Kamis, 05 Maret 2020

PRAKTIKUM SILVIKULTUR JUDUL PERSEMAIAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
          Kegiatan penanaman dalam rangka pembangunan kehutanan dengan jenis unggulan lokal sampai saat ini masih terbatas. Salah satu kendala yang dihadapi adalah masalah pengadaan bibit dalam jumlah yang cukup dan dalam waktu yang diperlukan. Dari sumber benih yang ada saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan benih yang diperlukan terutama benih yang bermutu sesuai dengan yang dipersyaratkan. Keterbatasan tersebut menjadi salah satu alasan kuat untuk berupaya memperoleh benih yang berkualitas. Setelah pembangunan sumber benih, kegiatan yang harus dilakukan adalah pemeliharaan sumber benih. Pemeliharaan tegakan semai kemiri dan nyatoh adalah hal yang mutlak dilakukan untuk meningkatkan kualitas, pertumbuhan tanaman kemiri dan nyatoh dalam tegakan benih yang baru dibangun. Dengan demikian, pemeliharaan harus dilakukan secara berkelanjutan dan tepat waktu (Tohari, 2012)
            Pemeliharaan tanaman muda adalah kegiatan perawatan tanaman dengan cara menyiapkan dan membuat kondisi tempat tumbuh lebih baik agar tanaman muda mampu tumbuh secara optimal. Pemeliharaan sumber benih ditujukan untuk menciptakan ruang tumbuh yang optimal bagi tanaman di dalam sumber benih. Dengan demikian, maka semua tindakan pemeliharaan hendaknya merupakan usaha yang ditujukan untuk menciptkan kondisi lingkungan dan tempat tumbuh atau fakor luar secara optimal bagi produktifitas sumber benih berasal dari tanaman itu sendiri yang lebih cenderung ditentukan oleh sifat genetik. Tanaman kemiri adalah suatu tanaman yang berasal dari family Euphorbiceae. Kemudahan kemiri untuk tumbuh di berbagai tempat membuat produksi kemiri meningkat dari tahun ke tahun sehingga kemiri menjadi komoditas dalam negeri dan ekspor di Indonesia (Suwandi dkk, 2000).
   Pemilihan benih yang tepat menjadi hal yang sangat penting karena ini sangat erat hubungannya dengan kualitas tanaman yang akan kita rawat nantinya. Oleh karena itu kita harus teliti dalam hal memilih benih. Benih yang akan kita tanam harus sesuai dengan kondisi cuaca, ketinggian tanah dari permukaan laut, musim, kelembaban dan lain sebagainya. Hal itu dilakukan untuk menunjang keberhasilan budidaya tanaman yang mampu menghasilkan keuntungan lebih nantinya. Cara menaman benih langsung dibedengan adalah benih harus disemai (ditanam) dengan jarak tanam yang dianjurkan dan pada kedalaman yang sesuai. Jarak tanam benih yang tetap merupakan bagian dari budidaya yang baik dan sedikit kehati-hatian. Dalam kegiatan ini akan membantu dalam penyiangan dan kegiatan-kegiatan lain. Jumlah benih yang disebar dalam satu lubang akan tergantung dari daya tumbuh (viabilitas) benih dan pada spesies yang ditanam, untuk banyak spesies 2 benih per lubang adalah ideal (Cahyono, 2003).
            Tempat persemaian benih hendaknya bisa mendapatkan sinar matahari tetapi tidak secara langsung dan juga hendaknya tidak terkena hujan secara langsung, maka tempat persemaian yang ideal harus diberi naungan. Namun dalam praktikum kali ini menggunakan perlakuan penyemaian benih dengan perlakuan dan tanpa perlakuan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas daya kecambah dan kecepatan berkecambah benih pada benih sayuran yang disemai. Persemaian merupakan suatu proses menyiapkan bibit tanaman baru sebelum ditanam pada lahan sesungguhnya. Benih tanaman disemaikan pada suatu tempat berlebih dahulu hingga pada usia tertentu baru dipindahkan ke lahan. Penyemaian ini sangat penting, terutama pada benih tanaman yang halus dan tidak tahan terhadap faktor-faktor luar yang dapat menghambat proses pertumbuhan benih menjadi bibit tanaman (Suratiyah, 2009).

1.2 Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan persemaian ?
2.    Apa tipe-tipe persemaian ?
3.    Bagaimana cara melakukan perencanaan produsi pada kegiatan persemaian ?

