Jumat, 18 Januari 2019

Laporan Praktikum Silvika Judul Pengunduhan Buah dan Pengenalan Biji


Latar Belakang
            Biji dapat diartikan sebagai suatu ovule atau bakal tanaman yang masak yang mengandung suatu tanaman mini atau embrio yang terbentuk dari bersatunya sel-sel generatif yaitu gamet jantan dan gamet betina di dalam kandung embrio, serta cadangan makanan yang mengelilingi embrio. Sedangkan benih adalah merupakan biji tumbuhan yang digunakan manusia untuk tujuan penanaman atau budidaya. Biji terdiri dari tiga bagian dasar yaitu embrio (epikotil/bakal pucuk, hipokotil/bakal akar, dan kotiledon/bakal daun), jaringan penyimpan cadangan makanan (karbohidrat, lemak, protein, dan mineral), dan pelindung biji (kulit biji, sisa nucleus, endosperm, dan kadang-kadang bagian dari buah) (Utomo, 2006).
            Perbenihan tanaman hutan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan sumberdaya geneti, pemuliaan tanaman hutan, pengadaan dan pengedaran benih dan bibit, dan sertifikasi. Benih tanaman hutan yang selanjutnya disebut benih adalah bahan tanaman berupa bahan generatif (biji) atau bahan vegetatif yang digunakan untuk mengembangbiakkan tanaman hutan. Bibit tanaman hutan yang selanjutnya disebut bibit adalah tumbuhan muda hasil pengembangbiakan secara generatif atau secara vegetatif. Sumber benih adalah suatu tegakan di dalam di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan yang dikelola guna memproduksi benih berkualitas (Permenhut, 2009).
            Mutu benih perlu diperhatikan sebab sangat menentukan keberhasilan usaha pertanaman yang dilakukan. Mutu benih menentukan jumlah benih yang harus disemaikan untuk memenuhi kebutuhan bibit ketika akan menanam, jumlah bibit yang tumbuh menjadi pohon yang normal setalah ditanam, dan jumlah pohon yang memiliki sifat yang diinginkan ketika akan dipanen. Sifat yang diinginkan antara lain: batang yang lurus, diameter besar, bebas cabang yang tinggi, percabangan ringan serta bebas dari serangan hama dan penyakit. Mutu benih tanaman hutan dikelompokan ke dalam 3 golongan yaitu: mutu fisik benih adalah mutu benih yang berkaitan dengan sifat fisik seperti ukuran, keutuhan, kondisi kulit, dan kerusakan kulit benih akibat serangan hama dan penyakit atau perlakuan mekanis, mutu fisiologis benih adalah mutu benih yang berkaitan dengan sifat fisiologis, misalnya kemampuan berkecambah, dan  mutu genetik benih adalah mutu benih yang berkaitan dengan sifat yang diturunkan dari pohon induknya (ICRAF, 2002).
Pengumpulan benih dari tanah hutan dibagi menjadi 2 teknik yaitu penggoyangan manual (menggunakan tangan, bantuan tali, pengait) dan penggoyangan mekanis (mesin). Teknik pengunduhan dengan menggunakan tangan dapat diterapkan pada tegakan yang rendah, atau memiliki cabang yang menjulur sampai ketanah sehingga mudah dilakukan pemanenan langsung dengan tangan atau dengan bantuan gunting atau gergaji. Teknik pengunduhan benih dengan galah dpat diterapkan apabila benih pada batang/cabang tidak dapat digapai dengan tangan. Teknik pengumpulan/pengunduhan buah/benih bisa juga dengan memanjat yang diperlukan keahlian khusus seorang pemanjat pohon. Pengunduhan dengan memanjat dapat dilakukan dengan cara langsung memanjat tanpa bantuan peralatan ataupun dengan bantuan peralatan tali. Pengunduhan buah dengan memanjat, si pemanjat harus dibekali pengetahuan tentang kriteria buah masak. Buah yang masak di pohon agak berbeda dengan yang sudah jatuh. Umumnya, buah yang masak di pohon beberapa belum menunjukkan perubahan warna yang signifikan (Kemdikbud, 2014).
