Latar
Belakang
Cahaya matahari mempunyai peranan
besar dalam proses fisiologi tanaman seperti fotosintesis, respirasi,
pertumbuhan dan menutup membukanya stomata, perkecambahan tanaman, sehingga
ketersediaan cahaya matahari menentukan tingkat produksi tanaman. Cahaya
matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan, tanpa adanya cahaya
matahari kehidupan tidak akan ada. Bagi pertumbuhan tanaman ternyata pengaruh
cahaya selain ditentukan oleh kualitasnya ternyata ditentukan intensitasnya.
Intensitas cahaya adalah banyaknya energi yang diterima oleh suatu tanaman per
satuan luas dan per satuan waktu (kal/cm2/hari). Dengan demikian pengertian
intensitas yang dimaksud sudah termasuk lama penyinaran, yaitu lama matahari
bersinar dalam satu hari. Pada dasarnya intensitas cahaya matahari akan berpengaruh nyata terhadap sifat morfologi tanaman. Hal
ini dikarenakan intensitas cahaya matahari dibutuhkan untuk berlangsungnya
penyatuan CO2 dan air untuk membentuk karbohidrat (Lukitasari, 2012).
Perbedaan tingkat naungan mempengaruhi intensitas
cahaya, suhu udara, dan kelembaban udara lingkungan tanaman, sehingga
intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman berbeda dan mempengaruhi
ketersediaan energi cahaya yang akan diubah menjadi energi panas dan energi
kimia. Apabila energi cahaya tidak dilepaskan kembali ke lingkungannya, energi
tersebut akan diubah menjadi energi panas dan akan menaikkan suhu daun
sedangkan energi cahaya diubah menjadi energi kimia yaitu melalui proses
fotosintesis dengan menghasilkan karbohidrat yang digunakan tanaman dalam
proses pertumbuhannya. Kelembaban udara yang terlalu rendah dan terlalu tinggi akan
menghambat pertumbuhan dan pembungaan tanaman. Kelembaban udara dapat
mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena dapat mempengaruhi proses fotosintesis.
Laju fotosintesis meningkat dengan meningkatnya kelembaban udara sekitar
tanaman. Iklim
mikro mempengaruhi transpirasi antara lain radiasi cahaya mempengaruhi
membukanya stomata, sehingga transpirasi berjalan lancar. Kenaikan suhu udara akan mempengaruhi
kelembaban (Pantilu, 2012).
Perbedaan tingkat naungan mempengaruhi intensitas cahaya, suhu
udara, kelembaban udara dan suhu tanah lingkungan tanaman, sehingga intensitas
cahaya yang diterima oleh tanaman berbeda dan mempengaruhi ketersediaan energi
cahaya yang akan diubah menjadi energi panas dan energi kimia. Semakin besar
tingkat naungan (semakin kecil intensitas cahaya yang diterima tanaman) maka
suhu udara rendah, kelembaban udara semakin tinggi. Kelembaban udara yang terlalu
rendah dan terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan dan pembungaan tanaman. Kelembaban udara dapat
mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena dapat mempengaruhi proses fotosintesis.
Laju fotosintesis meningkat dengan meningkatnya kelembaban udara sekitar
tanaman. Dengan intensitas cahaya yang
rendah, tanaman menghasilkan daun lebih besar, lebih tipis dengan lapisan
epidermis tipis, jaringan palisade sedikit, ruang antar sel lebih lebar dan
jumlah stomata lebih banyak. Sebaliknya pada tanaman yang menerima intensitas
cahaya tinggi menghasilkan daun yang lebih kecil, lebih tebal, lebih kompak
dengan jumlah stomata lebih sedikit, lapisan kutikula dan dinding sel lebih
tebal dengan ruang antar sel lebih kecil dan tekstur daun keras (Widiastuti,
2004).
Proses fotosintesis dan
metabolisme suatu tanaman dipengaruhi oleh faktor luar seperti sinar matahari,
tersedianya air, hara mineral dan kondisi tempat tumbuh. Intensitas cahaya
terlalu rendah atau terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan tinggi tanaman. Intensitas
cahaya yang terlalu rendah akan menghasilkan produk fotosintesis yang tidak
maksimal, sedangkan intensitas cahaya yang terlalu tinggi akan berpengaruh
terhadap aktivitas sel-sel stomata daun dalam mengurangi transpirasi sehingga
mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman. Naungan 40% memberikan pengaruh
yang nyata terhadap pertumbuhan bibit yang berumur 5 bulan yang menunjukkan
bahwa dalam pertumbuhannya, tanaman sangat memerlukan cahaya, sehingga ketika
mendapatkan cahaya yang cukup untuk aktivitas fisiologisnya (0-40%), tanaman
cenderung melakukan pertumbuhan ke samping (Kurniaty, 2009).