1.3 Tujuan
1.    Dapat mengetahui deskripsi persemaian.
2.    Dapat mengetahui tipe-tipe persemaian.
3.    Dapat mengetahui cara melakukan perencanaan produsi pada kegiatan persemaian.

BAB II
ISI
2.1 Deskripsi Persemaian
Persemaian adalah suatu lokasi yang digunakan untuk menyemaikan benih suatu jenis tanaman dengan perlakuan tertentu selama periode waktu yang telah di tetapakan sehingga dapat menghasilkan bibit dalam bentuk anakan yang memenuhi persyaratan umur dan pertumbuhan sehingga cukup baik untuk di tanam. Menurut Sunarjono (2004), pemilihan lokasi persemaian merupakan hal pokok pertama yang harus dipikirkan sebelum membuat suatu persemaian. Banyak faktor yang menunjang keberhasilan persemaian, mulai dari penggunaan benih, media, perawatan bibit, sarana dan prasarana penunjang serta sumber daya manusia yang terlatih. Adapun syarat-syarat dalam memilih lokasi persemaian sebagai berikut:
1.      Tanahnya cukup subur.
2.      Tersedia sumber air sepanjang tahun.
3.      Topografi datar dan tidak miring.
4.      Terdapat jaringan jalan angkutan yang menghubungkan lokasi persemaian dengan lokasi persemaian.
5.      Dekat dengan areal pertanian.
Kegiatan persemaian disebut juga dengan kegiatan produksi benih memilki tiga komponen yaitu benih atau tanaman, lingkungan tumbuh atau lapangan produksi dan pengelolaan atau teknik budidaya. Tujuan dilakukan pembibitan/persemaian adalah upaya penyediaan bibit yang berkualitas baik dalam jumlah yang memadai, sesuai dengan rencana penanaman (Irwanto, 2012).

2.2 Tipe-Tipe Persemaian
Secara umum, persemaian digolongkan menjadi 2 jenis/tipe yaitu persemaian sementara dan persemaian tetap.
2.2.1   Persemaian sementara (Flying nursery)
Jenis persemaian sementara biasanya berukuran kecil dan terletak di dekat daerah yang akan ditanami. Persemaian sementara ini biasanya berlangsung hanya untuk beberapa periode panenan (bibit/semai) yaitu paling lama hanya untuk waktu 5 tahun. Keuntungan dan kerugian persemaian sementara adalah :
Keuntungan
1. Keadaan ekologi selalu mendekati keadaan yang sebenarnya.
2. Ongkos pengangkutan bibit murah.
3. Kesuburan tanah tidak terlalu menjadi masalah karena persemaian selalu berpindah tempat setelah tanah menjadi miskin.
4. Tenaga kerja sedikit sehingga mudah pengurusannya.
Kerugiannya
1. Ongkos persemaian jatuhnya mahal karena tersebarnya pekerjaan dengan hasil yang sedikit.
2. Ketrampilan petugas sulit ditingkatkan, karena sering berganti petugas.
3. Seringkali gagal karena kurangnya tenaga kerja yang terlatih.
4. Lokasi persemaian yang terpancar menyulitkan pengawasan.

2.2.2        Persemaian Tetap
Jenis persemaian ini biasanya berukuran (luasnya) besar dan lokasinya menetap di suatu tempat, untuk melayani areal penanaman yang luas.
Keuntungan :
1. Kesuburan tanah dapat dipelihara dengan pemupukan
2. Dapat dikerjakan secara mekanis bila dikehendaki
3. Pengawasan dan pemeliharaan lebih efisien, dengan staf yang tetap dan terpilih
4. Perencanaan pekerjaan akan lebih teratur
5. Produktivitas semai/bibit tinggi, kualitas bibit lebih baik dan pertumbuhannya lebih seragam
Kerugiannya :
1.  Keadaan ekologi tidak selalu mendekati keadaan yang sebenarnya.
2. Ongkos pengangkutan lebih mahal dibanding dengan persemaian sementara.
3. Membutuhkan biaya untuk investasi lebih tinggi dibanding persemaian sementara.
Hal ini karena untuk persemaian tetap biasanya keadaan sarana (misal jalan angkutan, bangunan-bangunan di persemaian) dan prasarana (misal: peralatan kerja/angkutan ) lebih baik kualitas dan lebih mahal harganya dibanding yang diperlukan persemaian sementara (Hanum, 2008).

