Latar Belakang
Biji dapat diartikan sebagai suatu ovule atau bakal
tanaman yang masak yang mengandung suatu tanaman mini atau embrio yang
terbentuk dari bersatunya sel-sel generatif yaitu gamet jantan dan gamet betina
di dalam kandung embrio, serta cadangan makanan yang mengelilingi embrio.
Sedangkan benih adalah merupakan biji tumbuhan yang digunakan manusia untuk
tujuan penanaman atau budidaya. Biji terdiri dari tiga bagian dasar yaitu
embrio (epikotil/bakal pucuk, hipokotil/bakal akar, dan kotiledon/bakal daun),
jaringan penyimpan cadangan makanan (karbohidrat, lemak, protein, dan mineral),
dan pelindung biji (kulit biji, sisa nucleus, endosperm, dan kadang-kadang
bagian dari buah) (Utomo, 2006).
Perbenihan tanaman hutan adalah segala sesuatu yang
berkaitan dengan pembangunan sumberdaya geneti, pemuliaan tanaman hutan,
pengadaan dan pengedaran benih dan bibit, dan sertifikasi. Benih tanaman hutan yang
selanjutnya disebut benih adalah
bahan tanaman berupa bahan generatif (biji) atau bahan vegetatif yang digunakan
untuk mengembangbiakkan tanaman hutan. Bibit
tanaman hutan yang selanjutnya disebut bibit adalah tumbuhan muda hasil pengembangbiakan secara
generatif atau secara vegetatif. Sumber
benih adalah suatu tegakan di dalam di dalam kawasan hutan dan di
luar kawasan hutan yang dikelola guna memproduksi benih berkualitas (Permenhut,
2009).
Mutu
benih perlu diperhatikan sebab sangat menentukan keberhasilan usaha pertanaman yang
dilakukan. Mutu benih menentukan jumlah benih yang harus disemaikan untuk
memenuhi kebutuhan bibit ketika akan menanam, jumlah bibit yang tumbuh menjadi
pohon yang normal setalah ditanam, dan jumlah pohon yang memiliki sifat yang
diinginkan ketika akan dipanen. Sifat yang diinginkan antara lain: batang yang
lurus, diameter besar, bebas cabang yang tinggi, percabangan ringan serta bebas
dari serangan hama dan penyakit. Mutu benih tanaman hutan dikelompokan ke dalam
3 golongan yaitu: mutu fisik benih
adalah mutu benih yang berkaitan dengan sifat fisik seperti ukuran, keutuhan,
kondisi kulit, dan kerusakan kulit benih akibat serangan hama dan penyakit atau
perlakuan mekanis, mutu fisiologis
benih adalah mutu benih yang berkaitan dengan sifat fisiologis, misalnya
kemampuan berkecambah, dan mutu genetik benih adalah mutu benih
yang berkaitan dengan sifat yang diturunkan dari pohon induknya (ICRAF, 2002).
Pengumpulan benih dari tanah
hutan dibagi menjadi 2 teknik yaitu penggoyangan manual (menggunakan tangan,
bantuan tali, pengait) dan penggoyangan mekanis (mesin). Teknik pengunduhan
dengan menggunakan tangan dapat diterapkan pada tegakan yang rendah, atau
memiliki cabang yang menjulur sampai ketanah sehingga mudah dilakukan pemanenan
langsung dengan tangan atau dengan bantuan gunting atau gergaji. Teknik
pengunduhan benih dengan galah dpat diterapkan apabila benih pada batang/cabang
tidak dapat digapai dengan tangan. Teknik pengumpulan/pengunduhan buah/benih bisa
juga dengan memanjat yang diperlukan keahlian khusus seorang pemanjat pohon.
Pengunduhan dengan memanjat dapat dilakukan dengan cara langsung memanjat tanpa
bantuan peralatan ataupun dengan bantuan peralatan tali. Pengunduhan buah
dengan memanjat, si pemanjat harus dibekali pengetahuan tentang kriteria buah
masak. Buah yang masak di pohon agak berbeda dengan yang sudah jatuh. Umumnya,
buah yang masak di pohon beberapa belum menunjukkan perubahan warna yang
signifikan (Kemdikbud, 2014).
