PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kegiatan
penanaman dalam rangka pembangunan kehutanan dengan jenis unggulan lokal sampai
saat ini masih terbatas. Salah satu kendala yang dihadapi adalah masalah
pengadaan bibit dalam jumlah yang cukup dan dalam waktu yang diperlukan. Dari
sumber benih yang ada saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan benih yang
diperlukan terutama benih yang bermutu sesuai dengan yang dipersyaratkan. Keterbatasan
tersebut menjadi salah satu alasan kuat untuk berupaya memperoleh benih yang
berkualitas. Setelah
pembangunan sumber benih, kegiatan yang harus dilakukan adalah pemeliharaan
sumber benih. Pemeliharaan tegakan semai kemiri dan nyatoh adalah hal yang
mutlak dilakukan untuk meningkatkan kualitas, pertumbuhan tanaman kemiri dan nyatoh
dalam tegakan benih yang baru dibangun. Dengan demikian, pemeliharaan harus
dilakukan secara berkelanjutan dan tepat waktu (Tohari, 2012)
Pemeliharaan tanaman muda adalah
kegiatan perawatan tanaman dengan cara menyiapkan dan membuat kondisi tempat tumbuh
lebih baik agar tanaman muda mampu tumbuh secara optimal. Pemeliharaan sumber
benih ditujukan untuk menciptakan ruang tumbuh yang optimal bagi tanaman di
dalam sumber benih. Dengan demikian, maka semua tindakan pemeliharaan hendaknya
merupakan usaha yang ditujukan untuk menciptkan kondisi lingkungan dan tempat
tumbuh atau fakor luar secara optimal bagi produktifitas sumber benih berasal
dari tanaman itu sendiri yang lebih cenderung ditentukan oleh sifat genetik. Tanaman
kemiri adalah suatu tanaman yang berasal dari family Euphorbiceae. Kemudahan
kemiri untuk tumbuh di berbagai tempat membuat produksi kemiri meningkat dari
tahun ke tahun sehingga kemiri menjadi komoditas dalam negeri dan ekspor di
Indonesia (Suwandi dkk, 2000).
Tempat
persemaian benih hendaknya bisa mendapatkan sinar matahari tetapi tidak secara
langsung dan juga hendaknya tidak terkena hujan secara langsung, maka tempat
persemaian yang ideal harus diberi naungan. Namun dalam praktikum kali ini
menggunakan perlakuan penyemaian benih dengan perlakuan dan tanpa perlakuan.
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas daya kecambah dan kecepatan
berkecambah benih pada benih sayuran yang disemai. Persemaian merupakan suatu
proses menyiapkan bibit tanaman baru sebelum ditanam pada lahan sesungguhnya.
Benih tanaman disemaikan pada suatu tempat berlebih dahulu hingga pada usia
tertentu baru dipindahkan ke lahan. Penyemaian ini sangat penting, terutama
pada benih tanaman yang halus dan tidak tahan terhadap faktor-faktor luar yang
dapat menghambat proses pertumbuhan benih menjadi bibit tanaman (Suratiyah,
2009).
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan persemaian ?
2.
Apa tipe-tipe
persemaian ?
3.
Bagaimana cara
melakukan perencanaan produsi pada kegiatan persemaian ?
1.3 Tujuan
1.
Dapat mengetahui
deskripsi persemaian.
2.
Dapat mengetahui
tipe-tipe persemaian.
3.
Dapat mengetahui
cara melakukan perencanaan produsi pada kegiatan persemaian.
ISI
2.1 Deskripsi Persemaian
Persemaian adalah suatu lokasi yang
digunakan untuk menyemaikan benih suatu jenis tanaman dengan perlakuan tertentu
selama periode waktu yang telah di tetapakan sehingga dapat menghasilkan bibit
dalam bentuk anakan yang memenuhi persyaratan umur dan pertumbuhan sehingga
cukup baik untuk di tanam. Menurut Sunarjono (2004), pemilihan lokasi persemaian
merupakan hal pokok pertama yang harus dipikirkan sebelum membuat suatu
persemaian. Banyak faktor yang menunjang keberhasilan persemaian, mulai dari
penggunaan benih, media, perawatan bibit, sarana dan prasarana penunjang serta
sumber daya manusia yang terlatih. Adapun syarat-syarat dalam memilih lokasi
persemaian sebagai berikut:
1. Tanahnya
cukup subur.
