Latar Belakang
Air esensial bagi kehidupan. Hidup dan
kehidupan manusia, flora dan fauna, makroorganisme dan mikroorganisme sangat
tergantung pada air. Sehingga, secara alamiah, dapat dipahami bahwa tanpa air
tidak ada kehidupan, karena berbagai fungsi air bagi kehidupan tidak
tergantikan oleh benda lain. Air merupakan faktor penting untuk memfungsikan
secara tepat sebagian besar proses-proses tumbuh-tumbuhan dan tanah. Air
mempengaruhi hampir semua proses dalam tumbuhan, aktivitas metabolisme sel dan tumbuh-tumbuhan
berkaitan dengan kadar air. Untuk melangsungkan proses metabolik yang diperlukan
tanaman, air memerankan berbagai fungsi di dalam tanah. Sebagai pelarut dan
media transfer unsur hara, sumber hidrogen, pengatur suhu tanah dan aerasi
serta sebagai pengencer bahan beracun di dalam tanah. Selain itu, air berperan
dalam mempertahankan tekanan turgor sel dan suhu dalam tubuh tanaman
sehingga metabolisme dalam tanaman tidak terganggu (Onrizal, 2009).
Kekurangan
air akan menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan perkembangannya menjadi
abnormal. Kekurangan yang terjadi terus-menerus selama periode pertumbuhan akan menyebabkan tanaman tersebut menderita dan kemudian mati. Sedang tanda-tanda pertama yang
terlihat ialah layunya daun-daun. Peristiwa kelayuan ini disebabkan karena penyerapan air tidak dapat mengimbangi kecepatan penguapan air dari tanaman. Air merupakan komponen utama tubuh tanaman. Air yang diserap tanaman di
samping berfungsi sebagai komponen sel-selnya, juga berfungsi sebagai media
reaksi pada hampir seluruh proses metabolismenya yang apabila telah terpakai
diuapkan melalui mekanisme transpirasi, yang bersama-sama dengan penguapan dari
tanah sekitarnya (evaporasi) disebut evapotranspirasi. Kadar air tanah (water storage) merupakan selisih masukan
air (water gain) dari presipitasi
(meliputi hujan, salju, kabut) yang menginfiltrasi tanah ditambah hasil kondensasi
(oleh tanaman tanah) dan adsorpsi (oleh tanah) dikurangi air yang hilang (water loss) lewat evapotranspirasi,
aliran permukaan, perlokasi dan rembesan lateral (Kurniawan, 2014).
Air dalam tanaman berkisar antara 80-90 persen dari berat kering tanaman.
Persentase ini akan menjadi lebih besar lagi pada bagian-bagian tanaman yang
sedang aktif tumbuh. Penyerapan air (water
absorbtion) oleh akar ini sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yaitu
air yang tersedia dalam tanah, temperatur tanah, aerasi tanah dan konsentrasi
larutan tanah. Kekurangan air (water deficit) akan mengganggu keseimbangan
kimiawi dalam tanaman yang berakibat berkurangnya hasil fotosintesis atau semua
proses-proses fisiologis berjalan tidak normal. Apabila keadaan ini berjalan
terus, maka akibat yang terlihat, misalnya tanaman kerdil, layu, produksi
rendah, kualitas turun dan sebagainya. Pengaruh kekurangan air pada tanaman dapat
dijelaskan yaitu sejak bermulanya pembentukan daun, luas daun dan jumlahnya
maupun terhadap perkembangan luas sel-sel palisade pada daun-daun yang sedang
mulai berkembang tersusun atas 5 (lima) lembar per tanaman sampai dengan
periode pertumbuhan (Harwati, 2007).
Air merupakan komponen penting bagi berlangsungnya berbagai proses
fisiologi seperti serapan hara, fotosintesis dan reaksi biokimia sehingga penurunan absorbsi air
mengakibatkan hambatan pertumbuhan dan penurunan hasil. Periode masa kekeringan dapat terjadi pada setiap fase pertumbuhan, namun tanaman sangat sensitif terhadap cekaman kekeringan pada fase pembungaan sampai pengisian biji (Ciptaningtyas,
2013).
