Latar Belakang
Perbanyakan tanaman banyak dilakukan dengan berbagai
cara, mulai dengan yang sederhana sampai yang rumit. Tingkat keberhasilannya
pun bervariasi dari tinggi sampai rendah, keberhasilan perbanyakan tanaman
tergantung pada beberapa faktor antara lain cara perbanyakan yang digunakan,
jenis tanaman, waktu memperbanyak, keterampilan pekerja dan sebagainya.
Perbanyakan tanaman bisa digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu
perbanyakan secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif sudah sangat
umum dijumpai, bahan yang digunakan adalah biji. Biji-biji ini biasanya sengaja disemaikan untuk dijadikan tanaman
baru, tapi bisa juga tanpa disengaja biji-biji yang dibuang begitu saja dan
oleh alam ditumbuhkan untuk menjadi tanaman baru. Tanaman baru dari biji meskipun telah
diketahui jenisnya kadang-kadang sifatnya menyimpang dari pohon induknya, dan
bahkan banyak tanaman yang tidak menghasilkan biji atau jumlah bijinya sedikit.
Untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang terdapat pada perbanyakan generatif
maka orang mulai memindahkan perhatiannya keperbanyakan vegetatif
(Suwandi, 2002).
Cara perbanyakan vegetatif dengan
stek, cangkok, sambung dan okulasi keuntungannya adalah lebih cepat berbuah, sifat
turunan sama dengan induk, sehingga keunggulan sifat induk dapat dipertahankan,
sifat-sifat yang diinginkan dapat digabung. Kelemahannya adalah perakaran
kurang baik, lebih sulit dikerjakan karena membutuhkan keahlian tertentu, jangka
waktu berbuah lebih pendek. Perbanyakan generatif dengan biji keuntungannya
adalah sistem perakaran lebih kuat, lebih mudah diperbanyak, jangka waktu berbuah
lebih panjang. Kelemahannya adalah waktu mulai berbuah lebih lama, sifat
turunan tidak sama dengan induk, sehingga keunggulan sifat induk tidak dapat
dipertahankan. Beberapa jenis tanaman memproduksi benih sedikit dan terkadang
sulit untuk berkecambah. Perbanyakan dengan cara stek adalah perbanyakan
tanaman dengan menumbuhkan potongan/bagian tanaman seperti akar, batang atau
pucuk sehingga menjadi tanaman baru. Stek pucuk umum dilakukan untuk
perbanyakan tanaman buah-buahan. Persyaratan stek adalah bahannya berupa cabang
yang sehat, tidak terlalu tua atau terlalu muda (Purnomosidhi dkk, 2007)
Pemahaman tentang
konsep perbanyakan tanaman secara vegetatif juga perlu didukung dengan
pengetahuan tentang teknik-teknik yang dapat digunakan dalam perbanyakan
tanaman secara vegetatif. Perbanyakan
tanaman secara vegetatif juga perlu pemahaman tentang pengetahuan aspek-aspek
pentingnya meliputi aspek anatomi, fisiologi, dan genetik. Aspek anatomi
perbanyakan tanaman secara vegetatif berkaitan dengan pengetahuan struktur
internal dari akar, batang, dan daun untuk memahami proses terbentuknya akar
adventif pada stek dan cangkok dan terbentuknya penyatuan sambungan pada
penyusuan, okulasi, dan sambungan. Aspek fisiologi perbanyakan tanaman secara
vegetatif yang perlu diketahui adalah peranan secara fisiologis berbagai hormon
tanaman dalam mempengaruhi proses pertumbuhan hasil perbanyakan tanaman. Aspek
genetik perbanyakan tanaman secara vegetatif berkaitan dengan keseragaman dan keragaman secara genetik tanaman yang diperbanyak
secara vegetatif. Ketiga aspek tersebut apabila dipahami dengan benar akan
menunjang keberhasilan dalam pelaksanaan perbanyakan tanaman secara vegetatif (Rahman dkk,
2012).
