Selasa, 29 Januari 2019

Peralatan laboratorium ilmu tanah hutan


Peralatan Dasar
1). Gelas Kimia (beaker) : berupa gelas tinggi, berdiameter besar dengan skala sepanjang dindingnya. Terbuat dari kaca borosilikat yang tahan terhadap panas hingga suhu 200 oC. Ukuran alat ini ada yang 50 mL, 100 mL dan 2 L.
Fungsi :
· Untuk mengukur volume larutan yang tidak memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi
· Menampung zat kimia
· Memanaskan cairan
· Media pemanasan cairan
2). Labu Erlenmeyer : berupa gelas yang diameternya semakin ke atas semakin kecil dengan skala sepanjang dindingnya. Ukurannya mulai dari 10 mL sampai 2 L.
Fungsi :
o Untuk menyimpan dan memanaskan larutan
o Menampung filtrat hasil penyaringan
o Menampung titran (larutan yang dititrasi) pada proses titrasi
3). Gelas ukur : berupa gelas tinggi dengan skala di sepanjang dindingnya. Terbuat dari kaca atau plastik yang tidak tahan panas. Ukurannya mulai dari 10 mL sampai 2 L.
Fungsi :
Untuk mengukur volume larutan tidak memerlukan tingkat ketelitian yang tinggi dalam jumlah tertentu
4). Pipet : alat untuk mengambil cairan dalam jumlah tertentu maupun takaran bebas. Jenisnya :
a) Pipet seukuran : digunakan untuk mengambil cairan dalam jumlah tertentu secara tepat, bagian tengahnya menggelembung.
b) Pipet berukuran : berupa pipa kurus dengan skala di sepanjang dindingnya. Berguna untuk mengukur dan memindahkan larutan dengan volume tertentu secara tepat.
c) Pipet tetes : berupa pipa kecil terbuat dari plastik atau kaca dengan ujung bawahnya meruncing serta ujung atasnya ditutupi karet. Berguna untuk mengambil cairan dalam skala tetesan kecil.
5). Buret : berupa tabung kaca bergaris dan memiliki kran di ujungnya. Ukurannya mulai dari 5 dan 10 mL (mikroburet) dengan skala 0,01 mL, dan 25 dan 50 mL dengan skala 0,05 mL.
Fungsi :
Untuk mengeluarkan larutan dengan volume tertentu, biasanya digunakan untuk titrasi.
6). Tabung reaksi : berupa tabung yang kadang dilengkapi dengan tutup. Terbuat dari kaca borosilikat tahan panas, terdiri dari berbagai ukuran.
Fungsi :
v Sebagai tempat untuk mereaksikan bahan kimia
v Untuk melakukan reaksi kimia dalam skala kecil
7). Kaca arloji : terbuat dari kaca bening, terdiri dari berbagai ukuran diameter.
Fungsi :
§ Sebagai penutup gelas kimia saat memanaskan sampel
§ Tempat saat menimbang bahan kimia
§ Tempat untuk mengeringkan padatan dalam desikator
8). Corong : terbuat dari plastik atau kaca tahan panas dan memiliki bentuk seperti gelas bertangkai, terdiri dari corong dengan tangkai panjang dan pendek. Cara menggunakannya dengan meletakkan kertas saring ke dalam corong tersebut.
Fungsi :
Untuk menyaring campuran kimia dengan gravitasi.
9). Cawan : terbuat dari porselen dan biasa digunakan untuk menguapkan larutan.
10). Mortar dan pestle : terbuat dari porselen, kaca atau batu granit yang dapat digunakan untuk menghancurkan dan mencampurkan padatan kimia.
11). Spatula : berupa sendok panjang dengan ujung atasnya datar, terbuat dari stainless steel atau alumunium.
Fungsi :
Ø Untuk mengambil bahan kimia yang berbentuk padatan
Ø Dipakai untuk mengaduk larutan
12). Batang pengaduk : terbuat dari kaca tahan panas, digunakan untuk mengaduk cairan di dalam gelas kimia.
13). Kawat kasa : kawat yang dilapisi dengan asbes, digunakan sebagai alas dalam penyebaran panas yang berasal dari suatu pembakar.
14). Kaki tiga : besi yang menyangga ring dan digunakan untuk menahan kawat kasa dalam pemanasan.
