Latar belakang
Kesuburan tanah adalah potensi
tanah untuk menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup, dalam bentuk
tersedia serta seimbang untuk menjamin pertumbuhan tanah yang maksimum.
Komponen penting kesuburan tanah adalah unsur hara esensial yang dapat diserap
tanaman yang digunakan untuk berbagai proses pertumbuhannya. Tanah yang subur
yaitu tanah yang mempunyai profil yang dalam (kedalaman yang sangat
dalam) melebihi 150 cm, strukturnya gembur remah, pH sekitar 6-6,5, mempunyai
aktivitas jasad renik yang tinggi (maksimum). Kandungan unsur haranya yang
tersedia bagi tanaman adalah cukup dan tidak terdapat pembatasan-pembatasan
tanah untuk pertumbuhan tanaman. Tanah merupakan suatu sistem yang ada dalam
suatu keseimbangan dinamis dengan lingkungannya (lingkungan hidup atau
lingkungan lainnya). Tanah tersusun atas 5 komponen yaitu partikel mineral,
berupa fraksi anorganik, hasil perombakan bahan-bahan batuan dan anorganik yang
terdapat di permukaan bumi; bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tanaman
dan binatang dan berbagai hasil kotoran binatang; air dan kehidupan jasad renik
(Pairunan, 2007).
Pemupukan adalah penambahan pupuk ke
dalam tanah agar tanah menjadi lebih subur. Pemupukan dalam arti luas adalah
penambahan bahan-bahan yang dapat memperbaiki sifat-sifat tanah. Contoh
penambahan pasir pada tanah liat, penambahan tanah mineral pada tanah organik,
pengapuran dan sebagainya. Dalam ilmu memupuk bertujuan untuk menyelidiki
tentang zat-zat apakah yang perlu diberikan kepada tanah sehubugan dengan
kekurangan zat-zat tersebut yang terkandung di dalam tanah yang perlu guna
pertumbuhan dan perkembangan tanaman dalam rangka produksinya agar tercapai
hasil yang timggi. Tujuan pemupukan adalah untuk memperbaiki kesuburan tanah,
menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, mencukupkan handungan zat-zat
mineralnya, menambah kandungan bahan-bahan organik. Pemupukan dilakukan apabila
tanah mengalami kemunduran artinya berkurang kesuburannya akibat penghanyutan
hara oleh erosi, pencucian hara , dan terangkut pada saat panen (Sutejo,2002).
Nitrogen dibutuhkan tanaman selama masa
pertumbuhan sampai pematangan biji. Tanaman menghendaki tersedianya nitrogen
secara terus menerus pada semua stadia pertumbuhan sampai pembentukan biji.
Bila kekurangan N tanaman akan menjadi kerdil dan daun akan menjadi sempit.
Tanaman membutuhkan pasokan unsur P sampai stadia lanjut, khususnya saat
tanaman masih muda. Gejala kekurangan fosfot akan terlihat sebelum tanaman
setinggi lutut. Kalium diambil tanaman sejak tanaman setinggi lutut sampai
selesai pembungaan. Pada tanah yang kaya akan kalium, pemupukan dengan kalium
ini dapat ditiadakan. Kekurangan magnesium akibatnya adalah klorosis,
gejala-gejalanya akan tampak pada permukaan daun sebelah bawah. Kekurangan Ca
akan mengakibatkan pertumbuhan ujung dan bulu-bulu akar akan terhambat
sedangkan bagian-bagian yang telah terbentuk akan mati dan berwarna cokelat
kemerah-merahan. Kekurangan Ca pada tanaman gejalanya pada pucuk. Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman
pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan
(Suwandi dkk, 2000).