Saga pohon berbuah sepanjang tahun, umumnya buah masak mulai bulan April hingga Agustus. Tanaman ini mulai berbuah pada umur lima tahun dan berbuah tiga kali setahun sampai umur 25-30 tahun. Proses pembungaan hingga polong buah tua diperlukan waktu kira-kira 3,5 sampai 4 bulan. Produksi biji kering per pohon per tahun antara 100 sampai 150 kilogram. Pengumpulan buah dapat dilakukan dengan cara memanjat atau mengunduh langsung dengan bantuan galah berkait. Buah yang sudah masak fisiologis berwarna coklat dan sebagian sudah merekah (Suita, 2013).
Tujuan
            Tujuan praktikum Silvika yang berjudul “Pengunduhan Buah dan Pengenalan Bagian Biji” ini adalah untuk memahami teknik-teknik pengunduhan buah dan ekstraksi benih agar dapat mengetahui cara pengunduhan buah dan mengenal bagian-bagian biji, asal terbentuknya, fungsinya dan bagaimana nanti proses perkecambahannya.



TINJAUAN PUSTAKA
Saga pohon (Adenanthera pavonina L.) merupakan tanaman serbaguna, semua bagian tanaman bermanfaat mulai dari biji, kayu, kulit batang dan daunnya. Saga pohon mampu memproduksi biji kaya protein serta tidak memerlukan lahan khusus untuk penanaman karena bisa tumbuh di lahan kritis, tidak perlu dipupuk atau perawatan intensif. Selain itu, hama dan gulmanya minim sehingga tidak memerlukan pestisida, jadi bersifat ramah lingkungan karena dapat ditanam bersama tumbuhan lainnya. Kandungan protein yang terdapat pada biji saga pohon tersebut juga lebih besar bila dibandingkan dengan kedelai dan beberapa tanaman komersil lainnya (Suita, 2013).
Jati putih (Gmelina arborea) merupakan salah satu tanaman cepat tumbuh (fast growing) yang banyak dibudidayakan di persemaian. Jati putih juga digunakan sebagai tanaman industri: Hutan Tanaman Industri (HTI), dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Untuk menghasilkan tanaman unggul, diperlukan teknik pemeliharaan tanaman berdasarkan kriteria mutu bibit. Dalam penelitian ini digunakan jati putih, merupakan tanaman penghasil kayu yang produktif dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Kayu jati putih biasanya digunakan sebagai bahan bangunan, bahan kertas, dan sebagai alternatif pengganti kayu sengon             (Arif dkk, 2016).
Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perlakuan awal pada benih yang ditujukan untuk mematahkan dormansi dan mempercepat terjadinya perkecambahan benih yang seragam. Skarifikasi (pelukaan kulit benih) adalah cara untuk memberikan kondisi benih yang impermeabel menjadi permeabel melalui penusukan; pembakaran, pemecahan, pengikiran, dan penggoresan dengan bantuan pisau, jarum, pemotong kuku, kertas,amplas, dan alat lainnya. Kulit benih yang permeabel memungkinkan air dan gas dapat masuk ke dalam benih sehingga proses imbibisi dapat terjadi. Benih yang diskarifikasi akan menghasilkan proses imbibisi yang semakin baik. Air dan gas akan lebih cepat masuk ke dalam benih karena kulit benih yang permeabel. Air yang masuk ke dalam benih menyebabkan proses metabolisme dalam benih berjalan lebih cepat akibatnya perkecambahan yang dihasilkan akan semakin baik          (Juhanda dkk, 2013).
Dalam  pengunduhan benih tanaman hutan dibutuhkan teknik-teknik tertentu karena kegiatan pengunduhan/pemanenan buah/benih tidak kalah pentingnya dengan pemilihan sumber benih, karena bila pengunduhan benih dilakukan dengan tidak benar maka akan diperoleh benih bermutu rendah. Semua usaha yang dilakukan untuk mencari sumber benih yang baik akan percuma bila pengunduhan benih tidak dilakukan dengan cara yang benar. Berikut ini teknis pelaksanaan pengunduhan benih (pemanenan dan pengumpulan benih) tanaman hutan menurut Ari Hidayanto, 2010 sebagai berikut yaitu teknik pengumpulan benih dari lantai hutan / tanah. Pengumpulan benih dari lantai hutan yang jatuh secara alami diyakini paling mudah, murah dan tidak membutuhkan tenaga kerja ahli. Akan tetapi teknik ini juga memiliki keterbatasan. Teknik pengunduhan/ pengumpulan benih dari lantai hutan dapat dilakukan jika jenis benih memiliki karakteristik sebagai berikut: ukuran benih sedang-besar, buah tidak memecah/menyebar, benih tidak mudah dimangsa, benih tidak mudah berkecambah, dan benih tidak mudah rusak/ kehilangan viabilitas       (Kemdikbud, 2014).
