Jumat, 18 Januari 2019

Literatur Praktikum Silvika Judul Perbanyakan Tanaman dengan Stek dan Okulasi


PEN
Latar Belakang

            Perbanyakan tanaman banyak dilakukan dengan berbagai cara, mulai dengan yang sederhana sampai yang rumit. Tingkat keberhasilannya pun bervariasi dari tinggi sampai rendah, keberhasilan perbanyakan tanaman tergantung pada beberapa faktor antara lain cara perbanyakan yang digunakan, jenis tanaman, waktu memperbanyak, keterampilan pekerja dan sebagainya. Perbanyakan tanaman bisa digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu perbanyakan secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif sudah sangat umum dijumpai, bahan yang digunakan adalah biji. Biji-biji ini biasanya sengaja disemaikan untuk dijadikan tanaman baru, tapi bisa juga tanpa disengaja biji-biji yang dibuang begitu saja dan oleh alam ditumbuhkan untuk menjadi tanaman baru. Tanaman baru dari biji meskipun telah diketahui jenisnya kadang-kadang sifatnya menyimpang dari pohon induknya, dan bahkan banyak tanaman yang tidak menghasilkan biji atau jumlah bijinya sedikit. Untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang terdapat pada perbanyakan generatif maka orang mulai memindahkan perhatiannya keperbanyakan vegetatif (Suwandi, 2002).
            Cara perbanyakan vegetatif dengan stek, cangkok, sambung dan okulasi keuntungannya adalah lebih cepat berbuah, sifat turunan sama dengan induk, sehingga keunggulan sifat induk dapat dipertahankan, sifat-sifat yang diinginkan dapat digabung. Kelemahannya adalah perakaran kurang baik, lebih sulit dikerjakan karena membutuhkan keahlian tertentu, jangka waktu berbuah lebih pendek. Perbanyakan generatif dengan biji keuntungannya adalah sistem perakaran lebih kuat, lebih mudah diperbanyak, jangka waktu berbuah lebih panjang. Kelemahannya adalah waktu mulai berbuah lebih lama, sifat turunan tidak sama dengan induk, sehingga keunggulan sifat induk tidak dapat dipertahankan. Beberapa jenis tanaman memproduksi benih sedikit dan terkadang sulit untuk berkecambah. Perbanyakan dengan cara stek adalah perbanyakan tanaman dengan menumbuhkan potongan/bagian tanaman seperti akar, batang atau pucuk sehingga menjadi tanaman baru. Stek pucuk umum dilakukan untuk perbanyakan tanaman buah-buahan. Persyaratan stek adalah bahannya berupa cabang yang sehat, tidak terlalu tua atau terlalu muda (Purnomosidhi dkk, 2007)
Pemahaman tentang konsep perbanyakan tanaman secara vegetatif juga perlu didukung dengan pengetahuan tentang teknik-teknik yang dapat digunakan dalam perbanyakan tanaman secara vegetatif. Perbanyakan tanaman secara vegetatif juga perlu pemahaman tentang pengetahuan aspek-aspek pentingnya meliputi aspek anatomi, fisiologi, dan genetik. Aspek anatomi perbanyakan tanaman secara vegetatif berkaitan dengan pengetahuan struktur internal dari akar, batang, dan daun untuk memahami proses terbentuknya akar adventif pada stek dan cangkok dan terbentuknya penyatuan sambungan pada penyusuan, okulasi, dan sambungan. Aspek fisiologi perbanyakan tanaman secara vegetatif yang perlu diketahui adalah peranan secara fisiologis berbagai hormon tanaman dalam mempengaruhi proses pertumbuhan hasil perbanyakan tanaman. Aspek genetik perbanyakan tanaman secara vegetatif berkaitan dengan keseragaman dan keragaman secara genetik tanaman yang diperbanyak secara vegetatif. Ketiga aspek tersebut apabila dipahami dengan benar akan menunjang keberhasilan dalam pelaksanaan perbanyakan tanaman secara vegetatif (Rahman dkk, 2012).