Takaran pupuk yang
digunakan untuk memupuk satu jenis tanaman akan berbeda untuk masing-masing
jenis tanah, hal ini dapat dipahami karena setiap jenis tanah, memiliki
karakteristik dan susunan kimia tanah yang berbeda. Beberapa hal penting yang
perlu dicermati untuk mendapatkan efesiensi dalam pemupukan antara lain : jenis
pupuk yang digunakan, sifat dari pupuk tersebut, waktu pemupukan dan syarat
pemberian pupuk serta cara atau metode pemupukan. Dengan tingginya hasil
tanaman yang dipanen, berarti jumlah unsure hara yang diambil oleh tanaman dari
dalam tanah akan banyak pula karena pengambilan unsur hara dari dalam tanah
berlangsung secara pararel terhadap pembentukan bahan kering atau produksi
tanaman. Sehingga untuk tahun-tahun pertanaman berikutnya unsure hara yang
berada didalam tanah lambat laun akan terus berkurang (Cahyono, 2003).
Tujuan
Adapun
Tujuan dari praktikum silvikultur yang berjudul “Pemupukan” untuk untuk lebih mengetahui pengaplikasian jenis
pupuk dan dosis pupuk serta pengaruhnya pada tanaman.
Penggunaan pupuk di dunia terus
meningkat sesuai dengan pertambahan luas areal pertanian, pertambahan penduduk,
kenaikan tingkat intensifikasi serta makin beragamnya penggunaan pupuk sebagai
usaha peningkatan hasil pertanian. Para ahli lingkungan hidup khawatir dengan
pemakaian pupuk mineral yang berasal dari pabrik ini akan menambah tingkat
polusi tanah yang akhirnya berpengaruh juga terhadap kesehatan manusia. Pupuk
merupakan salah satu faktor produksi utama selain lahan, tenaga kerja dan
modal. Pemumupukan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan hasil
pertanian. Anjuran pemupukan terus ditingkatkan melalui program pemupukan
berimbang, namun sejak sekitar tahun 1986 terjadi gejala pelandaian
produktivitas ( leveling off ), suatu petunjuk terjadi penurunan efesiensi
pemupukan karena berbagai faktor tanah dan lingkungan yang harus dicermati (Tyas, 2008).
Pupuk organik merupakan hasil
penguraian bahan organik oleh jasad renik atau mikroorganisme yang berupa
zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik seperti namanya
pupuk yang dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang
termasuk pupuk organik antara lain adalah pupuk kandang, kompos, kascing,
gambut, rumput laut dan guano. Berdasarkan bentuknya pupuk organik dapat
dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa
orang juga mengkelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang seperti dolomit, fosfat
alam, kiserit, dan juga abu (yang kaya K) ke dalam golongan pupuk organik.
Beberapa pupuk organik yang diolah dipabrik misalnya adalah tepung darah,
tepung tulang, dan tepung ikan. Pupuk organik cair antara lain adalah compost
tea, ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan,
fermentasi tumbuhan, dan lain-lain (Siahaan, 2005).
Pemberian
pupuk kandang sapi memberikan rata-rata kadar C-organik tanah yanglebih tinggi
bila dibandingkan dengan jenis pupuk organik yang lainnya. Hal inidisebabkan karena pupuk kandang sapi merupakan
pupuk dinginyang artinya perombakan oleh mikroorganisme tanah
terjadi secara perlahan-lahan, kurang terbentuk panas sehingga hara
yang terlepaskan secara berangsur-angsur. Selain itu, pupuk kandang sapi
kadar C-organik awalnya lebih tinggi dari yang lain, banyak mengandungair,
lendir dan bila kena udara menjadi padat/kerak sehingga udara dan air
selanjutnyasukar masuk ke dalamnya, sehingga dengan demikian karena sulit
termineralisasimenyebabkan kadar C-organik tanah lebih tinggi bila dibandingkan
dengan jenis pupuk organik yang lainnya.Kadar N-total tanah setelah panen
terendah terlihat pada perlakuan tanpa pupuk organic yaitu 0,21 %, dan
tertinggi pada perlakuan yaitu 0,41 %, berbeda nyata bila dibandingkan
denganjenis pupuk organik yang lain Sedangkan pada perlakuandosis urea kadar
N-total tanah terrendah terlihat pada perlakuan tanpa pupuk urea (n0)yaitu 0,24
%, dan tertinggi terlihat pada perlakuan n3 yaitu 0,40 %, berbeda nyata
biladibandingkan dengan dosis pupuk urea lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa
pemberian pupuk organik ke dalam tanah dapat meningkatkan kadar N-total di
dalam tanah (Setyo, 2009).