Saga pohon berbuah sepanjang tahun, umumnya buah
masak mulai bulan April hingga Agustus. Tanaman ini mulai berbuah pada umur
lima tahun dan berbuah tiga kali setahun sampai umur 25-30 tahun. Proses
pembungaan hingga polong buah tua diperlukan waktu kira-kira 3,5 sampai 4
bulan. Produksi biji kering per pohon per tahun antara 100 sampai 150 kilogram.
Pengumpulan buah dapat dilakukan dengan cara memanjat atau mengunduh langsung
dengan bantuan galah berkait. Buah yang sudah masak fisiologis berwarna coklat
dan sebagian sudah merekah (Suita, 2013).
Tujuan
Tujuan
praktikum Silvika yang berjudul “Pengunduhan Buah dan Pengenalan Bagian Biji”
ini adalah untuk memahami teknik-teknik pengunduhan buah dan ekstraksi benih
agar dapat mengetahui cara pengunduhan buah dan mengenal bagian-bagian biji,
asal terbentuknya, fungsinya dan bagaimana nanti proses perkecambahannya.
TINJAUAN PUSTAKA
Saga pohon (Adenanthera pavonina L.)
merupakan tanaman serbaguna, semua bagian tanaman bermanfaat mulai dari biji,
kayu, kulit batang dan daunnya. Saga pohon mampu memproduksi biji kaya protein
serta tidak memerlukan lahan khusus untuk penanaman karena bisa tumbuh di lahan
kritis, tidak perlu dipupuk atau perawatan intensif. Selain itu, hama dan gulmanya
minim sehingga tidak memerlukan pestisida, jadi bersifat ramah lingkungan
karena dapat ditanam bersama tumbuhan lainnya. Kandungan protein yang terdapat
pada biji saga pohon tersebut juga lebih besar bila dibandingkan dengan kedelai
dan beberapa tanaman komersil lainnya (Suita, 2013).
Jati putih (Gmelina arborea) merupakan salah
satu tanaman cepat tumbuh (fast growing) yang banyak dibudidayakan di
persemaian. Jati putih juga digunakan sebagai tanaman industri: Hutan Tanaman
Industri (HTI), dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Untuk menghasilkan tanaman
unggul, diperlukan teknik pemeliharaan tanaman berdasarkan kriteria mutu bibit.
Dalam penelitian ini digunakan jati putih, merupakan tanaman penghasil kayu
yang produktif dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Kayu jati putih biasanya
digunakan sebagai bahan bangunan, bahan kertas, dan sebagai alternatif
pengganti kayu sengon (Arif
dkk, 2016).
Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment
atau perlakuan awal pada benih yang ditujukan untuk mematahkan dormansi dan
mempercepat terjadinya perkecambahan benih yang seragam. Skarifikasi (pelukaan
kulit benih) adalah cara untuk memberikan kondisi benih yang impermeabel
menjadi permeabel melalui penusukan; pembakaran, pemecahan, pengikiran, dan
penggoresan dengan bantuan pisau, jarum, pemotong kuku, kertas,amplas, dan alat
lainnya. Kulit benih yang permeabel memungkinkan air dan gas dapat masuk ke
dalam benih sehingga proses imbibisi dapat terjadi. Benih yang diskarifikasi
akan menghasilkan proses imbibisi yang semakin baik. Air dan gas akan lebih
cepat masuk ke dalam benih karena kulit benih yang permeabel. Air yang masuk ke
dalam benih menyebabkan proses metabolisme dalam benih berjalan lebih cepat
akibatnya perkecambahan yang dihasilkan akan semakin baik (Juhanda dkk, 2013).
Dalam pengunduhan benih tanaman hutan dibutuhkan
teknik-teknik tertentu karena kegiatan
pengunduhan/pemanenan buah/benih tidak kalah pentingnya dengan pemilihan sumber
benih, karena bila pengunduhan benih dilakukan dengan tidak benar maka akan
diperoleh benih bermutu rendah. Semua usaha yang dilakukan untuk mencari sumber
benih yang baik akan percuma bila pengunduhan benih tidak dilakukan dengan cara
yang benar. Berikut ini teknis
pelaksanaan pengunduhan benih (pemanenan dan pengumpulan benih) tanaman hutan
menurut Ari Hidayanto, 2010 sebagai berikut yaitu teknik pengumpulan benih dari
lantai hutan / tanah. Pengumpulan benih dari lantai hutan yang jatuh secara
alami diyakini paling mudah, murah dan tidak membutuhkan tenaga kerja ahli.