15). Burner / pembakar spiritus : digunakan untuk memanaskan bahan kimia.
16). Bola hisap : digunakan untuk membantu proses pengambilan cairan. Terbuat dari karet yang disertai dengan tanda untuk menyedot cairan (suction), mengambil udara (aspirate) dan mengosongkan (empty).
17). Neraca analisis : digunakan untuk menimbang padatan kimia.
B. Peralatan Pendukung
1). Labu ukur : berupa labu dengan leher yang panjang dan bertutup; terbuat dari kaca dan tidak boleh terkena panas karena dapat memuai. Ukurannya mulai dari 1 mL hingga 2 L.
Fungsi :
Untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentu dan mengencerkan larutan.
Cara menggunakan :
Mengisikan larutan yang akan diencerkan atau padatan yang akan dilarutkan. Tambahkan cairan yang dipakai sebagai pelarut sampai setengah labu terisi, kocok kemudian penuhkan labu sampai tanda batas. Sumbat labu, pegang tutupnya dengan jari, kocok dengan cara membolak-balikkan labu sampai larutan homogen.
2). Labu bundar : berupa labu dengan leher yang panjang, alasnya ada yang bundar, ada yang rata. Terbuat dari kaca tahan panas pada suhu 120-300 oC.Ukurannya mulai dari 250 mL sampai 2000 mL.
Fungsi :
Untuk memanaskan larutan dan menyimpan larutan.
3). Corong Buchner : berupa corong yang bagian dasarnya berpori dan berdiameter besar. Terbuat dari porselen, plastik atau kaca. Berguna untuk menyaring sampel agar lebih cepat kering. Cara menggunakannya dengan meletakkan kertas saring yang diameternya sama dengan diameter corong.
4). Erlenmeyer Buchner : berupa gelas yang diameternya semakin ke atas semakin mengecil, ada lubang kecil yang dapat dihubungkan dengan selang ke pompa vakum. Terbuat dari kaca tebal yang dapat menahan tekanan sampai 5 atm. Ukurannya mulai dari 100 mL hingga 2 L. Dipakai untuk menampung cairan hasil filtrasi.
Cara menggunakannya :
Diawali dengan memasang corong Buchner di leher labu, pasang selang yang tersambung ke pompa vakum pada bagian yang menonjol.
5). Corong pisah : berupa corong yang bagian atasnya bulat dengan lubang pengisi terletak di sebelah atas, bagian bawahnya berkatup. Terbuat dari kaca.
Fungsi :
Untuk memisahkan campuran larutan yang memiliki kelarutan yang berbeda. Biasanya digunakan dalam proses ekstraksi.
Cara menggunakannya :
campuran yang akan dipisahkan dimasukkan lewat lubang atas, katup dalam keadaan tertutup. Pegang tutup bagian atas, corong dipegang dengan tangan kanan dan kiri dalam posisi horisontal, kocok agar ekstraksi berlangsung dengan baik. Buka tutup bagian atas, keluarkan larutan bagian bawah melalui katup secara pelan. Tutup kembali katup jika larutan lapisan bawah sudah keluar.
6). Desikator : berupa panci bersusun dua yang bagian bawahnya diisi bahan pengering, dengan penutup yang sulit dilepas dalam keadaan dingin karena dilapisi vaseline. Ada 2 macam desikator : desikator biasa dan vakum. Desikator vakum pada bagian tutupnya ada katup yang bisa dibuka tutup, yang dihubungkan dengan selang ke pompa. Bahan pengering yang biasa digunakan adalah silika gel.
Fungsi :
§ Tempat menyimpan sampel yang harus bebas air
§ Mengeringkan padatan
Cara menggunakannya :
o Dengan membuka tutup desikator dengan menggesernya ke samping.
o Letakkan sampel dan tutup kembali dengan cara yang sama.
Keterangan :
Silika gel yang masih bisa menyerap uap air berwarna biru; jika silika gel sudah berubah menjadi merah muda maka perlu dipanaskan dalam oven bersuhu 105 oC sampai warnanya kembali biru.
7). Cawan petri : berbentuk seperti gelas kimia yang berdinding sangat rendah. Terbuat dari kaca borosilikat tahan panas. Berfungsi sebagai wadah menimbang dan menyimpan bahan kimia, mikrobiologi.