Tujuan
Tujuan dari Praktikum
Silvika yang berjudul "Pengaruh Cahaya Terhadap Pertumbuhan
Tanaman" ini adalah untuk mengetahui respon dan perubahan pada pertumbuhan tanaman
dalam berbagai kondisi cekaman cahaya.
TINJAUAN PUSTAKA
Cahaya merupakan
faktor esensial untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Cahaya berperan
penting dalam proses fisiologi tanaman, terutama fotosintesis, respirasi, dan
transpirasi. Unsur radiasi matahari yang penting bagi tanaman ialah intensitas
cahaya, kualitas cahaya, dan lamanya penyinaran. Bila intensitas cahaya yang
diterima rendah, maka jumlah cahaya yang diterima oleh satuan luas permukaan
daun dalam jangka waktu tertentu rendah. Pada kebanyakan tanaman, kemampuan
tanaman dalam mengatasi cekaman intensitas cahaya rendah tergantung kepada
kemampuannya melanjutkan fotosintesis dalam kondisi kekurangan cahaya, seperti
yang dilaporkan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Adaptasi tanaman terhadap intensitas cahaya rendah
melalui dua cara, yaitu peningkatan luas daun untuk mengurangi penggunaan
metabolit dan mengurangi jumlah cahaya yang ditransmisikan dan yang
direfleksikan. Pengurangan cahaya pada tanaman yang telah memperoleh cahaya,
suhu dan kelembaban yang optimum akan menyebabkan pengurangan pertumbuhan akar
dan tanaman menunjukkan gejala etiolasi (Pantilu,
2012).
Pemberian naungan pada berbagai stadia pertumbuhan berpengaruh
nyata terhadap jumlah bunga per tanaman, jumlah polong per tanaman, jumlah
polong berisi per tanaman, berat 100 biji, dan produksi biji kering pada
berbagai macam varietas tanaman kedelai. Pemberian naungan 20% memberikan hasil
yang lebih baik apabila diaplikasikan pada awal pengisian polong dibandingkan
dengan awal tanam atau awal berbunga. Pengaturan pertumbuhan tanaman dapat
pula dilakukan dengan zat penghambat pertumbuhan yang fungsinya menekan
pertumbuhan memanjang dari tunas sehingga membentuk percabangan yang pendek dan
kekar. Penghambat pertumbuhan
diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok yaitu fitohormon, penghambat alami lain
(termasuk derivat asam fenolat dan asam benzoat serta lakton) dan penghambat
pertumbuhan sintetik. Penghambat pertumbuhan biasanya digunakan untuk
memperpendek panjang ruas dan tinggi tanaman. Luas daun, penyerapan cahaya dan hasil panen umumnya
tidak berkurang karena aplikasi zat penghambat pertumbuhan (Widiastuti, 2004).
Berdasarkan ekologi terhadap
kemampuan penerimaan cahaya, secara garis besar tanaman dapat dibedakan menjadi
dua tipe, yaitu: Heliofit, tanaman yang tumbuh baik jika terkena cahaya
matahari penuh, dan Skiofit, tanaman yang tumbuh baik pada intensitas cahaya
yang rendah. Secara umum, terdapat dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
tanaman, yaitu faktor makro dan faktor mikro. Yang termasuk dalam faktor makro
adalah: cahaya matahari, suhu, kelembaban, awan, angin, serta pencemaran udara.
Sedangkan faktor mikro meliputi media tumbuh dan kandungan O2 dan CO2 yang ada
di udara. Tanaman yang mendapatkan cahaya matahari dengan intensitas yang
tinggi menyebabkan lilit batang tumbuh lebih cepat, susunan pembuluh kayu lebih
sempurna, internodia menjadi lebih pendek, daun lebih tebal tetapi ukurannya
lebih kecil dibanding dengan tanaman yang terlindung. Beberapa efek dari cahaya
matahari penuh yang melebihi kebutuhan optimum akan dapat menyebabkan layu,
fotosistesi lambat, laju respirasi meningkat tetapi kondisi tersebut cenderung
mempertinggi daya tahan tanaman.
Tanaman hijau
memanfaatkan cahaya matahari melalui proses fotosintesis (Lukitasari,
2012).