Akan tetapi teknik ini juga memiliki keterbatasan. Teknik pengunduhan/
pengumpulan benih dari lantai hutan dapat dilakukan jika jenis benih memiliki
karakteristik sebagai berikut: ukuran benih sedang-besar, buah tidak
memecah/menyebar, benih tidak mudah dimangsa, benih tidak mudah berkecambah,
dan benih tidak mudah rusak/ kehilangan viabilitas (Kemdikbud, 2014).
Secara
umum biji terdiri atas tiga bagian yaitu: kulit biji (seed coat/testa), jaringan penyimpan cadangan makanan, dan embrio. Apabila
biji digambarkan sebagai sebuah bola, maka di bagian luar dibatasi oleh
struktur pembungkus atau lapisan pelindung. Kulit biji berkembang dari
integument atau perpaduan dari kulit buah (dinding ovary) atau pericarp dengan
kulit biji. Kulit biji tersebut sudah menyatu dalam perkembangannya dengan buah.
Atau dapat pula terdiri dari pericarp dan kulit biji yang sesungguhnya bersatu
dengan tangkai ovule. Kulit biji mempunyai fungsi sebagai pelindung, pengatur,
dan pembatas. Yaitu untuk memegang bagian dalam biji, melindungi bagian luar
dari benturan dan gesekan, mengatur kondisi suci hama (steril) di dalam biji
dan menghambat masuknya jasad renik, mengatur kecepatan penyerapan air komponen
bagian dalam, mengatur kecepatan masuknya oksigen, karbondioksida, dan gas lain
yang dibutuhkan untuk metabolisme mengatur perkecambahan dengan menyebabkan
dormansi biji. Pada biji ada beberapa struktur yang dapat berfungsi sebagai
jaringan penyimpan cadangan makanan, yaitu kotiledon, endosperm, perisperm, dan
gametofit betina yang haploid (Mulawarman
dkk, 2002).
Biji-biji yang memiliki kotiledon ini pada waktu
matang hanya mempunyai: kotiledon, embrio, dan kulit biji. Dan akan berkecambah
relatif lebih cepat, karena proses pencernaan sudah terjadi lebih dahulu. Endosperm
diserap oleh embrio sebelum dan atau selama proses perkecambahan biji.
Biji-biji tipe ini akan berkecambah relatif lebih lambat, karena proses
penyerapan air dan pencernaan tidak akan terjadi atau baru dimulai sewaktu biji
tersebut dikecambahkan. Pada umumnya endosperm merupakan hasil
pembelahan sel endosperm primer secara mitosis berkali-kali, dan berfungsi
memberi makan embrio yang sedang berkembang. Tidak semua golongan
tumbuhan mempunyai endosperm. Tumbuhan yang tidak mempunyai endosperm adalah
suku Orchidaceae, Podostemaceae dan Trapaceae. Sel-sel endosperm biasanya
berbentuk isodiametris, di dalamnya terdapat butir-butir amilum, lemak,
protein, atau butir-butir aleuron. Di
perisperm sewaktu ovule sedang tumbuh, embrio juga tumbuh, nucellus
tidak habis dipakai untuk pertumbuhan tersebut malah adakalanya berkembang,
sehingga terbentuk suatu jaringan yang disebut perisperm dan masih terdapat
pada biji di waktu matang. Pada gametofit
betina yang haploid, cadangan makanan yang tersimpan dalam biji
umumnya terdiri dari: karbohidrat, lemak, protein dan mineral. Komposisi dan persentasenya
berbeda-beda tergantung pada jenis biji (Ningsih, 2016).
Embrio adalah tanaman baru yang
terbentuk dari bersatunya gamet jantan dan gamet betina pada suatu proses
pembuahan. Embrio yang sempurna akan terdiri dari: bakal pucuk, bakal akar, dan
bakal daun. Embrio yang terdapat dalam biji terbentuk melalui enam fase yaitu fase
pembentukan benang sari dan putik di dalam kuncup bunga, fase mekarnya bunga
yang merupakan tanda bahwa organ ini telah siap, fase persarian yakni
perpindahan serbuk sari dari benang sari ke kepala putik, fase perkecambahan
serbuk sari dan perkecambahan tabung sari, pembuahan sel telur dan inti kutub
oleh inti sperma ari tabung sari, fase pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi
dan proses pembagian diri menjadi embrio dan kulit pelindung, dan fase pemasakan
biji bersamaan dengan pengumpulan cadangan makanan (Utomo, 2006).
METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum
Silvika yang berjudul “Pengunduhan Buah dan Pengenalan Biji” dilaksanakan pada
Senin, 06 Maret 2017 pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai. Praktikum ini
dilaksanakan di Laboratorium Ekologi Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan,
Universitas Sumatera Utara, Medan.
Alat dan Bahan
Alat
yang digunakan pada praktikum ini antara lain pinset, penghapus, pensil
berwarna, penggaris, pisau (cutter),
dan sarung tangan. Bahan yang digunakan
pada praktikum ini antara lain buku pengamatan, buah jati putih (Gmelina
arborea), biji saga (Adenanthera
pavonnina), air, kertas A4, dan kantong plastik.
Prosedur Praktikum
A.
Pengunduhan Buah
1. Dicarilah buah dari famili fabaceae (Acacia auriculiformis atau Paraserianthes
falcataria).
2. Dijemurlah buah-buah tersebut pada terik sinar
matahari.
3. Setelah kulitnya kering, dipukul dengan tongkat kayu
bulat kecil sampai bijinya keluar.
4. Dipilihlah biji-biji tersebut.
5. Digambarlah biji yang masih utuh, disebutkan warna
dan ukurannya (panjang, lebar, serta tebalnya).
B. Pengenalan Bagian Biji
1.
Dicarilah buah
yang berdaging seperti jati putih (Gmelina
arborea) (suku Verbenaceae).
2.
Direndamlah
dalam air beberapa hari.
3.
Dikupaslah
daging buah dengan menggunakan pisau ataupun alat lain.
4.
Dibersihkan
biji-biji tersebut dari daging dan selaput yang lain.
5.
Digambarlah biji
yang masih utuh, disebutkan warna dan ukurannya (panjang, lebar, serta
tebalnya).
6.
Dibelahlah biji
secara membujur sehingga mengenai bagian tengah embrio kemudian digambar dan
disebutkan juga bagian-bagiannya, warnanya, serta perbedaan yang nampak antara
biji yang sudah direndaam dan yang masih segar.
Hasil
Hasil dari Praktikum Silvika yang berjudul “Pengunduhan
Buah dan Pengenalan Biji” adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Data Pengunduhan Buah
Kelompok
|
Nama Jenis
|
Jumlah
|
1
|
Sengon (Paraserianthes
falcataria)
|
410
|
2
|
Saga (Adenanthera pavonnina)
|
401
|
3
|
Akasia (Acacia
auriculiformis)
|
282
|
4
|
Sengon (Paraserianthes falcataria)
|
251
|
5
|
Saga (Adenanthera
pavonnina)
|
299
|
6
|
Akasia (Acacia auriculiformis)
|
250
|
Total
|
|
1.902
|
Pembahasan
Dari
hasil Praktikum Silvika yang berjudul “Pengunduhan Buah dan Pengenalan Biji”
dihasilkan data seperti pada tabel 1 bahwa biji sengon (Paraserianthes falcataria), saga (Adenanthera pavonnina), dan akasia (Acacia
auriculiformis) berjumlah 1.902. Pada hasil pengunduhan buah sengon (Paraserianthes falcataria) yang
dilakukan oleh kelompok 1 dan kelompok 4 didapati perbedaan jumlah biji yang
disebabkan oleh faktor lokasi pengunduhan biji yang sama namun dengan waktu
yang berbeda, dimana kelompok 1 mendapatkan 410 biji sedangkan kelompok 4
mendapatkan 251 biji. Kelompok 2 dan kelompok 5 mengunduh biji dari saga (Adenanthera pavonnina) dengan jumlah
biji pada kelompok 2 sebanyak 410 dan kelompok 5 sebanyak 299 biji. Perbedaan
hasil didapat karena perbedaan teknik pengunduhan yang dilakukan, dimana
kelompok 2 dengan metode pengunduhan langsung pada lantai hutan dan
penggoyangan ranting pohon sedangkan kelompok 5 hanya menggunakan metode
pengumpulan di lantai hutan saja. Pada pengunduhan biji akasia (Acacia
auriculiformis) yang dilakukan oleh kelompok 3 dan kelompok 6 tidak
terdapat perbedaan yang signifikan dimana kelompok 3 sebanyak 282 biji dan
kelompok 6 sebanyak 250 biji. Hal ini disebabkan karena pengunduhan yang
dilakukan dilaksanakan pada tempat dan waktu yang bersamaan. Jumlah total biji
sengon (Paraserianthes falcataria), saga
(Adenanthera pavonnina), dan akasia (Acacia auriculiformis) masing-masingnya
adalah 661, 700, dan 532 biji. Dari jumlah tersebut dapat menunjukkan bahwa
pengunduhan buah yang paling mudah dilakukan adalah mengunduh buah saga, lalu
akasia, dan kemudian biji sengon.
