrifikasi Dan Microalgae. Online (www.cheundip.com). Diakses pada tanggal 17 April 2018.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hi Good People,

LAPORAN PRAKTIKUM SILVIKULTUR JUDUL PEMUPUKAN

PENDAHULUAN Latar belakang Kesuburan tanah adalah potensi tanah untuk menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup, dalam bentuk...