2. Tersedia
sumber air sepanjang tahun.
3. Topografi
datar dan tidak miring.
4. Terdapat
jaringan jalan angkutan yang menghubungkan lokasi persemaian dengan lokasi
persemaian.
5. Dekat dengan
areal pertanian.
Kegiatan persemaian disebut juga
dengan kegiatan produksi benih memilki tiga komponen yaitu benih atau tanaman,
lingkungan tumbuh atau lapangan produksi dan pengelolaan atau teknik budidaya.
Tujuan dilakukan pembibitan/persemaian adalah upaya penyediaan bibit yang
berkualitas baik dalam jumlah yang memadai, sesuai dengan rencana penanaman (Irwanto, 2012).
2.2 Tipe-Tipe
Persemaian
Secara umum,
persemaian digolongkan menjadi 2 jenis/tipe yaitu persemaian sementara
dan persemaian tetap.
2.2.1
Persemaian sementara (Flying nursery)
Jenis persemaian sementara biasanya
berukuran kecil dan terletak di dekat daerah yang akan ditanami. Persemaian
sementara ini biasanya berlangsung hanya untuk beberapa periode panenan (bibit/semai)
yaitu paling lama hanya untuk waktu 5 tahun. Keuntungan
dan kerugian persemaian sementara adalah :
Keuntungan
1. Keadaan ekologi selalu mendekati keadaan yang sebenarnya.
Keuntungan
1. Keadaan ekologi selalu mendekati keadaan yang sebenarnya.
2. Ongkos
pengangkutan bibit murah.
3. Kesuburan tanah tidak terlalu
menjadi masalah karena persemaian selalu berpindah tempat setelah tanah menjadi
miskin.
4. Tenaga kerja sedikit sehingga
mudah pengurusannya.
Kerugiannya
1. Ongkos persemaian jatuhnya mahal karena tersebarnya pekerjaan dengan hasil yang sedikit.
1. Ongkos persemaian jatuhnya mahal karena tersebarnya pekerjaan dengan hasil yang sedikit.
2. Ketrampilan petugas sulit
ditingkatkan, karena sering berganti petugas.
3.
Seringkali gagal karena kurangnya tenaga kerja yang terlatih.
4. Lokasi
persemaian yang terpancar menyulitkan pengawasan.
2.2.2
Persemaian Tetap
Jenis persemaian ini biasanya berukuran (luasnya) besar
dan lokasinya menetap di suatu tempat, untuk melayani areal penanaman yang
luas.
Keuntungan :
1. Kesuburan tanah dapat dipelihara dengan pemupukan
2. Dapat dikerjakan secara mekanis bila dikehendaki
3. Pengawasan dan pemeliharaan lebih efisien, dengan staf yang tetap dan
terpilih
4. Perencanaan pekerjaan akan lebih teratur
4. Perencanaan pekerjaan akan lebih teratur
5. Produktivitas semai/bibit tinggi, kualitas bibit lebih baik dan
pertumbuhannya lebih seragam
Kerugiannya :
1. Keadaan ekologi tidak selalu mendekati keadaan yang
sebenarnya.
2. Ongkos pengangkutan lebih mahal dibanding dengan persemaian
sementara.
3. Membutuhkan biaya untuk investasi lebih tinggi dibanding persemaian
sementara.
Hal ini karena untuk persemaian tetap biasanya keadaan
sarana (misal jalan angkutan, bangunan-bangunan di persemaian) dan prasarana
(misal: peralatan kerja/angkutan ) lebih baik kualitas dan lebih mahal harganya
dibanding yang diperlukan persemaian sementara (Hanum, 2008).
2.3 Perencaan Produksi Pada Kegiatan Persemaian
Perencanaan merupakan tahap awal
dari setiap proses penyelenggaraan kegiatan. Pada kegiatan persemaian,
beberapa pertimbangan yang digunakan dalam merencanakan kegiatan persemaian
antara lain penetapan jenis persemaian, lokasi persemaian, kebutuhan bahan,
kebutuhan peralatan dan tenaga kerja serta tata waktu yang diperlukan (Maws, 2000).