Air merupakan bagian yang terpenting
di dalam tanaman,
lebih kurang
80% dari tanaman merupakan air. Air
merupakan medium zat-zat lain yang diangkut dari satu sel ke sel lain di dalam tanaman. Tanaman
yang kekurangan air terlihat daunnya layu, apabila tanaman kemudian mendapat
air dan tanaman segar kembali, maka kondisi ini disebut layu sementara. Apabila
kekurangan air terus berlanjut maka
berikutnya akan terjadi layu permanen, tanaman akan mati walaupun diberi air
(Rahardjo, 2013).
Tujuan
Tujuan dari Praktikum Silvika yang berjudul
"Pengaruh Air Terhadap Pertumbuhan Tanaman" ini adalah untuk mengetahui respon
tanaman dalam berbagai kondisi cekaman air.
Peranan air dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, yaitu air merupakan
bahan penyusun utama dari pada protoplasma. Kandungan air yang tinggi aktivitas
fisiologis tinggi sedang kandungan air rendah aktivitas fisiologisnya rendah. Air
merupakan reagen dalam tubuh tanaman, yaitu pada proses fotosintesis. Air
merupakan pelarut substansi (bahan-bahan) pada berbagai hal dalam reaksi-reaksi
kimia. Air digunakan untuk memelihara tekanan turgor. Sebagai pendorong proses
respirasi, sehingga penyediaan tenaga meningkat dan tenaga ini digunakan untuk
pertumbuhan. Secara tidak langsung dapat memelihara suhu tanaman. Untuk mencukupi kebutuhannya, tanaman mengambil air dari tanah, tetapi tidak
semua air yang berada dalam tanah dapat digunakan oleh tanaman. Air tanah dapat
diklasifikasikan menjadi, yaitu air higroskopis, air kapiler dan air gravitasi.
Dari ketiga klasifikasi tersebut, air kapiler dan air gravitasi ini digunakan
oleh tanaman dalam kehidupannya pada batas tertentu saja. Batas tersebut adalah
batas atas sering disebut kapasitas lapang (field
capacity) dan batas bawah disebut persentase kelayuan tetap (Harwati, 2007).
Alasan mengapa air diperlukan untuk pertumbuhan pohon antara lain adalah
karena air merupakan komponen utama dan terbesar dari pohon, sebagai pelarut
dan medium untuk berbagai proses biokimia dalam pohon, sebagai pelarut dan
sebagai media transfer unsur hara, sebagai baku fotosistesis (bersama CO2),
dan reaksi biokimia lainnya dalam pohon, mempertahankan tekanan turgor
(turgiditas) sel, mengatur dan mempertahankan suhu di dalam pohon,sehingga
metabolisme pohon tidak terganggu akibat fluktuasi suhu lingkungan, mengatur
suhu tanah dan aerasi serta sebagai pengencer, bahan beracun di dalam tanah,
sehingga pohon tidak mengalami keracunan. Air sebagai pelarut dalam suatu
organisme sangat penting untuk proses metabolisme, misalnya proses osmosis
sangat bergantung pada bahan terlarut yang ada di dalam cairan sel. Struktur
molekul protein dan asam nukleat serta aktivitas biologis protoplasma sangat bergantung
pada molekul air. Molekul air secara aktif terlibat dalam reaksi kimia yang
menjadi dasar kehidupan, bersama dengan molekul CO2 air merupakan substrat bagi
fotosintesis (Onrizal, 2009).
Air membatasi pertumbuhan
tanaman, jika jumlahnya terlalu banyak akan sering menimbulkan genangan atau cekaman
aerasi, jika jumlahnya terlalu sedikit akan sering menimbulkan cekaman
kekeringan, diperlukan upaya pengaturan lengas tanah supaya kondisi air optimum
melalui pembuatan saluran drainase untuk mencegah terjadinya genangan, maupun
saluran irigasi untuk mencegah cekaman kekeringan. Pada tanaman legum, genangan
tidak hanya menghambat pertumbuhan akar maupun tajuk, juga menghambat
perkembangan dan fungsi bintil akar. Yang terganggu karena terhambatnya
aktifitas enzim nitrogenase dan pigmen leghaemoglobin, kemampuan fiksasi N2
akan menurun. Tanaman kedelai termasuk tanaman yang tahan genangan, mampu
membentuk akar adventif dan bintil akar pada akar tersebut, efek genangan akan
hilang begitu akar adventif terbentuk. Faktor yang mempengaruhi penurunan pertumbuhan
secara langsung bukan potensial
air, tetapi potensial osmotik atau tekanan turgor. Tekanan turgor sel tanaman
akan mempengaruhi aktivitas fisiologis antara lain pengembangan daun, bukaan
stomata, fotosintesis, dan pertumbuhan akar (Ariyanto, 2010).