Bahan organik
yang mempunyai C/N masih tinggi berarti masih mentah. Kompos yang belum matang
(C/N tinggi) dianggap merugikan, karena bila diberikan langsung ke dalam tanah
maka bahan organik diserang oleh mikrobia (bakteri maupun fungi) untuk
memperoleh enersi. Sehingga populasi mikrobia yang tinggi memerlukan juga hara
tanaman untuk tumbuhan dan kembang biak. Hara yang seharusnya digunakan oleh
tanaman berubah digunakan oleh mikrobia. Dengan kata lain mikrobia bersaing
dengan tanaman untuk memperebutkan hara yang ada. Hara menjadi
tidak tersedia (unavailable) karena berubah dari senyawa anorganik menjadi
senyawa organik jaringan mikrobia, hal ini disebut immobilisasi hara.
Terjadinya immobilisasi hara tanaman bahkan sering menimbulkan adanya gejala
defisiensi. Makin banyak bahan organik mentah diberikan ke dalam tanah
makin tinggi populasi yang menyerangnya, makin banyak hara yang mengalami
immobilisasi. Walaupun demikian nantinya bila mikrobia mati akan mengalami
dekomposisi hara yang immobil tersebut berubah menjadi tersedia lagi. Jadi
immobilasasi merupakan pengikatan hara tersedia menjadi tidak tersedia dalam jangka
waktu tidak terlalu lama (Winarto, 2010)
Pupuk adalah zat yang ditambahkan
pada tumbuhan agar berkembang dengan baik. Pupuk dapat dibuat dari
bahan organik ataupun non-organik. Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan
kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat
makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi
tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Meski
memiliki kelemahan pupuk organik mempunyai banyak kelebihan dan keuntungan.
Penggunaan pupuk organik membuat tanah menjadi gembur sehingga mudah terjadi
sirkulasi udara dan mudah ditembus perakaran tanaman. Untuk tanah
yang bertekstur pasiran bahan organik akan meningkatkan pengikatan antar
partikel tanah dan meningkatkan kemampuan mengikat air (Siregar, 2012).
Kesuburan tanah
selain berasal dari residu makhluk hidup atau yang bersifat alami, kesuburan
tanah juga dapat ditingkatkan dengan penambahan pupuk anorganik. Pupuk
anorganik yang banyak dibutuhakan oleh tanah dalam pertumbuh tanaman
antara lain adalah urea. Pupuk ini disebut juga sebagai pupuk N, karena
mengandung lebih banyak nitrogen. Urea ini berfungsi dalam perkembangan
vegetatif dari tanaman. Selain itu, kelebihan pupuk ini juga dapat membuat
tanaman menjadi hangus, terutama yang memiliki daun yang agak peka. Bahan
organik merupakan bahan penting dalam menciptakan kesuburan tanah, baik secara
fisika, kimia maupun dari segi biologi tanah. Bahan organik adalah bahan
pemantap agregat tanah, selain itu bahan organik adalah sumber energi dari
sebagian besar organisme tanah (Damayanti, 2006).
Nitrogen
merupakan salah satu unsure hara yang sangat diperlukan oleh tanaman danlam
jumlah yang banyak untuk proses fisiologis seperti fotosintesis, pembentukan
asam amino dan protein. Pemberian pupuk nitrogen dibrikan secara bertahap
karena nitrogen bersifat mudah tercuci dan terdenitrifikasi. Nitrogen merupakan
unsure hara essensial (keberadaannya mutlak ada untuk kelangsungan pertumbuhan
dan perkembangan tanaman) dan dibutuhkan dalam jumlah yang banyak sehingga
disebut unsure hara makro. Sebagian besar tanah untuk mencuci tanaman tersebut
perlu diberikan tambahan dalam bentuk pupuk. Tanaman yang cukup N maka tanaman
tersebut akan tumbuh dengan baik dan daun tanaman tersebut akan berwarna hijau.