2.3 Perencaan Produksi Pada Kegiatan Persemaian
Perencanaan merupakan tahap awal dari  setiap proses penyelenggaraan kegiatan. Pada kegiatan persemaian, beberapa pertimbangan yang digunakan dalam merencanakan kegiatan persemaian antara lain penetapan jenis persemaian, lokasi persemaian, kebutuhan bahan, kebutuhan peralatan dan tenaga kerja serta tata waktu yang diperlukan (Maws, 2000).
2.3.1.  Jenis Persemaian
Pada umumnya persemaian dikelompokkan  menjadi 2, yaitu persemaian sementara dan persemaian tetap.
2.3.2   Lokasi Persemaian
Penentuan lokasi persemaian harus didahului dengan observasi lapangan. Untuk memilih lokasi persemaian persemaian yang baik, beberapa persyaratan yang perlu dipertimbangkan adalah :
a.   Aspek Teknis
·           Letak Persemaian
Lokasi persemaian sedapat mungkin  diusahakan berada di tengah areal  penanaman atau berada pada jarak yang dekat denga  areal penanaman. Lokai atau areal persemaian harus berada pada lahan yang terbuka dan mendapat sinar matahari  yang cukup/langsung,  mudah dijangkau setiap saat dan  terlindung dari tiupan angin yang kencang.
·           Jalan Angkutan
Lokasi persemaian harus dilalui jalan angkutan atau sarana transportasi, sehingga memudahkan dalam kegiatan pengangkutan dan pengawasan.
·           Luas Persemaian
Luas areal persemaian tergantung pada  rencana jumlah semai yang akan diproduksi/tahun, cara penanaman apakah sistem akar telanjang (bare root) atau sistem container yang membutuhkan ruang/tempat lebih luas, dan lamanya semai/bibit dipelihara di pesemaian sampai diperoleh ukuran yang dinginkan.

b.  Aspek Fisik
·      Air
Keberadaan sumber air dalam jumlah yang cukup amat menentukan berhasil/tidaknya persemaian yang akan dibangun. Pada umumnya sumber air di dalam kawasan hutan berupa sungai, mata air,  dalam tanah dan air hujan.
·      Media Tumbuh
Tanah merupakan salah satu komponen tempat tumbuh tanaman. Tanaman akan tumbuh subur bila medium tumbuhnya subur dan merana bila medium tumbuhnya tidak subur. Media tumbuh semai memerlukan persyarata sebagai berikut: porositas dan drainase baik, bebas dari batu dan kerikil, pH 5 – 7, tidak merupakan tanah liat, dan banyak mengandung unsur hara (dalam hal media yang digunaka tida subur, dapat dberi pupuk sebagi pengganti).
·      Topografi/ Kelerengan
Lokasi persemaian diusahakan pada areal yang relatif datar. Semakin  berat  topografinya, maka  akan semakin sulit pengerjaan persiapan lapangan dan juga semakin banyak tenaga dan biaya yang dibutuhkan. Kelerengan yang dapat dipertimbangkan sebagai areal persemaian tidak lebih dari 10 %.
c. Aspek Tenaga Kerja
Ketersediaan tenaga kerja dalam jumlah yag cukup dan kualitas yang memadai menjadi faktor yang menentukan bagi keberhasilan kegiatan  persemaian.   Kebutuhan tenaga kerja pada persemaian diusahakan dapat dipenuhi dari masyarakat sekitar atau yang berada dekat dengan persemaian.
d. Material/Bahan
Bahan yang dibututhkan untuk kegiatan persemaian terdiri dari benih, pasir, tanah atau bentuk-bentuk media tumuh yang lain  (gambut, sekam dsb), kantong plastik (kontiner) pupuk,  fungsida dan pestisida.
·           Benih
Dua faktor penting yang perlu mendapat perhatian di dalam penyediaan benih adalah kualitas dan kuantitas benih.  
·      Tanah dan Media Pasir dan tanah (jenis medium tumbuh lainnya)
Pada dasarnya tanah atau medium tumbuh yang lain untuk  medium sapihan dipilih yang baik, bebas batu, kerikil dan benda-benda lain, sehingga tidak mengganggu pertumbuhan benih yang dikecambahkan maupun pertumbuhan semai hasil sapihan. Benda-benda keras yang dimaksud antara lain  kerikil, atau batu.
e. Sarana Pengairan
Sarana pengairan dipersemaian antara lain berupa parit/saluran dan bak penampung air yang cukup memada. Agar tidak tergantung dari  air  hujan, persemaian perlu dillengkapi dengan peralatan berupa pipa penyalur air.
f.  Jalan Angkutan dan Jalan Inspeksi
Jalan angkutan perlu dibuat untuk mengangkut bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan dipersemaian termasuk untuk mengangkut semai pada saat akan ditanam di lapangan. Lebar jalan angkutan biasanya tidak kurang dari 2,5 meter sedang lebar jalan inspeksi antara 0,75-1,00 meter.
g. Pemagaran Persemaian
Persemaian yang membutuhan pagar biasanya dalam kondisi seringkali terjadi hembusan angin yang kencang, adanya gangguan ternak, dan adanya gangguan babi hutan/rusa.
h.  Naungan
Naungan dibuat dengan maksud  untuk menghindari kerusakan semai dari cahaya dan suhu udara yang berlebihan serta kerusakan yang disebabkan oleh tempaaan air hujan. Tujuannya ialah untuk mendapatkan semai dengan  pertumbuhan yang baik dengan jalan memberikan cahaya serta suhu sesuai yang dibutuhkannya.