Kami
memakai teknik pengunduhan dibawah tegakan dikarenakan pohon yang kami unduh
buahnya mencapai tinggi hampir 14 meter sehingga tidak mudah untuk kami gapai
secara langsung. Hal ini sesuai dengan pernyataan Krisnawati (2011) yang
menyatakan bahwa, pohon sengon umumnya berukuran cukup besar dengan tinggi
pohon total mencapai 40 m dan tinggi bebas cabang mencapai 20 m. Diameter pohon
dewasa dapat mencapai 100 cm atau kadang-kadang lebih.
Biji
terdiri dari beberapa bagian, bagian biji yang pertama ialah kulit biji spermodermis berasal dari selaput bakal
biji atau integumentum. Bagian kedua
ialah tali pusar funiculus. Dan
bagian ketiga ialah inti biji atau nucleus
seminis yang terdiri dari lembaga, calon akar, daun lembaga, batang
lembaga, putih lembaga. Bagian biji pada akasia ialah biji dan tali pusar.
Bagian-bagian buah pada jati putih adalah daging buah dan biji. Ketika biji
buah jati putih dibelah, didalam biji terdapat bakal tumbuh dan daging biji.
Untuk
mendapatkan benih yang berkualitas hendaklah kita harus selektif dalam memilih
tegakan dan cara pengambilannya yang tepat. Pada saat melakukan pengunduhan
buah jati kelompok kami melakukan pemilihan buah jati yang sudah jatuh ke
lantai hutan pengumpulan buah jati (Gmelina
arborea) lebih baik dilakukan ketika masih hijau atau kuning.
Pada
buah pohon jati putih (Gmelina arborea)
dibagi menjadi dua kondisi yang berbeda, yaitu antara diberi perlakuan dengan
tidak diberi perlakuan sama sekali. Perlakuan yang diberikan pada buah jati
putih adalah dengan merendam buah selama 24 jam. Buah yang direndam memiliki
warna yang lebih pekat yaitu kuning kecoklatan daripada buah yang tidak
direndam yang masih berwarna hijau segar. Dengan merendam biji kita dapat
menentukan mana biji yang layak dijadikan benih dan mana biji yang tidak layak.
Biji yang layak pakai memiliki karakteristik seperti benih bersih dari kotoran,
benih berisi, benih memiliki warna yang cerah, benih memiliki ukuran yang
normal atau sesuai rata-rata, benih dapat tenggelam jika di rendam di dalam air
untu menghindari kemungkinan tumbuh yang kecil.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Teknik pengunduhan buah antara lain dengan cara pemanjatan, mengambil
dengan galah atau tali, mengumpulkan langsung dari bawah tegakan, dan
penggoyangan.
2.
Pengunduhan buah yang paling banyak diunduh adalah saga (Adenanthera pavonnina) sebanyak 709
buah. Sedangkan pengunduhan buah yang paling sedikit adalah akasia (Acacia
auriculiformis) sebanyak 532 buah.
3.
Bagian dari buah jati putih (Gmelina
arborea) yang buahnya direndam memiliki warna yang lebih pekat yaitu kuning
kecoklatan daripada buah yang tidak direndam yang masih berwarna hijau daun.
4.
Biji yang layak pakai adalah memiliki karakteristik seperti benih bersih
dari kotoran, benih berisi, benih memiliki warna yang cerah, dan benih memiliki
ukuran yang normal atau rata-rata.
5.
Pada biji akasia bagian-bagian
biji berupa tali pusar dan biji. Bagian-bagian pada buah jati putih ialah
daging buah dan biji. Didalam biji terdapat daging biji dan bakal tumbuh.
Saran
Sebaiknya para
praktikan harus benar-benar tepat waktu dalam merendam buah Jati Putih (Gmelina arborea), agar terlihat
perbedaan yang sesungguhnya antara buah yang diberi perlakuan dengan yang tidak
diberi perlakuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hi Good People,