Hilangnya N dalam tanah disebabkan oleh ; 1) digunakan tanaman dan
mikroorganisme, 2) N dalam bentuk NH4+ dapat diikat oleh mineral liat jenis
illit sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman, 3) N dalam bentuk NO3- mudah
tercuci oleh air hujan, dan 4) proses denitrifikasi, yaitu proses reduksi
nitrat menjadi N2 gas (Hardjo, 2005).
Waktu
dan Tempat
Praktikum
Silvikultur yang berjudul “Pemupukan dibawah Tegakan Damar (Agathis sp.)” dilaksanakan pada hari Jumat,
18 Mei 2018 pada pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai. Praktikum ini dilakukan
di Ruang 203, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera
Utara, Medan.
Alat
dan Bahan
Alat
yang digunakan dalam praktikum adalah cangkul,
tali plastik, pacak, dan sprayer. Bahan yang digunakan adalah bibit tanaman
agaths (Agathis sp.) dan pupuk NPK.
Prosedur
Praktikum
1. Disiapkan
alat dan bahan.
2. Dibuat
lubang tanam 30 cm x 30 cm pada tanah menggunakan cangkul.
3. Dimasukkan
bibit kedalam lubang tanam dengan memasukkan top soil terlebih dahulu kemudian
ditutup dengan sub soil.
4.
Dilakukan pemupukan untuk menambah unsur
hara pada komplek tanah.
5.
Diamati pertumbuhan bibit tersebut.
Hasil
Hasil dari Praktikum Silvikultur
yang berjudul “Pemupukan dibawah Tegakan Damar (Agathis sp.)” adalah sebagai
berikut.
gambar 1. Agathis sp. yang belum dilakukan pemupukan
gambar 2. Proses pemupukan di sekitar tanaman damar (Agathis sp.)
Pembahasan
Pada Praktikum
Silvikultur yang berjudul “Pemupukan dibawah Tegakan Damar (Agathis sp.)” diketahui bahwa berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa cara
melakukan pemupukan yang dilakukan disekitaran tanaman damar (Agathis spp) yang berada di sepanjang
jalan pintu 4 usu adalah dengan cara mencangkul rumputan atau gulma yang berada
disekitaran damar yang menghambat pertumbuhan dari tanaman damar tersebut hal
ini sesuai dengan pernyataan Sutejo (2002) yang menyatakan bahwa pemupukan adalah penambahan pupuk ke
dalam tanah agar tanah menjadi lebih subur. Pemupukan dalam arti luas adalah
penambahan bahan-bahan yang dapat memperbaiki sifat-sifat tanah. Contoh
penambahan pasir pada tanah liat, penambahan tanah mineral pada tanah organik,
pengapuran dan sebagainya. Dalam ilmu memupuk bertujuan untuk menyelidiki
tentang zat-zat apakah yang perlu diberikan kepada tanah sehubugan dengan
kekurangan zat-zat tersebut yang terkandung di dalam tanah yang perlu guna
pertumbuhan dan perkembangan tanaman dalam rangka produksinya agar tercapai
hasil yang timggi.
Pada
Praktikum Silvikultur yang berjudul “Pemupukan dibawah Tegakan Damar (Agathis sp.)” diketahui bahwa takaran pupuk yang digunakan untuk
memupuk satu jenis tanaman akan berbeda untuk masing-masing jenis tanah, hal
ini dapat dipahami karena setiap jenis tanah, memiliki karakteristik dan
susunan kimia tanah yang berbeda. Beberapa hal penting yang perlu dicermati
untuk mendapatkan efesiensi dalam pemupukan antara lain : jenis pupuk yang
digunakan, sifat dari pupuk tersebut, waktu pemupukan dan syarat pemberian
pupuk serta cara atau metode pemupukan. Dengan tingginya hasil tanaman yang
dipanen, berarti jumlah unsure hara yang diambil oleh tanaman dari dalam tanah
akan banyak pula karena pengambilan unsur hara dari dalam tanah berlangsung
secara pararel terhadap pembentukan bahan kering atau produksi tanaman.