Air adalah salah satu komponen fisik yang sangat penting dan diperlukan
dalam jumlah banyak untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sekitar 85-90 %
dari bobot segar sel-sel dan jaringan tanaman tinggi adalah air. Air berfungsi
sebagai pelarut hara, penyusun protoplasma, bahan baku fotosintesis dan lain
sebagainya. Kekurangan air pada jaringan tanaman dapat menurunkan turgor sel,
meningkatkan konsentrasi makro molekul serta mempengaruhi membran sel dan
potensi aktivitas kimia air dalam tanaman. Mengingat pentingnya peran air
tersebut, maka untuk tanaman yang mengalami kekurangan air dapat berakibat pada
terganggunya proses metabolisme tanaman yang pada akhirnya berpengaruh pada
laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Cekaman kekurangan air dapat
menghambat aktifitas fotosintesis dan distribusi asimilat ke dalam organ reproduktif.
Air sebagai penyusun protoplasma, lebih banyak berperan
untuk menjaga turgor sel agar sel dapat berfungsi secara normal.
Bila sel kekurangan air untuk waktu cukup lama, isi
sel akan terlepas dari dindingnya yang mengakibatkan rusaknya sel dan akhirnya
tanaman mati (Kurniawan, 2014).
Pengamatan kondisi lingkungan terdiri dari suhu dan kelembaban udara, kadar lengas tanah, kadar air tanaman, pertumbuhan tanaman, seperti jumlah daun,
luas daun, tinggi tanaman, bobot segar tanaman dan bobot kering tanaman. Daun
merupakan salah satu organ tanaman yang berperan dalam proses fotosintesis. Tanaman budidaya cenderung
menginvestasikan sebagian besar awal pertumbuhan mereka dalam bentuk penambahan
luas daun, yang berakibat pemanfaatan radiasi matahari yang efisien. Cekaman
kekeringan memberikan pengaruh terhadap parameter luas daun.
Pada kondisi cekaman
kekeringan, tanaman melakukan tekanan transpirasi dengan menekan pertumbuhan tajuk (mengurangi
luas daun). Komponen hasil diamati dengan menghitung bobot biji, bobot biji per tanaman, efisiensi penggunaan air, dan indeks panen. Efisiensi penggunaan air
dinyatakan dalam banyaknya hasil yang didapat per satuan air yang digunakan
dalam gram bahan kering per liter air. Efisiensi penggunaan air dikaitkan dengan
hasil panen dalam hubungannya dengan jumlah air yang digunakan untuk
memproduksi hasil panen (Ciptaningtyas, 2013).
Pada musim
kemarau, tumbuhan sering mendapatkan cekaman air (water stress) karena
kekurangan pasokan air di daerah perakaran dan laju evapotranspirasi yang
melebihi laju absorbsi air oleh tumbuhan. Sebaliknya pada musim penghujan,
tumbuhan sering mengalami kondisi jenuh air. Air seringkali membatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya.
Respon tumbuhan terhadap kekurangan air dapat dilihat pada aktivitas
metabolismenya, morfologinya, tingkat pertumbuhannya, atau produktivitasnya.
Pertumbuhan sel merupakan fungsi tanaman yang paling sensitif terhadap
kekurangan air. Kekurangan air akan mempengaruhi turgor sel sehingga akan mengurangi
pengembangan sel, sintesis protein, dan sintesis dinding sel. Pengaruh
kekurangan air selama tingkat vegetatif adalah berkembangnya daun-daun yang
ukurannya lebih kecil, yang dapat mengurangi penyerapan cahaya. Kekurangan air juga mengurangi sintesis klorofil dan mengurangi aktivitas beberapa enzim. Kekurangan air justru meningkatkan aktivitas
enzim-enzim hidrolisis. (Anggarwulan,
2005).
