DINAMIKA
POHON DALAM HUTAN
Perkembangan sistem di bawah tanah
khususnya sistem perakaran akan memberikan kontribusi pada dinamika sistem
agroforestri. Kepadatan pohon yang memberikan konsekuensi pada kepadatan
penutupan bidang olah oleh tajuk akan berbanding lurus dengan kepadatan
perakaran sehingga juga akan menjadi pembatas dalam maksimalisasi penyerapan
sumberdaya di bawah tanah oleh tanaman semusim. Dengan demikian dinamika
sumberdaya di atas tanah dan di bawah saling berhubungan erat. Salah satu
pendekatan untuk mengetahui dinamika sumberdaya baik di atas tanah maupun di
bawah tanah adalah respon tanaman semusim dalam menangkap dan memanfaatkan
sumberdaya yang diekspresikan dalam pertumbuhan tanaman semusim. Dinamika
didasarkan pada sistem zonasi dalam sistem agroforestri untuk mengetahui
kecenderungan sumberdaya.
Keuntungan penilaian
tegakan menggunakan persamaan regresi adalah lebih mudah, yaitu adanya
penggunaan peubah/variabel yang mudah diukur dan data peubah relatif mudah
diperoleh, tidak sangat btergantung pada data finansial (keuangan) yang relatif
terbatas. Kelemahannya karena tentunya mendapatkan nilai rata-rata dari
berbagai kondisi, tidak spesifik lokasi hutan yang dinilai. Pengembanganteknik
penilaian dengan menggunakan regresi ini belum dilakukan di Indonesia, karena
keterbatasan data yang menyangkut data urut waktu (time series). Dinamika
tegakan didasarkan pada prinsip-prinsip ekologis yang telah memberikan
kontribusi kepada sifat-sifat tegakan, seperti suksesi, persaingan,toleransi
dan konsep zona optimal. Faktor-faktor ini secara langsung mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan tegakan. Pengetahuan mengenaifaktor-faktor ini
dalam dinamika tegakan memungkinkan seseorang memprediksi cara vegetasi
berkembang dan karena itu merupakan dasar untuk perkembangan kaidah silvikultur
yang baik.
Pohon
dapat diklasifikasikan berdasarkan posisi tajuknya, antara lain dominan,
artinya pohon dengan tajuk yang lebar di atas lapisan. Kodominan, artinya pohon
dengan tajuk besar pada lapisan tajuk. Tengahan, artinya pohon dengan bagian
besar tajuk di bawah lapisan tajuk atau terjepit dan menerima sinar matahari
bagian atas dan bagian samping menerima sinar matahari yang sedikit atau tidak
sama sekali. Tertekan, artinya pohon dengan tajuk dinaungi pohon besar dan
tidak menerima sinar matahari sepenuhnya, baik dari atas maupun dari samping.
Setelah pohon individu mulai tumbuh
maka pohon tidak bisa bergerak untuk mencari ruang tumbuh yang lebih baik atau
melarikan diri dari pesaing. Dengan demikian pohon yang tumbuh bersama dalam
lingkungan tertentu harus bersaing satu sama lain untuk mengambil sumber daya
yang tersedia seperti air, unsur hara, dan cahaya. Pohon telah mengembangkan
beberapa model adaptasi untuk mengatasi keterbatasan lingkungannya dan untuk
hidup berdampingan dengan pohon-pohon lain di hutan. Adaptasi dari spesies yang
berbeda memungkinkan pohon, semak, dan spesies herba untuk hidup berdampingan
dalam strata vertikal hutan. Adaptasi pohon terhadap lingkungnya dapat berupa
adaptasi morfologi, fisiologi dan perilaku. Secara umum adaptasi pohon tampak
dari karakteristik dan bentuk pohon.
Salah
satu perangkat untuk membantu pendugaan massa tegakan dalam kegiatan
inventarisasi tegakan adalah tersedianya tabel volume pohon yang disusun
berdasarkan model pendugaan volume yang tepat dan akurat. Terdapat beberapa
metode/cara untuk menduga volume pohon berdiri, diantaranya adalah menggunakan
angka bentuk batang dan menggunakan model persamaan matematis. Pendugaan volume
pohon berdiri menggunakan angka bentuk batang cukup praktis namun sering
menghasilkan penyimpangan hasil dugaan yang cukup tinggi, sehingga cara kedua
yang banyak digunakan di dalam lapangan dalam menduga volume pohon berdiri
karena terbukti telah tepat dan akurat.Pada umumnya, hutan-hutan berbeda dalam
hal jumlah dan volume pohon per hektar serta luas bidang dasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hi Good People,