Pada
Praktikum Silvikultur yang berjudul “Pemupukan dibawah Tegakan Damar (Agathis sp.)” diketahui bahwa Kesuburan
tanah selain berasal dari residu makhluk hidup atau yang bersifat alami,
kesuburan tanah juga dapat ditingkatkan dengan penambahan pupuk anorganik.
Pupuk anorganik yang banyak dibutuhakan oleh tanah dalam pertumbuh
tanaman antara lain adalah urea. Pupuk ini disebut juga sebagai pupuk N,
karena mengandung lebih banyak nitrogen. Urea ini berfungsi dalam perkembangan
vegetatif dari tanaman. Selain itu, kelebihan pupuk ini juga dapat membuat
tanaman menjadi hangus, terutama yang memiliki daun yang agak peka. Nitrogen
merupakan salah satu unsure hara yang sangat diperlukan oleh tanaman danlam
jumlah yang banyak untuk proses fisiologis seperti fotosintesis, pembentukan
asam amino dan protein.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Pemupukan
adalah penambahan pupuk ke dalam tanah agar tanah menjadi lebih subur.
Pemupukan dalam arti luas adalah penambahan bahan-bahan yang dapat memperbaiki
sifat-sifat tanah.
2. Pupuk adalah
zat yang ditambahkan pada tumbuhan agar berkembang dengan baik. Pupuk
dapat dibuat dari bahan organik ataupun non-organik.
3.
Pupuk organik merupakan hasil penguraian
bahan organik oleh jasad renik atau mikroorganisme yang berupa zat-zat makanan
yang dibutuhkan oleh tanaman.
4.
Takaran pupuk yang digunakan untuk
memupuk satu jenis tanaman akan berbeda untuk masing-masing jenis tanah, hal
ini dapat dipahami karena setiap jenis tanah, memiliki karakteristik dan
susunan kimia tanah yang berbeda.
5.
Hal penting yang perlu dicermati untuk
mendapatkan efesiensi dalam pemupukan antara lain : jenis pupuk yang digunakan,
sifat dari pupuk tersebut, waktu pemupukan dan syarat pemberian pupuk serta
cara atau metode pemupukan.
Saran
Sebaiknya dalam melakukan proses
pemupukan harus sesuai dengan prosedur pemupukan dan teknik pemupukan, dan
memperhatikan jarak tanam agar tidak terjadi persaingan
Cahyono. 2003. Peran Pupuk
Hayati Dalam Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Menunjang Keberlanjutan
Produktivitas Tanah. Jurnal Sumber Daya Lahan. 1 (4):148-156.
Damayanti, S. 2006. Penanaman dan Budidaya Tanaman Jagung.
Fakultas Pertanian. Universitas Jendral Soedirman. Purwokerto.
Hardjo, B. 2005. Dasar-dasar
agronomi. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Pairunan, D.
2007. Dasar- Dasar Bercocok Tanam.
Kanisus. Jakarta.
Setyo, A. 2009. Pertanian organik:
Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Jakarta.
Siahaan, P. 2005. Verifikasi
Metode Pengujian NH3 Pada Sampel Udara Ambient. Makassar : SMAK
Siregar, C. 2012. Sifat dan Ciri
Tanah. Departemen Tanah Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Sutejo, K. 2002. Pupuk dan
Cara Pemupukan. Jakarta: Rineka Cipta.
Suwandi. Mertiana, A. Yuliasti, K. 2000. Bercocok
Tanam Sayuran Dataran Rendah. Balai
Penelitian Hortikultura Lembang dan Proyek ATA 395. 3 (6): 1-3.
Tyas, Y. 2008. Rancangan Percobaan; Teori Dan
Aplikasi. Palembang: Fakultas Pertanian
UNSRI.
Winarto, T. 2010. Pengolahan Limbah Cair Pabrik Pupuk Urea Dengan
Menggunakan Proses Gabungan Nitrifikasi Dinitrifikasi Dan Microalgae. Online (www.cheundip.com). Diakses pada tanggal
17 April 2018.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hi Good People,