2.3.3. Tata Waktu Penyelenggaraan Persemaian
Tata waktu kegiatan dipersemaian perlu direncanakan masak-masak mengingat bahwa kegiatan pembuatan tanaman di Indonesia khususnya sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim setempat. Penanaman di lapangan biasanya dilakukan pada permulaan musim penghujan, sehingga sebelum saat itu tata bibit (semai) harus sudah siap  (Nazaruddin, 2000).
                                                    




Perhitungan
Lahan seluas 500 ha. Luas efektif yang bisa dan mungkin ditanami hanya 80 % dari kawasan hutan tersebut (yang 20 %  dipergunakan untuk jalan pemeriksaan, alur, sungai dan lahan becek/berbatu).
Bila diketahui:
a. Jarak tanam yang ditetapkan 2 x 2,5 m
b. Jumlah benih sengon per kg nya : 40.000 butir.
c. Kemurnian benih : 90 %, viabilitas benih : 80 %, batas 80 % dicapai pada hari ke 20
d. Kematian semai di persemaian 10 %, Pengangkutan semai dilakukan tanggal 20 Desember 2007, tepat semai berumur sekitar 4 bulan.
e. Kerusakan semai pada waktu dibawa ke lapangan : 10 %
f. Kematian semai di Lapangan : 10 %.
Pertanyaan
a. Berapa kg benih yang diperlukan untuk kegiatan  tersebut ?
b. Berapa semai siap tanam yang harus disiapkan di persemaian ?
c. Berapa jumlah semai yang pertama kali ditanam di lapangan ?
d. Kapan benih harus ditabur agar pada tanggal pengangkutan ke lapangan semai tepat berumur 4 bulan ?
e. Berapa luas persemaian bila ukuran bedengan tabur 5 x 1 m dan setiap bedeng tabur mampu menampung benih 2 ons, dan ukuran bedeng sapih 5 x 1 m dan setiap bedeng sapih dapat menampung semai sebanyak 500 batang ?
Penyelesaian
a. Semai yang ditanam pertama kali adalah semai yang ditanam sesuai dengan jarak tanamnya, yaitu = 80/100 x 500 x 10.000 : (2,5 x 2) = 800.000 batang semai.
b. Jumlah benih yang diperlukan adalah = 800.000 : (% jadi x % semai yang bagus di transportasi x % hidup semai di persemaian x % viabilitas benih x % kemurnian benih)    =
     800.000 : (90/100 x 90/100 x 90/100 x 80/100 x 90/100) =
     800.000: ( 0,9 x 0,9 x 0,9 x 0,8 x 0,9) =1.524.157,903 butir benih.→ (1
     kg = 40.000 butir) jadi kebutuhan benih = 1.524.157,903 : 40.000 =
     38,10394758 kg atau dibulatkan = 38,104 kg.