Pengaruh stres
air pada tanaman dapat menurunkan jumlah klorofil dan kadar prolin daun. Selain
berpengaruh terhadap penurunan jumlah klorofil daun, stress air dapat
meningkatkan rimpang tanaman. Pada tanaman yang
mendapat stress air dibentuklah prolin untuk mengatasi kekurangan air (Rahardjo, 2013).
METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum Silvika yang berjudul
“Pengaruh Air Terhadap Pertumbuhan Tanaman” dilaksanakan pada Senin, 27 Maret
2017 pukul 13.00 WIB. Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Manajemen
Hutan pada Program Studi
Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan di praktikum ini adalah mangkok
kecil, sprayer, penggaris, kertas
label, tally sheet pengamatan dan
alat tulis.
Bahan yang digunakan di praktikum ini adalah bibit semai
tanaman kehutanan, akasia (Acacia
auriculiformis), sengon (Paraserianthes
falcataria), saga (Adenanthera
pavonnina), polybag kecil, media tanam (top
soil) dan air.
Prosedur Kerja
1.
Diambil semai dan
ditanam dalam polybag menggunakan top
soil 100% sebanyak 12 semai dengan 3 kali ulangan dengan 4 variasi (tidak disiram,
disiram setiap hari, disiram 3 hari sekali, dan disiram 5 kali sehari).
2.
Dipelihara semai
sampai berumur 4 minggu.
3.
Diukur pertumbuhan
tinggi semai dan disiram sesuai variasinya.
4.
Diperlakukan bibit
sesuai variasinya
1.
Tidak disiram
2.
Disiram setiap hari
3.
Disiram 3 hari sekali
4.
Disiram 5 hari sekali
5.
Diamati pertumbuhan
tanaman setiap 1 minggu sekali dengan mencatat tinggi.
Hasil
Hasil
yang diperolehdariPraktikumSilvika yang berjudul “PengaruhAirTerhadapPertumbuhanTanaman” adalahsebagaiberikut :
Tabel
1. Data PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia(Acacia auriculiformis) denganperlakuanTop soil
100%
No
|
Spesies
|
Tinggiawal
(cm)
|
Minggu
Ke-1
(Tinggi)
|
Minggu
Ke-2
(Tinggi)
|
Minggu Ke-3
(Tinggi)
|
Minggu
Ke-4
(T/D)
|
1
|
Ulangan 1
|
3
|
1,5
|
2
|
4
|
5,5/0,05 cm
|
2
|
Ulangan 2
|
3
|
1,2
|
1,4
|
1,8
|
2/0,07 cm
|
3
|
Ulangan 3
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tabel2.
Data PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia(Acacia auriculiformis) denganperlakuansekam padi
100%
No
|
Spesies
|
Tinggiawal
(cm)
|
Minggu
Ke-1 (Tinggi)
|
Minggu Ke-2
(Tinggi)
|
Minggu Ke-3
(Tinggi)
|
Minggu
Ke-4
(T/D)
|
1
|
Ulangan 1
|
4,6
|
-
|
-
|
-
|
-
|
2
|
Ulangan 2
|
6
|
-
|
-
|
-
|
-
|
3
|
Ulangan 3
|
6,5
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Tabel3. Data
PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia(Acacia auriculiformis) denganperlakuanTop soil :
sekam padi (2:1)
No
|
Spesies
|
Tinggiawal
(cm)
|
Minggu
Ke-1 (Tinggi)
|
Minggu Ke-2
(Tinggi)
|
Minggu Ke-3
(Tinggi)
|
Minggu
Ke-4
(T/D)
|
1
|
Ulangan 1
|
4
|
2,5
|
3
|
3,7
|
-
|
2
|
Ulangan 2
|
3,2
|
4
|
5
|
5,8
|
6,4/0,045 cm
|
3
|
Ulangan 3
|
4
|
2,5
|
3
|
4
|
5/0,04 cm
|
Tabel4. Data
PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia(Acacia auriculiformis) denganperlakuanTop soil :
sekam padi (1:1)
No
|
Spesies
|
Tinggiawal
(cm)
|
Minggu
Ke-1 (Tinggi)
|
Minggu Ke-2
(Tinggi)
|
Minggu Ke-3
(Tinggi)
|
Minggu
Ke-4
(T/D)
|
1
|
Ulangan 1
|