2.3.1. Jenis
Persemaian
Pada umumnya persemaian dikelompokkan menjadi 2,
yaitu persemaian sementara dan persemaian tetap.
2.3.2 Lokasi Persemaian
Penentuan lokasi persemaian harus didahului dengan
observasi lapangan. Untuk memilih lokasi persemaian persemaian yang baik,
beberapa persyaratan yang perlu dipertimbangkan adalah :
a. Aspek Teknis
·
Letak Persemaian
Lokasi persemaian sedapat mungkin
diusahakan berada di tengah areal penanaman atau berada pada jarak
yang dekat denga areal penanaman. Lokai atau areal persemaian harus
berada pada lahan yang terbuka dan mendapat sinar matahari yang
cukup/langsung, mudah dijangkau setiap saat dan terlindung dari
tiupan angin yang kencang.
·
Jalan Angkutan
Lokasi persemaian harus dilalui
jalan angkutan atau sarana transportasi, sehingga memudahkan dalam kegiatan
pengangkutan dan pengawasan.
·
Luas Persemaian
Luas areal persemaian tergantung
pada rencana
jumlah semai yang akan diproduksi/tahun, cara penanaman apakah sistem akar
telanjang (bare root) atau sistem container yang membutuhkan
ruang/tempat lebih luas, dan
lamanya semai/bibit dipelihara di pesemaian sampai diperoleh ukuran yang
dinginkan.
b. Aspek Fisik
· Air
Keberadaan sumber air dalam jumlah
yang cukup amat menentukan berhasil/tidaknya persemaian yang akan dibangun.
Pada umumnya sumber air di dalam kawasan hutan berupa sungai, mata air,
dalam tanah dan air hujan.
· Media Tumbuh
Tanah merupakan salah satu komponen
tempat tumbuh tanaman. Tanaman akan tumbuh subur bila medium tumbuhnya subur
dan merana bila medium tumbuhnya tidak subur. Media tumbuh
semai memerlukan persyarata sebagai berikut: porositas dan drainase baik, bebas dari
batu dan kerikil,
pH 5 – 7,
tidak merupakan tanah liat, dan banyak mengandung unsur hara (dalam
hal media yang digunaka tida subur, dapat dberi pupuk sebagi pengganti).
·
Topografi/ Kelerengan
Lokasi persemaian diusahakan pada
areal yang relatif datar. Semakin berat topografinya, maka
akan semakin sulit pengerjaan persiapan lapangan dan juga semakin banyak
tenaga dan biaya yang dibutuhkan. Kelerengan yang dapat dipertimbangkan sebagai
areal persemaian tidak lebih dari 10 %.
c. Aspek Tenaga Kerja
Ketersediaan tenaga kerja dalam
jumlah yag cukup dan kualitas yang memadai menjadi faktor yang menentukan bagi
keberhasilan kegiatan persemaian. Kebutuhan tenaga kerja pada
persemaian diusahakan dapat dipenuhi dari masyarakat sekitar atau yang berada
dekat dengan persemaian.
d. Material/Bahan
Bahan yang dibututhkan untuk
kegiatan persemaian terdiri dari benih, pasir, tanah atau bentuk-bentuk media
tumuh yang lain (gambut, sekam dsb), kantong plastik (kontiner) pupuk,
fungsida dan pestisida.
·
Benih
Dua faktor penting yang perlu
mendapat perhatian di dalam penyediaan benih adalah kualitas dan kuantitas
benih.
·
Tanah dan Media Pasir dan tanah
(jenis medium tumbuh lainnya)
Pada dasarnya tanah atau medium
tumbuh yang lain untuk medium sapihan dipilih yang baik, bebas batu,
kerikil dan benda-benda lain, sehingga tidak mengganggu pertumbuhan benih yang
dikecambahkan maupun pertumbuhan semai hasil sapihan. Benda-benda keras yang
dimaksud antara lain kerikil, atau batu.
e. Sarana
Pengairan
Sarana pengairan dipersemaian antara
lain berupa parit/saluran dan bak penampung air yang cukup memada. Agar tidak
tergantung dari air hujan, persemaian perlu dillengkapi dengan
peralatan berupa pipa penyalur air.
f.