Keuntungan
penggunaan bibit vegetatif adalah bibit dapat diproduksi setiap tahun apabila
ada kebun pangkas, kualitas tanaman yang dihasilkan akan sama dengan tanaman
induknya, tidak memerlukan peralatan khusus, alat dan teknik yang tinggi
kecuali untuk produksi bibit dalam skala besar. Produksi bibit tidak tergantung
pada ketersediaan benih, bisa dibuat secara kontinyu dengan mudah sehingga
dapat diperoleh bibit dalam jumlah yang banyak meskipun akar yang dihasilkan
dengan cara vegetatif pada umumnya relatif dangkal, kurang beraturan, dan
melebar, namun lama-kelamaan akan berkembang dengan baik seperti tanaman dari
biji. Umumnya tanaman akan lebih cepat bereproduksi dibandingkan dengan tanaman
yang berasal dari biji. Pembibitan secara vegetatif sangat berguna untuk
program pemuliaan tanaman (Sumbayak, 2008).
Tujuan
Tujuan
dari praktikum yang berjudul “Perbanyakan Tanaman Dengan Stek” adalah untuk menghasilkan
produksi yang berkualitas tinggi dan mengetahui teknik perbanyakan secara
vegetatif.
TINJAUAN PUSTAKA
Bibit asal biji akan menghasilkan buah
yang beragam dan sering kali tidak bersifat unggul walaupun berasal dari pohon
induk yang unggul. Tanaman berproduksi lebih lambat, tumbuh lebih tinggi dan
besar sehingga membatasi populasi tanaman dalam satu areal kebun. Pengembangbiakan
tanaman dalam hal ini tidak lagi bisa dilakukan secara konvensional.
Pengembangbiakan dengan cara konvensional akan membutuhkan waktu yang lama dan
sifat dari tanaman baru yang dihasilkan akan berbeda dengan tanaman induk. Oleh
karena itu metode pengembangbiakan secara vegetatif
atau gabungan antara vegetatif untuk batang atas dan generatif untuk batang
bawah vegetatif menjadi jawaban. Pengembangbiakan vegetatif adalah
pengembangbiakan yang dilakukan secara tidak kawin yaitu menggunakan organ
vegetatif dari tanaman. Yang dapat dilakukan dengan
cara okulasi, sambung pucuk, dan susuan, yang bertujuan menggabungkan sifat-sifat
baik dari batang atas dan batang bawah. Namun,
tanaman tidak mempunyai akar tunggang sehingga mudah rebah. Untuk mendapatkan
bibit unggul, tanaman diperbanyak (Abdurahman, 2007).
Berdasarkan perkiraan, kemampuan penyediaan bibit
secara nasional hanya sekitar 45-65 juta batang/tahun, sehingga terjadi
kekurangan bibit selama lima tahun sekitar 95 juta batang. Teknik perbanyakan
secara vegetatif di Indonesia diperkenalkan pertama kali pada tahun 1918 oleh
van Halten dan kemudian oleh Bode, Tas, dan Maas pada tahun 1919. Perbanyakan
vegetatif yang dimaksud yaitu pembuatan setek, cangkokan, sambungan, dan
okulasi. Peran bibit dan klon
unggul dalam peningkatan produktivitas tanaman karet cukup tinggi, yaitu
sekitar 60%, selebihnya atau sekitar 40% dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan
pengelolaan kebun. Semakin baik mutu bibit dan klon yang digunakan, minimal 60%
potensi produksi dapat dicapai. Berbagai
upaya telah dilakukan untuk mengatasi kekurangan bibit di lapangan, yaitu
dengan mempercepat pengadaan bibit dalam jumlah banyak melalui teknik kultur
jaringan dan microcutting. Namun hingga saat ini, kedua teknik tersebut
belum mampu menyediakan bibit karet unggul sesuai yang dibutuhkan pasar (Boerhendhy, 2013).
Keuntungan
penggunaan teknik pembibitan secara vegetatif antara lain keturunan yang
didapat mempunyai sifat genetik yang sama dengan induknya, tidak memerlukan
peralataan khusus, alat dan teknik yang tinggi kecuali untuk produksi bibit
dalam skala besar, produksi bibit tidak tergantung pada ketersediaan
benih/musim buah, bisa dibuat secara kontinyu dengan mudah sehingga dapat
diperoleh bibit dalam jumlah yang cukup banyak, meskipun akar yang dihasilkan
dengan cara vegetatif pada umumnya relatif dangkal, kurang beraturan dan
melebar, namun lama kelamaan akan berkembang dengan baik seperti tanaman dari
biji, umumnya tanaman akan lebih cepat bereproduksi dibandingkan dengan tanaman
yang berasal dari biji. Pembibitan secara vegetatif sangat berguna untuk
program pemuliaan tanaman yaitu untuk pengembangan bank klon (konservasi
genetik), kebun benih klon, perbanyakan tanaman yang penting hasil persilangan
terkendali, misalnya hybrid atau steryl hybrid yang tidak dapat
bereproduksi secara seksual, dan perbanyakan masal tanaman terseleksi (Adinugraha,
2007).