2,3
|
1
|
1,2
|
1,5
|
2/0,08
|
2
|
Ulangan 2
|
3
|
2
|
3
|
4,5
|
-
|
3
|
Ulangan 3
|
3,5
|
1,7
|
2,2
|
2,5
|
-
|
Dari
data diatasdibuatsebuahgrafik
Grafik
1.PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia (Acacia auriculiformis) denganperlakuanTop soil
100%
Grafik
2.PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia (Acacia auriculiformis) denganperlakuansekam padi
100%
Grafik3.PengamatanHasilPertambahanTinggidan
Diameter BibitAkasia (Acacia auriculiformis)
denganperlakuanTop soil : sekam padi (2:1)
Grafik4.PengamatanHasilPertambahanTinggidan
Diameter BibitAkasia (Acacia auriculiformis)
denganperlakuanTop soil : sekam padi (1:1)
Pembahasan
Dari
hasilpengamatanpertumbuhansemaiakasia(Acacia auriculiformis)terhadappengaruhair, di dapatkanhasilpadaperlakuan tidak disiramdengantinggiawalpadaulangan
1 setinggi4,5 cm, ulangan 2 setinggi3,5 cm, ulangan 3 setinggi4 cm. Padaminggupertamabibitpadaulangan1tumbuh2,7 cm, bibit pada ulangan 2 tumbuh setinggi 1,7 cm, dan bibit
pada ulangan 3 tumbuh setinggu 2,2. Pada minggu kedua bibit pada ulangan 1
tumbuh 3 cm, ulangan 2 tumbuh 2 cm, dan ulangan 3 tumbuh setinggi 2,5 cm. Pada
minggu ketiga pada ulangan 1 tumbuh 3,5 cm, ulangan 2 tumbuh 3 cm, dan ulangan
3 tumbuh setinggi 3 cm. Pada minggu akhir, bibit pada ulangan 1 tidak tumbuh,
ulangan 2 tumbuh 3,5 cm dengan diameter sebesar 0,05 cm, dan ulangan 3 tidak
tumbuh.
Bibitakasiaada
yang tidaktumbuhdisebabkan oleh
faktor manusia dan alam, yang pada saat masa pengukuran, curah hujan sangat
tinggi. Sehingga walaupun bibit di letakkan di bawah nurseri, bibit juga tidak dapat menahan derasnya air hujan.Hal ini
sesuai dengan pernyataan (Ariyanto, 2010) yang menyatakan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati
baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan
untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan. Ini
didasarkan atas kenyataan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan
yang paling mudah dilihat.
Pada
perlakuan disiram 5 hari sekali pertumbuhansemaiakasia
(Acacia auriculiformis)
mendapatkan tinggi awal pada bibit ulangan pertama sebesar 3,7 cm, bibit
ulangan kedua 4,6 cm, dan bibit ulangan ketiga sebesar 5,8 cm. Padamiggupertamabibitpadaulangan 1tumbuh2 cm, bibit ulangan 2 tumbuh 1,8 cm, dan bibit ulangan 3
tumbuh 4 cm. Pada minggu kedua untuk bibit ulangan 1 tumbuh 2,5 cm, bibit
ulangan 2 tumbuh 2 cm, dan ulangan 3 tumbuh 4,5 cm. Di minggu ketiga untuk
bibit ulangan 1 tumbuh 4 cm, ulangan 2 tumbuh 2,2 cm, dan ulangan 3 bibit mati. Pada minggu terakhir, pada bibit ulangan pertama mengalami
kematian. Di ulangan 2 bibit tumbuh 2,5 cm dengan diameter sebesar 0,07 cm. Dan
ulangan 3 bibit mengalami kematian pula. Hal ini juga dikarenakan interval
penyiraman yang dilakukan hanya 5 hari sekali, sehingga tanaman mengalami fase
kekurangan air. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Harwati, 2007) yang
menyatakan bahwa kekurangan air (water deficit) akan mengganggu
keseimbangan kimiawidalam tanaman yang berakibat berkurangnya hasil fotosintesis
atau semua proses-prosesfisiologis berjalan tidak normal.