Jalan Angkutan dan Jalan Inspeksi
Jalan angkutan perlu dibuat untuk
mengangkut bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan dipersemaian termasuk untuk
mengangkut semai pada saat akan ditanam di lapangan. Lebar jalan angkutan
biasanya tidak kurang dari 2,5 meter sedang lebar jalan inspeksi antara
0,75-1,00 meter.
g. Pemagaran
Persemaian
Persemaian yang membutuhan pagar
biasanya dalam kondisi seringkali terjadi hembusan angin yang kencang, adanya
gangguan ternak,
dan adanya gangguan babi hutan/rusa.
h.
Naungan
Naungan dibuat dengan maksud
untuk menghindari kerusakan semai dari cahaya dan suhu udara yang berlebihan
serta kerusakan yang disebabkan oleh tempaaan air hujan. Tujuannya ialah untuk
mendapatkan semai dengan pertumbuhan yang baik dengan jalan memberikan
cahaya serta suhu sesuai yang dibutuhkannya.
2.3.3. Tata Waktu
Penyelenggaraan Persemaian
Tata waktu
kegiatan dipersemaian perlu direncanakan masak-masak mengingat bahwa kegiatan
pembuatan tanaman di Indonesia khususnya sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim
setempat.
Penanaman di lapangan biasanya dilakukan pada permulaan musim penghujan,
sehingga sebelum saat itu tata bibit (semai) harus sudah siap (Nazaruddin, 2000).
Perhitungan
Lahan
seluas 500 ha. Luas efektif yang bisa dan mungkin ditanami hanya 80 % dari
kawasan hutan tersebut (yang 20 % dipergunakan untuk jalan pemeriksaan,
alur, sungai dan lahan becek/berbatu).
Bila diketahui:
a. Jarak tanam yang ditetapkan 2 x 2,5 m
b. Jumlah benih sengon per kg nya : 40.000 butir.
c. Kemurnian benih : 90 %, viabilitas benih : 80 %, batas 80 % dicapai pada hari ke 20
d. Kematian semai di persemaian 10 %, Pengangkutan semai dilakukan tanggal 20 Desember 2007, tepat semai berumur sekitar 4 bulan.
e. Kerusakan semai pada waktu dibawa ke lapangan : 10 %
f. Kematian semai di Lapangan : 10 %.
Pertanyaan
a. Berapa kg benih yang diperlukan untuk kegiatan tersebut ?
b. Berapa semai siap tanam yang harus disiapkan di persemaian ?
c. Berapa jumlah semai yang pertama kali ditanam di lapangan ?
d. Kapan benih harus ditabur agar pada tanggal pengangkutan ke lapangan semai tepat berumur 4 bulan ?
e. Berapa luas persemaian bila ukuran bedengan tabur 5 x 1 m dan setiap bedeng tabur mampu menampung benih 2 ons, dan ukuran bedeng sapih 5 x 1 m dan setiap bedeng sapih dapat menampung semai sebanyak 500 batang ?
Penyelesaian
a. Semai yang ditanam pertama kali adalah semai yang ditanam sesuai dengan jarak tanamnya, yaitu = 80/100 x 500 x 10.000 : (2,5 x 2) = 800.000 batang semai.
b. Jumlah benih yang diperlukan adalah = 800.000 : (% jadi x % semai yang bagus di transportasi x % hidup semai di persemaian x % viabilitas benih x % kemurnian benih) =
800.000 : (90/100 x 90/100 x 90/100 x 80/100 x 90/100) =
800.000: ( 0,9 x 0,9 x 0,9 x 0,8 x 0,9) =1.524.157,903 butir benih.→ (1
kg = 40.000 butir) jadi kebutuhan benih = 1.524.157,903 : 40.000 =
38,10394758 kg atau dibulatkan = 38,104 kg.
c. Semai siap tanam = adalah semai yang pantas dan memenuhi standar penilaian bibit yang masih ada di persemaian. Jadi unsur yang masuk dalam soal ini adalah semai yang ditanam pertama kali dibagi dengan (% hidup di lapangan x % semai yang bagus pada waktu dalam transportasi) = 800.000 : (90/100 x 90/100) = 987.654, 321 batang.