          Keuntungan penggunaan bibit vegetatif adalah bibit dapat diproduksi setiap tahun apabila ada kebun pangkas, kualitas tanaman yang dihasilkan akan sama dengan tanaman induknya, tidak memerlukan peralatan khusus, alat dan teknik yang tinggi kecuali untuk produksi bibit dalam skala besar. Produksi bibit tidak tergantung pada ketersediaan benih, bisa dibuat secara kontinyu dengan mudah sehingga dapat diperoleh bibit dalam jumlah yang banyak meskipun akar yang dihasilkan dengan cara vegetatif pada umumnya relatif dangkal, kurang beraturan, dan melebar, namun lama-kelamaan akan berkembang dengan baik seperti tanaman dari biji. Umumnya tanaman akan lebih cepat bereproduksi dibandingkan dengan tanaman yang berasal dari biji. Pembibitan secara vegetatif sangat berguna untuk program pemuliaan tanaman (Sumbayak, 2008).
Tujuan
            Tujuan dari praktikum yang berjudul “Perbanyakan Tanaman Dengan Stek” adalah untuk menghasilkan produksi yang berkualitas tinggi dan mengetahui teknik perbanyakan secara vegetatif.
                                                      TINJAUAN PUSTAKA
Bibit asal biji akan menghasilkan buah yang beragam dan sering kali tidak bersifat unggul walaupun berasal dari pohon induk yang unggul. Tanaman berproduksi lebih lambat, tumbuh lebih tinggi dan besar sehingga membatasi populasi tanaman dalam satu areal kebun. Pengembangbiakan tanaman dalam hal ini tidak lagi bisa dilakukan secara konvensional. Pengembangbiakan dengan cara konvensional akan membutuhkan waktu yang lama dan sifat dari tanaman baru yang dihasilkan akan berbeda dengan tanaman induk. Oleh karena itu metode pengembangbiakan secara vegetatif atau gabungan antara vegetatif untuk batang atas dan generatif untuk batang bawah vegetatif menjadi jawaban. Pengembangbiakan vegetatif adalah pengembangbiakan yang dilakukan secara tidak kawin yaitu menggunakan organ vegetatif dari tanaman. Yang dapat dilakukan dengan cara okulasi, sambung pucuk, dan susuan, yang bertujuan menggabungkan sifat-sifat baik dari batang atas dan batang bawah. Namun, tanaman tidak mempunyai akar tunggang sehingga mudah rebah. Untuk mendapatkan bibit unggul, tanaman diperbanyak  (Abdurahman, 2007).
Berdasarkan perkiraan, kemampuan penyediaan bibit secara nasional hanya sekitar 45-65 juta batang/tahun, sehingga terjadi kekurangan bibit selama lima tahun sekitar 95 juta batang. Teknik perbanyakan secara vegetatif di Indonesia diperkenalkan pertama kali pada tahun 1918 oleh van Halten dan kemudian oleh Bode, Tas, dan Maas pada tahun 1919. Perbanyakan vegetatif yang dimaksud yaitu pembuatan setek, cangkokan, sambungan, dan okulasi. Peran bibit dan klon unggul dalam peningkatan produktivitas tanaman karet cukup tinggi, yaitu sekitar 60%, selebihnya atau sekitar 40% dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pengelolaan kebun. Semakin baik mutu bibit dan klon yang digunakan, minimal 60% potensi produksi dapat dicapai. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi kekurangan bibit di lapangan, yaitu dengan mempercepat pengadaan bibit dalam jumlah banyak melalui teknik kultur jaringan dan microcutting. Namun hingga saat ini, kedua teknik tersebut belum mampu menyediakan bibit karet unggul sesuai yang dibutuhkan pasar             (Boerhendhy, 2013).
Keuntungan penggunaan teknik pembibitan secara vegetatif antara lain keturunan yang didapat mempunyai sifat genetik yang sama dengan induknya, tidak memerlukan peralataan khusus, alat dan teknik yang tinggi kecuali untuk produksi bibit dalam skala besar, produksi bibit tidak tergantung pada ketersediaan benih/musim buah, bisa dibuat secara kontinyu dengan mudah sehingga dapat diperoleh bibit dalam jumlah yang cukup banyak, meskipun akar yang dihasilkan dengan cara vegetatif pada umumnya relatif dangkal, kurang beraturan dan melebar, namun lama kelamaan akan berkembang dengan baik seperti tanaman dari biji, umumnya tanaman akan lebih cepat bereproduksi dibandingkan dengan tanaman yang berasal dari biji. Pembibitan secara vegetatif sangat berguna untuk program pemuliaan tanaman yaitu untuk pengembangan bank klon (konservasi genetik), kebun benih klon, perbanyakan tanaman yang penting hasil persilangan terkendali, misalnya hybrid atau steryl hybrid yang tidak dapat bereproduksi secara seksual, dan perbanyakan masal tanaman terseleksi (Adinugraha, 2007).