Proses transpirasi merupakan proses pelepasan
molekul air dari daun melalui stomata yang disebabkan oleh terjadinya pemanasan
permukaan daun oleh cahaya matahari. Sebagian dari energi cahaya matahari akan diserap
oleh tumbuhan untuk membantu reaksi terang pada proses fotosintesis. Namun
sebagian energi cahaya matahari jika tidak dilepaskan justru akan meningkatkan
suhu tumbuhan, terutama pada bagian daun yang berstruktur tipis. Hal ini akan
membahayakan bagi keberlangsungan proses metabolismenya bahkan merusak komponen
penyusunnya dan enzim yang relatif sensitif. Maka untuk menetralisis suhu yang
berlebihan, daun melakukan mekanisme pelepasan molekul air ke udara melalui
stomata. Energi cahaya matahari yang diterima daun sebagian akan dipakan untuk
meningkatkan energi kinetik molekul air, sehingga bisa lepas ke udara bersama
energi panas sedangkan air yang masih tertinggal masih relatif dingin. Pada intensitas cahaya yang
cukup tanaman cenderung memacu pertumbuhan diameternya sehingga tanaman yang
tumbuh pada tempat terbuka mempunyai tendensi untuk menjadi pendek dan kekar
(Onrizal, 2009).
Cahaya matahari mempunyai fungsi yang
sangat penting pada aktivitas fotosintesa, apabila terjadi penurunan aktivitas fotosintesa
maka akan terjadi perubahan karakteristik fisiologis dan morfologis tanaman, sehingga berdampak pada produktivitas tanaman. Karbon dioksida
merupakan bahan utama pada aktifitas fotosintesa. Apabila keberadaan CO2 di
udara berkurang maka akan mengurangi aktifitas fotosintesa, dan terjadilah
perubahan karakter fisiologis maupun morfologi tanaman yang dampaknya adalah
penurunan produktivitas tanaman. Intensitas
cahaya berpengaruh terhadap aktivitas pertumbuhan, perubahan morfologi dan
karakter fisiologis, aktivitas metabolisme metabolit primer dan sekunder. Konduktasi stomata
meningkat dengan meningkatnya intensitas cahaya, berkorelasi positif dengan
peningkatan laju fotosintesa, laju transpirasi, akumulasi biomas dan karbohidrat, yang mulai dari
intensitas cahaya 310 μmol m−2s−1 atau setara dengan 60% naungan, 460 μmol
m−2s−1 setara dengan 40% naungan, 630 μmol m−2s−1 setara dengan 20% naungan,
hingga mendapat penyinaran penuh (790 μmol m−2s−1) (Rahardjo, 2001).
Pengaruh cahaya akan berkaitan langsung
dengan lama penyinaran harian matahari (fotoperiodisitas). Hubungan antara
pengaruh cahaya dan perkecambahan biji dikontrol suatu system pigmen yang
dikenal sebagai fitokrom, yang tersusun dari chromophore dan
protein. Chromophore adalah bagian
yang peka terhadap cahaya. Fitokrom memiliki dua bentuk yang sifatnya reversible
(bolak-balik) yaitu fitokrom merah yang mengabsorbsi sinar merah dan fitokrom
infra merah yang mengabsorbsi sinar infra merah. Dalam keadaan tanpa cahaya,
dengan adanya oksigen dan suhu yang rendah, proses perubahan itu akan
berlangsung lambat. Pada keadaan di alam, cahaya merah mendominasi cahaya infra
merah sehingga pigmen fitokrom diubah ke bentuk fitokrom infra merah yang aktif
(Kusfebriani, 2010).
Matahari merupakan sumber energi utama
yang memberikan kehidupan di bumi. Akan tetapi, energi matahari tidak dapat
dimanfatkan secara langsung oleh semua organisme yang ada di bumi. Hanya
organisme autotrof yang dapat memenfaatkan cahaya matahari secara langsung
melalui proses fotosintesa yang dapat menghasilkan makanan bagi organisme
autotrof tersebut maupun organisme heterotrof yang memakan organisme autotrof (Kemdikbud, 2013).
Indriyanto. 2010. Pengantar Budi
Daya Hutan. Bumi Aksara. Jakarta.
Marsono, D. 1992. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Universitas Gadjah
Mada.
Yogyakarta.
Putri, I, R
. 2009. Pengaruh
Intensitas Cahaya Matahari Terhadap jenis Tanaman Shorea. Diakses dari repository.ipb.ac.id/bitstream/123456789/12885/2/E09irp.pdf.[24Mei 2015] [pukul 18.00 WIB].
Simarmata, E. 2011.
Hutan Mangrove. Diakses dari repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29411/4/Chapter%20II.pdf. [24
Mei 2015] [pukul 17.00 WIB].
Sitompul dan Guritno. 1995. Analisis pertumbuhan Tanaman. Gadjah mada
University Press. Yogyakarta.
Widiastuti, Tohera,
dan Sulistyaningsih. 2004.Pengaruh Intensitas Cahaya dankadar
Daminosida Terhadap Iklim Mikro dan Pertumbuhan Tanaman Krisan. Diakses dari repository.ipb.ac.id/bitstream/123456789/12885/2/no.4_krisan.pdf [24
Mei 2015] [pukul 18.30 WIB].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hi Good People,