d. Tanggal 20 Desember 2004, semai tepat umur 4 bulan, artinya, kita harus memperhitungkan batas 80 %, ( dalam soal ini diketahui pada hari ke 20) sehingga, benih harus ditabur pada tanggal 1 Agustus 2004.
e. Kemampuan bedeng tabur menampung benih 2 ons, kita punya benih sebanyak 38,104 kg = 381, 04 ons. Jadi kita memerlukan bedengan sebanyak = 381,04 : 2 = 190,5197 bedeng. Ukuran bedengan adalah 5 m x 1 m = ( 5 m2).
Jadi jumlah luas bedeng tabur = 190,5197 x 5 m2 = 952,599 m2
Bila diketahui:
a. Jarak tanam yang ditetapkan 2 x 2,5 m
b. Jumlah benih sengon per kg nya : 40.000 butir.
c. Kemurnian benih : 90 %, viabilitas benih : 80 %, batas 80 % dicapai pada hari ke 20
d. Kematian semai di persemaian 10 %, Pengangkutan semai dilakukan tanggal 20 Desember 2007, tepat semai berumur sekitar 4 bulan.
e. Kerusakan semai pada waktu dibawa ke lapangan : 10 %
f. Kematian semai di Lapangan : 10 %.
Pertanyaan
a. Berapa kg benih yang diperlukan untuk kegiatan tersebut ?
b. Berapa semai siap tanam yang harus disiapkan di persemaian ?
c. Berapa jumlah semai yang pertama kali ditanam di lapangan ?
d. Kapan benih harus ditabur agar pada tanggal pengangkutan ke lapangan semai tepat berumur 4 bulan ?
e. Berapa luas persemaian bila ukuran bedengan tabur 5 x 1 m dan setiap bedeng tabur mampu menampung benih 2 ons, dan ukuran bedeng sapih 5 x 1 m dan setiap bedeng sapih dapat menampung semai sebanyak 500 batang ?
Penyelesaian
a. Semai yang ditanam pertama kali adalah semai yang ditanam sesuai dengan jarak tanamnya, yaitu = 80/100 x 500 x 10.000 : (2,5 x 2) = 800.000 batang semai.
b. Jumlah benih yang diperlukan adalah = 800.000 : (% jadi x % semai yang bagus di transportasi x % hidup semai di persemaian x % viabilitas benih x % kemurnian benih) =
800.000 : (90/100 x 90/100 x 90/100 x 80/100 x 90/100) =
800.000: ( 0,9 x 0,9 x 0,9 x 0,8 x 0,9) =1.524.157,903 butir benih.→ (1
kg = 40.000 butir) jadi kebutuhan benih = 1.524.157,903 : 40.000 =
38,10394758 kg atau dibulatkan = 38,104 kg.
c. Semai siap tanam = adalah semai yang pantas dan memenuhi standar penilaian bibit yang masih ada di persemaian. Jadi unsur yang masuk dalam soal ini adalah semai yang ditanam pertama kali dibagi dengan (% hidup di lapangan x % semai yang bagus pada waktu dalam transportasi) = 800.000 : (90/100 x 90/100) = 987.654, 321 batang.
d. Tanggal 20 Desember 2004, semai tepat umur 4 bulan, artinya, kita harus memperhitungkan batas 80 %, ( dalam soal ini diketahui pada hari ke 20) sehingga, benih harus ditabur pada tanggal 1 Agustus 2004.
e. Kemampuan bedeng tabur menampung benih 2 ons, kita punya benih sebanyak 38,104 kg = 381, 04 ons. Jadi kita memerlukan bedengan sebanyak = 381,04 : 2 = 190,5197 bedeng. Ukuran bedengan adalah 5 m x 1 m = ( 5 m2).
Jadi jumlah luas bedeng tabur = 190,5197 x 5 m2 = 952,599 m2
Jumlah bedengan sapih adalah
ditetapkan berdasarkan pada semai yang disapih = 800.000 : (% hidup di
lapangan x % semai yang bagus x % hidup di persemaian) = 800.000 : (90/100 x
90/100 x 90/100) = 1.097.393,69 batang.