Pada pengamatanpertumbuhansemaiakasia(Acacia
auriculiformis)terhadappengaruhair, di dapatkanhasilpadaperlakuan disiram 3 hari sekalidengantinggiawalpadaulangan
1 setinggi5 cm, ulangan 2 setinggi4 cm, ulangan 3 setinggi4 cm. Padaminggupertamabibitpadaulangan 1 tumbuh
3,2 cm, ulangan 2 tumbuh 2,2 cm, dan ulangan 3 tumbuh setinggi 2,3 cm.
Pada minggu kedua di ulangan 1 bibit tumbuh 3,5 cm, ulangan 2 tumbuh 2,5 cm,
dan ulangan 3 tumbuh 2,5 cm. Pada minggu ketiga di ulangan 1 bibit tumbuh 4 cm,
ulangan 2 tumbuh 2,8 cm, dan ulangan 3 tumbuh setinggi 3 cm. Pada minggu
terakhir di ulangan 1 mengalami kematian, ulangan 2 tumbuh 3 cm dengan
diameternya 0,05 cm, dan ulangan 3 tumbuh 3,5 dengan diameter sebesar 0,09 cm.
Pada pengamatanpertumbuhansemaiakasia(Acacia
auriculiformis)terhadappengaruhair, di dapatkanhasilpadaperlakuan disiram setiap hari dengantinggiawalpadaulangan
1 setinggi4 cm, ulangan 2 setinggi2,3 cm, ulangan 3 setinggi3,7 cm. Padaminggupertamabibitpadaulangan 1 tumbuh setinggi 2,3 cm, pada ulangan 2 tumbuh setinggi
1,7 cm, ulangan 3 tumbuh 2,2 cm. Pada minggu kedua untuk bibit ulangan 1 tumbuh
3 cm, ulangan 2 tumbuh 2,5 cm, dan ulangan 3 tumbuh setinggi 2,7 cm. Pada
minggu ketiga untuk ulangan 1 tumbuh 3,5 cm, ulangan 2 dan 3 tumbuh setinggi 3
cm.Pada minggu akhir, pada bibit ulangan 1 tumbuh setinggi 4 cm dengan diameter
sebesar 0,05 cm, pada bibit ulangan 2 tumbuh setinggi 3,5 cm dengan diameter
0,09 cm, dan pada ulangan 3 tumbuh 4 cm dengan diameternya 0,05 cm. Hal ini
sesuai dengan pernyataan (Onrizal, 2009) yang mengatakan bahwa air mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung, hampir semua
proses dalam tumbuhan, aktivitas metabolisme sel dan tumbuh-tumbuhan berkaitan
dengan kadar air.
Dari
pengamatan yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa pertumbuhan bibit yang
paling tinggi terdapat pada perlakuan disiram setiap hari. Dan pertumbuhan
bibit akasia yang paling rendah terdapat pada perlakuan disiram5 hari sekali.Interval
penyiraman yang paling baikdilakukanadalahpenyiramansetiaphari karena air merupakan esensial bagi kehidupan dan fungsi
ait itu sendiri tidak tergantikan oleh benda lain, sehingga jika disiram setiap
hari, tanaman tidak akan mengalami kematian karena kekurangan air.
Kesimpulan
1.
Pertumbuhan bibit
akasia (Acacia auriculiformis) yang
paling tinggi terdapat pada perlakuan disiram setiap hari
2.
Pertumbuhan
diameter bibit akasia (Acacia
auriculiformis) didapat hasil yang paling besar yaitu dengan perlakuan disiram
3 hari sekali dan disirm setiap hari sebesar 0,09 cm.
3.
Pertumbuhan bibit
akasia (Acacia auriculiformis) yang
paling rendah terdapat pada perlakuan disiram 5 hari sekali.
4.
Pertumbuhan
diameter bibit akasia (Acacia
auriculiformis) didapat hasil yang paling kecil yaitu dengan perlakuan
tidakdisiram, disiram 3 hari sekali dan disirm setiap hari sebesar 0,05 cm.
5.
Interval penyiraman
yang paling baikdilakukanadalahpenyiramansetiaphari.
Saran
Sebaiknyadalam
melakukan penyiramanpadasemai, para praktikan harus rajin memperhatikan bibit semai dan melakukan penyiraman
sesuai dengan perlakuan-perlakuan yang sudah ditentukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hi Good People,