c. Semai siap tanam = adalah semai yang pantas dan memenuhi standar penilaian bibit yang masih ada di persemaian. Jadi unsur yang masuk dalam soal ini adalah semai yang ditanam pertama kali dibagi dengan (% hidup di lapangan x %  semai yang bagus pada waktu dalam transportasi) = 800.000 : (90/100 x 90/100) = 987.654, 321 batang.
d. Tanggal 20 Desember 2004, semai tepat umur 4 bulan,  artinya, kita harus memperhitungkan batas 80 %, ( dalam soal ini diketahui pada hari ke 20) sehingga, benih harus ditabur pada tanggal 1 Agustus 2004.
e. Kemampuan bedeng tabur menampung benih 2 ons, kita punya benih sebanyak 38,104 kg = 381, 04 ons. Jadi kita memerlukan bedengan sebanyak = 381,04 : 2 = 190,5197 bedeng. Ukuran bedengan adalah 5 m x 1 m = ( 5 m2).
 Jadi jumlah luas bedeng tabur = 190,5197 x 5 m2 = 952,599 m2

 Jumlah bedengan sapih adalah ditetapkan berdasarkan pada  semai yang disapih = 800.000 : (% hidup di lapangan x % semai yang bagus x % hidup di persemaian) = 800.000 : (90/100 x 90/100 x 90/100) = 1.097.393,69 batang.

Bila dihitung dari benih yang disiapkan (berdasarkan hitungan jawaban titik a)  =   38,104 x 40.000 x (% kemurnian benih x % viabilitas benih) = 38, 104 x 40.000 x (90/100 x 80/100) = 1.097.393,69 batang.

Jumlah bedeng sapih = jumlah semai yang disapih : 500
     = 1.097.393,69 /500 = 2194,79 bedeng
Luas bedeng sapih  = 5 m2 , maka jumlah luas bedeng sapih
= 2194,79 x 5 m2 = 10.973,94 m2

Luas persemaian total = 100/60 (Jumlah luas bedeng sapih + jumlah luas bedeng tabur)  = 100/60 x (10.973,94 + 952,599)
      =  19. 877,56 m2 (=1,99 ha).


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.    Persemaian adalah suatu lokasi yang digunakan untuk menyemaikan benih suatu jenis tanaman dengan perlakuan tertentu selama periode waktu yang telah di tetapakan sehingga dapat menghasilkan bibit dalam bentuk anakan yang memenuhi persyaratan umur dan pertumbuhan sehingga cukup baik untuk di tanam.
2.    Banyak faktor yang menunjang keberhasilan persemaian, mulai dari penggunaan benih, media, perawatan bibit, sarana dan prasarana penunjang serta sumber daya manusia yang terlatih.
3.    Secara umum, persemaian digolongkan menjadi 2 jenis/tipe yaitu persemaian sementara dan persemaian tetap.
4.    Pada kegiatan persemaian, beberapa pertimbangan yang digunakan dalam merencanakan kegiatan persemaian antara lain penetapan jenis persemaian, lokasi persemaian, kebutuhan bahan, kebutuhan peralatan dan tenaga kerja serta tata waktu yang diperlukan.
5.    Bahan yang dibututhkan untuk kegiatan persemaian terdiri dari benih, pasir, tanah atau bentuk-bentuk media tumuh yang lain  (gambut, sekam dsb), kantong plastik (kontiner) pupuk,  fungsida dan pestisida.


6.     
DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, B. 2003. Teknik Budidaya Cabai Rawit dan Analisis Usaha Tani. Yogyakarta: Kanisius.
Hanum, C. 2008. Teknik Budidaya Tanaman Jilid 2. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.
Irwanto. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkecambahan Benih. http://www.irwantoshut.net/seed_viability_factor.html. Diakses pada tanggal 25 April 2018 pukul 20.00 WIB.
Maws, T. 2000. Eggplant. Journal of Agricultural Research. 144(1):12-15.
Nazaruddin. 2000. Budidaya ddan Pengaturan Panen sayuran Dataran Rendah. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sunarjono, H. 2004. Bertanam 30 Jenis Sayuran. Jakarta: Penebar Swadaya.
Suratiyah, K. 2009. Ilmu Usaha Tani. Jakarta: Penebar Swadaya.
Suwandi, N., Nurtika, S. Sahat. 2000. Bercocok Tanam Sayuran Dataran Rendah. Balai Penelitian Hortikultura Lembang dan Proyek ATA 395. 3 (6): 1-3.
Tohari, Y. 2012. Membuat Persemaian atau Pembibitan. Universitas Negeri Malang. Malang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hi Good People,

LAPORAN PRAKTIKUM SILVIKULTUR JUDUL PEMUPUKAN

PENDAHULUAN Latar belakang Kesuburan tanah adalah potensi tanah untuk menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup, dalam bentuk...