Stek (cutting atau stuk) atau potongan adalah menumbuhkan bagian atau potongan tanaman, sehingga menjadi tanaman baru. Ada beberapa keuntungan yang didapat dari tanaman yang berasal dari bibit stek, yaitu tanaman baru mempunyai sifat yang persis sama dengan induknya, terutama dalam hal bentuk buah, ukuran, warna dan rasanya, tanaman asal stek juga dapat ditanam pada tempat yang permukaan air tanahnya dangkal karena tanaman asal stek tidak mempunyai akar tunggang, perbanyakan tanaman buah dengan stek merupakan cara perbanyakan yang praktis dan mudah dilakukan, serta stek dapat dikerjakan dengan cepat, murah, mudah dan tidak memerlukan teknik khusus seperti pada cara cangkok dan okulasi. Sedangkan potensi kerugian bibit dari stek adalah perakaran dangkal karena tidak ada akar tunggang serta saat terjadi angin kencang tanaman menjadi mudah roboh dan apabila musim kemarau panjang tanaman menjadi tidak tahan kekeringan. Cara perbanyakan tanaman dengan teknik stek dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu stek batang, stek akar dan stek daun (Nurwardani, 2008).
Pemahaman tentang konsep dan aspek perbanyakan tanaman secara vegetatif merupakan salah satu bagian yang penting dalam kegiatan perbanyakan tanaman secara vegetatif. Pengetahuan tentang konsep perbanyakan tanaman secara vegetatif sangat penting untuk diketahui agar dapat dipahami pengertian perbanyakan tanaman secara vegetatif dan membedakan pengelompokan dalam perbanyakan tanaman secara vegetatif. Selain itu, juga perlu didukung pengetahuan tentang arti penting dari perbanyakan tanaman secara vegetatif agar dapat dipahami perlunya dilakukan perbanyakan tanaman secara vegetatif ditinjau dari aspek anatomi, fisiologi, dan genetik. Perbanyakan tanaman secara vegetatif merupakan suatu cara-cara perbanyakan atau perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting, pucuk, daun, umbi dan akar, untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama dengan induknya. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada dibagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus (Rahman dkk, 2012).
Faktor yang mempengaruhi perbanyakan stek diantaranya adalah bahan tanaman: asal bahan tanaman dan umur tanaman, komposisi media perakaran, kondisi lingkungan pertumbuhan, zat pengatur tumbuh dan teknik pelaksanaannya. Asal bahan stek berpengaruh terhadap kemampuan berakar stek dan pertumbuhan biakannya. Bahan stek yang masih juvenil (muda secara fisiologis) memiliki kemampuan berakar yang lebih baik daripada biakan stek yang telah tua. Syarat utama media pengakaran harus porus, drainase, aerasi baik serta steril. Media pengakaran stek dapat menggunakan pasir, cocopeat dan vermikulit. Pembiakan stek juga dapat digunakan dengan media air, yang dikenal dengan sistem water rooting. Pengakaran stek dilakukan pada ruangan (rumah tumbuh atau ruang pengakaran) yang dapat menjaga kondisi lingkungan / iklim makro agar tetap optimal. Untuk menstimulir pertumbuhan akar dan tunas, bagian pangkal stek diberi zat pengatur tumbuh dari kelompok auksin dan yang banyak digunakan untuk pembuatan stek yang dikenal dengan nama dagang Rootone-F maupun Atonik (Danu, 2014).
Cara perbanyakan vegetatif yang biasa dilakukan pada tanaman buah-buahan adalah dengan cara stek (akar, cabang, dan tunas), cangkok, sambung dan okulasi. Contoh tanaman yang dapat diperbanyak dengan cara stek adalah delima, jambu air, kedongdong (Purnomoshidi dkk, 2007).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hi Good People,

LAPORAN PRAKTIKUM SILVIKULTUR JUDUL PEMUPUKAN

PENDAHULUAN Latar belakang Kesuburan tanah adalah potensi tanah untuk menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup, dalam bentuk...