Bila dihitung dari benih yang disiapkan (berdasarkan hitungan jawaban titik a) = 38,104 x 40.000 x (% kemurnian benih x % viabilitas benih) = 38, 104 x 40.000 x (90/100 x 80/100) = 1.097.393,69 batang.
Jumlah bedeng sapih = jumlah semai yang disapih : 500
= 1.097.393,69 /500 = 2194,79 bedeng
Luas bedeng sapih = 5 m2 , maka jumlah luas bedeng sapih
= 2194,79 x 5 m2 = 10.973,94 m2
Luas persemaian total = 100/60 (Jumlah luas bedeng sapih + jumlah luas bedeng tabur) = 100/60 x (10.973,94 + 952,599)
= 19. 877,56 m2 (=1,99 ha).
Bila dihitung dari benih yang disiapkan (berdasarkan hitungan jawaban titik a) = 38,104 x 40.000 x (% kemurnian benih x % viabilitas benih) = 38, 104 x 40.000 x (90/100 x 80/100) = 1.097.393,69 batang.
Jumlah bedeng sapih = jumlah semai yang disapih : 500
= 1.097.393,69 /500 = 2194,79 bedeng
Luas bedeng sapih = 5 m2 , maka jumlah luas bedeng sapih
= 2194,79 x 5 m2 = 10.973,94 m2
Luas persemaian total = 100/60 (Jumlah luas bedeng sapih + jumlah luas bedeng tabur) = 100/60 x (10.973,94 + 952,599)
= 19. 877,56 m2 (=1,99 ha).
PENUTUP
Kesimpulan
1. Persemaian
adalah suatu lokasi yang digunakan untuk menyemaikan benih suatu jenis tanaman
dengan perlakuan tertentu selama periode waktu yang telah di tetapakan sehingga
dapat menghasilkan bibit dalam bentuk anakan yang memenuhi persyaratan umur dan
pertumbuhan sehingga cukup baik untuk di tanam.
2. Banyak
faktor yang menunjang keberhasilan persemaian, mulai dari penggunaan benih,
media, perawatan bibit, sarana dan prasarana penunjang serta sumber daya
manusia yang terlatih.
3. Secara umum, persemaian digolongkan menjadi 2 jenis/tipe yaitu persemaian sementara dan
persemaian tetap.
4.
Pada kegiatan persemaian, beberapa
pertimbangan yang digunakan dalam merencanakan kegiatan persemaian antara lain
penetapan jenis persemaian, lokasi persemaian, kebutuhan bahan, kebutuhan
peralatan dan tenaga kerja serta tata waktu yang diperlukan.
5.
Bahan yang dibututhkan untuk
kegiatan persemaian terdiri dari benih, pasir, tanah atau bentuk-bentuk media
tumuh yang lain (gambut, sekam dsb), kantong plastik (kontiner) pupuk,
fungsida dan pestisida.
6.
Cahyono, B. 2003. Teknik Budidaya Cabai Rawit dan Analisis Usaha Tani. Yogyakarta:
Kanisius.
Hanum, C. 2008. Teknik Budidaya Tanaman Jilid 2. Jakarta : Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan.
Irwanto. 2012. Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Perkecambahan Benih. http://www.irwantoshut.net/seed_viability_factor.html. Diakses
pada tanggal 25 April
2018 pukul 20.00 WIB.
Maws, T. 2000. Eggplant. Journal of Agricultural Research.
144(1):12-15.
Nazaruddin. 2000. Budidaya ddan Pengaturan Panen sayuran Dataran Rendah. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Sunarjono, H. 2004. Bertanam
30 Jenis Sayuran. Jakarta: Penebar Swadaya.
Suratiyah, K. 2009. Ilmu
Usaha Tani. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Suwandi, N., Nurtika, S. Sahat. 2000.
Bercocok Tanam Sayuran Dataran Rendah. Balai
Penelitian Hortikultura Lembang dan Proyek ATA 395. 3 (6): 1-3.
Tohari, Y. 2012. Membuat Persemaian atau Pembibitan. Universitas
Negeri Malang. Malang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hi Good People,