Stek (cutting atau stuk) atau potongan adalah
menumbuhkan bagian atau potongan tanaman, sehingga menjadi tanaman baru. Ada
beberapa keuntungan yang didapat dari tanaman yang berasal dari bibit stek,
yaitu tanaman baru mempunyai sifat yang persis sama dengan induknya, terutama
dalam hal bentuk buah, ukuran, warna dan rasanya, tanaman asal stek juga dapat
ditanam pada tempat yang permukaan air tanahnya dangkal karena tanaman asal
stek tidak mempunyai akar tunggang, perbanyakan tanaman buah dengan stek
merupakan cara perbanyakan yang praktis dan mudah dilakukan, serta stek dapat
dikerjakan dengan cepat, murah, mudah dan tidak memerlukan teknik khusus
seperti pada cara cangkok dan okulasi.
Sedangkan potensi kerugian bibit
dari stek adalah perakaran dangkal karena tidak ada akar tunggang serta saat
terjadi angin kencang tanaman menjadi mudah roboh dan apabila musim kemarau
panjang tanaman menjadi tidak tahan kekeringan. Cara perbanyakan tanaman dengan
teknik stek dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu stek batang, stek akar dan
stek daun (Nurwardani, 2008).
Pemahaman tentang konsep
dan aspek perbanyakan tanaman secara vegetatif merupakan salah satu bagian yang
penting dalam kegiatan perbanyakan tanaman secara vegetatif. Pengetahuan
tentang konsep perbanyakan tanaman secara vegetatif sangat penting untuk
diketahui agar dapat dipahami pengertian perbanyakan tanaman secara vegetatif
dan membedakan pengelompokan dalam perbanyakan tanaman secara vegetatif. Selain
itu, juga perlu didukung pengetahuan tentang arti penting dari perbanyakan
tanaman secara vegetatif agar dapat dipahami perlunya dilakukan perbanyakan
tanaman secara vegetatif ditinjau dari aspek anatomi, fisiologi, dan genetik. Perbanyakan
tanaman secara vegetatif merupakan suatu cara-cara perbanyakan atau
perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti
batang, cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar, untuk menghasilkan tanaman
yang baru, yang sama dengan induknya. Prinsipnya adalah merangsang tunas
adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman
sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus (Rahman dkk, 2012).
Faktor yang
mempengaruhi perbanyakan stek diantaranya adalah bahan tanaman: asal bahan
tanaman dan umur tanaman, komposisi media perakaran, kondisi lingkungan
pertumbuhan, zat pengatur tumbuh dan teknik pelaksanaannya. Asal bahan stek
berpengaruh terhadap kemampuan berakar stek dan pertumbuhan biakannya. Bahan
stek yang masih juvenil (muda secara
fisiologis) memiliki kemampuan berakar yang lebih baik daripada biakan stek
yang telah tua. Syarat utama media pengakaran harus porus, drainase, aerasi
baik serta steril. Media pengakaran stek dapat menggunakan pasir, cocopeat dan
vermikulit. Pembiakan stek juga dapat digunakan dengan media air, yang dikenal
dengan sistem water rooting.
Pengakaran stek dilakukan pada ruangan (rumah tumbuh atau ruang pengakaran)
yang dapat menjaga kondisi lingkungan / iklim makro agar tetap optimal. Untuk
menstimulir pertumbuhan akar dan tunas, bagian pangkal stek diberi zat pengatur
tumbuh dari kelompok auksin dan yang banyak digunakan untuk pembuatan stek yang
dikenal dengan nama dagang Rootone-F
maupun Atonik (Danu, 2014).
Cara perbanyakan
vegetatif yang biasa dilakukan pada tanaman buah-buahan adalah dengan cara stek
(akar, cabang, dan tunas), cangkok, sambung dan okulasi. Contoh tanaman yang
dapat diperbanyak dengan cara stek adalah delima, jambu air, kedongdong (Purnomoshidi dkk, 2007).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hi Good People,