Secara umum biji terdiri atas tiga bagian yaitu: kulit biji (seed coat/testa), jaringan penyimpan cadangan makanan, dan embrio. Apabila biji digambarkan sebagai sebuah bola, maka di bagian luar dibatasi oleh struktur pembungkus atau lapisan pelindung. Kulit biji berkembang dari integument atau perpaduan dari kulit buah (dinding ovary) atau pericarp dengan kulit biji. Kulit biji tersebut sudah menyatu dalam perkembangannya dengan buah. Atau dapat pula terdiri dari pericarp dan kulit biji yang sesungguhnya bersatu dengan tangkai ovule. Kulit biji mempunyai fungsi sebagai pelindung, pengatur, dan pembatas. Yaitu untuk memegang bagian dalam biji, melindungi bagian luar dari benturan dan gesekan, mengatur kondisi suci hama (steril) di dalam biji dan menghambat masuknya jasad renik, mengatur kecepatan penyerapan air komponen bagian dalam, mengatur kecepatan masuknya oksigen, karbondioksida, dan gas lain yang dibutuhkan untuk metabolisme mengatur perkecambahan dengan menyebabkan dormansi biji. Pada biji ada beberapa struktur yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan makanan, yaitu kotiledon, endosperm, perisperm, dan gametofit betina yang haploid (Mulawarman dkk, 2002).
Biji-biji yang memiliki kotiledon ini pada waktu matang hanya mempunyai: kotiledon, embrio, dan kulit biji. Dan akan berkecambah relatif lebih cepat, karena proses pencernaan sudah terjadi lebih dahulu. Endosperm diserap oleh embrio sebelum dan atau selama proses perkecambahan biji. Biji-biji tipe ini akan berkecambah relatif lebih lambat, karena proses penyerapan air dan pencernaan tidak akan terjadi atau baru dimulai sewaktu biji tersebut dikecambahkan. Pada umumnya endosperm merupakan hasil pembelahan sel endosperm primer secara mitosis berkali-kali, dan berfungsi memberi makan embrio yang sedang berkembang. Tidak semua golongan tumbuhan mempunyai endosperm. Tumbuhan yang tidak mempunyai endosperm adalah suku Orchidaceae, Podostemaceae dan Trapaceae. Sel-sel endosperm biasanya berbentuk isodiametris, di dalamnya terdapat butir-butir amilum, lemak, protein, atau butir-butir aleuron. Di perisperm sewaktu ovule sedang tumbuh, embrio juga tumbuh, nucellus tidak habis dipakai untuk pertumbuhan tersebut malah adakalanya berkembang, sehingga terbentuk suatu jaringan yang disebut perisperm dan masih terdapat pada biji di waktu matang. Pada gametofit betina yang haploid, cadangan makanan yang tersimpan dalam biji umumnya terdiri dari: karbohidrat, lemak, protein dan mineral. Komposisi dan persentasenya berbeda-beda tergantung pada jenis biji (Ningsih, 2016).
Embrio adalah tanaman baru yang terbentuk dari bersatunya gamet jantan dan gamet betina pada suatu proses pembuahan. Embrio yang sempurna akan terdiri dari: bakal pucuk, bakal akar, dan bakal daun. Embrio yang terdapat dalam biji terbentuk melalui enam fase yaitu fase pembentukan benang sari dan putik di dalam kuncup bunga, fase mekarnya bunga yang merupakan tanda bahwa organ ini telah siap, fase persarian yakni perpindahan serbuk sari dari benang sari ke kepala putik, fase perkecambahan serbuk sari dan perkecambahan tabung sari, pembuahan sel telur dan inti kutub oleh inti sperma ari tabung sari, fase pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi dan proses pembagian diri menjadi embrio dan kulit pelindung, dan fase pemasakan biji bersamaan dengan pengumpulan cadangan makanan (Utomo, 2006).



METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
          Praktikum Silvika yang berjudul “Pengunduhan Buah dan Pengenalan Biji” dilaksanakan pada Senin, 06 Maret 2017 pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Ekologi Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Alat dan Bahan
          Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain pinset, penghapus, pensil berwarna, penggaris, pisau (cutter), dan sarung tangan. Bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain buku pengamatan, buah jati putih        (Gmelina arborea), biji saga (Adenanthera pavonnina), air, kertas A4, dan kantong plastik.
Prosedur Praktikum
A.      Pengunduhan Buah
1. Dicarilah buah dari famili fabaceae (Acacia auriculiformis atau   Paraserianthes falcataria).
2. Dijemurlah buah-buah tersebut pada terik sinar matahari.
3. Setelah kulitnya kering, dipukul dengan tongkat kayu bulat kecil sampai bijinya keluar.
4. Dipilihlah biji-biji tersebut.
5. Digambarlah biji yang masih utuh, disebutkan warna dan ukurannya (panjang, lebar, serta tebalnya).
B.  Pengenalan Bagian Biji
1.      Dicarilah buah yang berdaging seperti jati putih (Gmelina arborea)       (suku Verbenaceae).
2.    Direndamlah dalam air beberapa hari.
3.    Dikupaslah daging buah dengan menggunakan pisau ataupun alat lain.
4.    Dibersihkan biji-biji tersebut dari daging dan selaput yang lain.
5.    Digambarlah biji yang masih utuh, disebutkan warna dan ukurannya (panjang, lebar, serta tebalnya).
6.    Dibelahlah biji secara membujur sehingga mengenai bagian tengah embrio kemudian digambar dan disebutkan juga bagian-bagiannya, warnanya, serta perbedaan yang nampak antara biji yang sudah direndaam dan yang masih segar.
                                              HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil dari Praktikum Silvika yang berjudul “Pengunduhan Buah dan Pengenalan Biji” adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Data Pengunduhan Buah
Kelompok
Nama Jenis
Jumlah
1
Sengon (Paraserianthes falcataria)
410
2
Saga (Adenanthera pavonnina)
401
3
Akasia (Acacia auriculiformis)
282
4
Sengon (Paraserianthes falcataria)
251
5
Saga (Adenanthera pavonnina)
299
6
Akasia (Acacia auriculiformis)
250
Total

1.902
Pembahasan
Dari hasil Praktikum Silvika yang berjudul “Pengunduhan Buah dan Pengenalan Biji” dihasilkan data seperti pada tabel 1 bahwa biji sengon (Paraserianthes falcataria), saga (Adenanthera pavonnina), dan akasia      (Acacia auriculiformis) berjumlah 1.902. Pada hasil pengunduhan buah sengon (Paraserianthes falcataria) yang dilakukan oleh kelompok 1 dan kelompok 4 didapati perbedaan jumlah biji yang disebabkan oleh faktor lokasi pengunduhan biji yang sama namun dengan waktu yang berbeda, dimana kelompok 1 mendapatkan 410 biji sedangkan kelompok 4 mendapatkan 251 biji. Kelompok 2 dan kelompok 5 mengunduh biji dari saga (Adenanthera pavonnina) dengan jumlah biji pada kelompok 2 sebanyak 410 dan kelompok 5 sebanyak 299 biji. Perbedaan hasil didapat karena perbedaan teknik pengunduhan yang dilakukan, dimana kelompok 2 dengan metode pengunduhan langsung pada lantai hutan dan penggoyangan ranting pohon sedangkan kelompok 5 hanya menggunakan metode pengumpulan di lantai hutan saja. Pada pengunduhan biji akasia                   (Acacia auriculiformis) yang dilakukan oleh kelompok 3 dan kelompok 6 tidak terdapat perbedaan yang signifikan dimana kelompok 3 sebanyak 282 biji dan kelompok 6 sebanyak 250 biji. Hal ini disebabkan karena pengunduhan yang dilakukan dilaksanakan pada tempat dan waktu yang bersamaan. Jumlah total biji sengon (Paraserianthes falcataria), saga (Adenanthera pavonnina), dan akasia (Acacia auriculiformis) masing-masingnya adalah 661, 700, dan 532 biji. Dari jumlah tersebut dapat menunjukkan bahwa pengunduhan buah yang paling mudah dilakukan adalah mengunduh buah saga, lalu akasia, dan kemudian biji sengon.
Kami memakai teknik pengunduhan dibawah tegakan dikarenakan pohon yang kami unduh buahnya mencapai tinggi hampir 14 meter sehingga tidak mudah untuk kami gapai secara langsung. Hal ini sesuai dengan pernyataan Krisnawati (2011) yang menyatakan bahwa, pohon sengon umumnya berukuran cukup besar dengan tinggi pohon total mencapai 40 m dan tinggi bebas cabang mencapai 20 m. Diameter pohon dewasa dapat mencapai 100 cm atau kadang-kadang lebih.
Biji terdiri dari beberapa bagian, bagian biji yang pertama ialah kulit biji spermodermis berasal dari selaput bakal biji atau integumentum. Bagian kedua ialah tali pusar funiculus. Dan bagian ketiga ialah inti biji atau nucleus seminis yang terdiri dari lembaga, calon akar, daun lembaga, batang lembaga, putih lembaga. Bagian biji pada akasia ialah biji dan tali pusar. Bagian-bagian buah pada jati putih adalah daging buah dan biji. Ketika biji buah jati putih dibelah, didalam biji terdapat bakal tumbuh dan daging biji.
Untuk mendapatkan benih yang berkualitas hendaklah kita harus selektif dalam memilih tegakan dan cara pengambilannya yang tepat. Pada saat melakukan pengunduhan buah jati kelompok kami melakukan pemilihan buah jati yang sudah jatuh ke lantai hutan pengumpulan buah jati (Gmelina arborea) lebih baik dilakukan ketika masih hijau atau kuning.
Pada buah pohon jati putih (Gmelina arborea) dibagi menjadi dua kondisi yang berbeda, yaitu antara diberi perlakuan dengan tidak diberi perlakuan sama sekali. Perlakuan yang diberikan pada buah jati putih adalah dengan merendam buah selama 24 jam. Buah yang direndam memiliki warna yang lebih pekat yaitu kuning kecoklatan daripada buah yang tidak direndam yang masih berwarna hijau segar. Dengan merendam biji kita dapat menentukan mana biji yang layak dijadikan benih dan mana biji yang tidak layak. Biji yang layak pakai memiliki karakteristik seperti benih bersih dari kotoran, benih berisi, benih memiliki warna yang cerah, benih memiliki ukuran yang normal atau sesuai rata-rata, benih dapat tenggelam jika di rendam di dalam air untu menghindari kemungkinan tumbuh yang kecil.
                                 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.    Teknik pengunduhan buah antara lain dengan cara pemanjatan, mengambil dengan galah atau tali, mengumpulkan langsung dari bawah tegakan, dan penggoyangan.
2.    Pengunduhan buah yang paling banyak diunduh adalah saga (Adenanthera pavonnina) sebanyak 709 buah. Sedangkan pengunduhan buah yang paling sedikit adalah akasia (Acacia auriculiformis) sebanyak 532 buah.
3.    Bagian dari buah jati putih (Gmelina arborea) yang buahnya direndam memiliki warna yang lebih pekat yaitu kuning kecoklatan daripada buah yang tidak direndam yang masih berwarna hijau daun.
4.    Biji yang layak pakai adalah memiliki karakteristik seperti benih bersih dari kotoran, benih berisi, benih memiliki warna yang cerah, dan benih memiliki ukuran yang normal atau rata-rata.
5.    Pada biji akasia bagian-bagian biji berupa tali pusar dan biji. Bagian-bagian pada buah jati putih ialah daging buah dan biji. Didalam biji terdapat daging biji dan bakal tumbuh.
Saran
Sebaiknya para praktikan harus benar-benar tepat waktu dalam merendam buah Jati Putih (Gmelina arborea), agar terlihat perbedaan yang sesungguhnya antara buah yang diberi perlakuan dengan yang tidak diberi perlakuan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hi Good People,

LAPORAN PRAKTIKUM SILVIKULTUR JUDUL PEMUPUKAN

PENDAHULUAN Latar belakang Kesuburan tanah adalah potensi tanah untuk menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup, dalam bentuk...