8). Botol semprot : berupa botol tinggi bertutup yang terbuat dari plastik. Berfungsi sebagai tempat menyimpan aquades. Cara menggunakannya dengan menekan badan botol sampai airnya keluar.
9). Krusibel : berupa mangkok kecil yang dilengkapi tutup dan terbuat dari porselen tahan panas, alumina. Dipakai sebagai tempat untuk mereaksikan bahan kimia. Pada saat krus masih dalam keadaan panas, jangan langsung dikenai air. Perubahan suhu mendadak menyebabkan krus pecah.
10). Kaki tiga krus : terbuat dari porselen dan berfungsi untuk menaruh krusibel saat akan dipanaskan langsung di atas api.
11). Statif : terbuat dari besi atau baja yang berfungsi untuk menegakkan buret, corong, corong pisah dan peralatan gelas lainnya pada saat digunakan.
12). Klem manice : terbuat dari besi atau alumunium yang berfungsi untuk memegang peralatan gelas yang dipakai pada proses destilasi. Bagian belakangnya dihubungkan dengan statif menggunakan klem bosshead.
13). Klem bosshead : terbuat dari besi atau alumunium yang berfungsi untuk menghubungkan statif dengan klem manice atau pemegang corong.
14). Klem buret : terbuat dari besi atau baja untuk memegang buret yang digunakan untuk titrasi.
15). Pemegang corong : terbuat dari besi atau baja untuk memegang corong atau corong pisah yang dipakai pada proses penyaringan atau pemisahan. Bagian belakang disambungkan dengan statif menggunakan klem bosshead.
16). Tang krusibel : terbuat dari besi atau baja untuk mengambil dan membawa krusibel.
17). Stirrer magnetic : magnet yang digunakan untuk mengaduk larutan.
18). Sentrifuge : berfungsi untuk mengendapkan dan memisahkan padatan dari larutan.
19). Chromatography chamber : terbuat dari kaca yang digunakan dalam proses kromatografi kertas.
20). Spectronic 20 : digunakan untuk mengukur absorbansi larutan berwarna dalam proses spektrofotometri.
C. Teknik Dasar di Laboratorium
1. Cara memanaskan cairan
Harus memperhatikan kemungkinan terjadinya bumping (meloncatnya cairan akibat peningkatan suhu drastis). Cara mencegahnya dengan menambahkan batu didih ke dalam gelas kimia.
a. Pemanasan cairan dalam tabung reaksi
o Jangan sampai mengarahkan mulut tabung reaksi kepada praktikan baik diri sendiri maupun orang lain
o Jepit tabung reaksi pada bagian dekat dengan mulut tabung
o Posisi tabung ketika memanaskan cairan agak miring, aduk dan sesekali dikocok
o Pengocokan terus dilakukan sesaat setelah pemanasan
b. Pemanasan cairan dalam gelas kimia dan labu Erlenmeyer
Bagian bawah dapat kontak langsung dengan api sambil cairannya digoyangkan perlahan, sesekali diangkat bila mendidih.
2. Cara membaca volume pada gelas ukur
Masukkan cairan yang akan diukur lalu tepatkan dengan pipet tetes sampai skala yang diinginkan. Bagian terpenting dalam membaca skala di gelas ukur tersebut adalah garis singgung skala harus sesuai dengan meniskus cairan. Meniskus adalah garis lengkung permukaan cairan yang disebabkan adanya gaya kohesi atau adhesi zat cair dengan gelas ukur.
3. Cara menggunakan buret
Sebelum digunakan, buret harus dibilas dengan larutan yang akan digunakan. Cara mengisinya :
Kran ditutup kemudian larutan dimasukkan dari bagian atas menggunakan corong gelas. Jangan mengisi buret dengan posisi bagian atasnya lebih tinggi dari mata kita. Turunkan buret dan statifnya ke lantai agar jika ada larutan yang tumpah dari corong tidak terpercik ke mata. Jangan sampai ada gelembung yang tertinggal di bagian bawah buret. Jika sudah tidak ada gelembung, tutup kran. Selanjutnya isi buret hingga melebihi skala nol, lalu buka kran sedikit untuk mengatur cairan agar tepat pada skala nol.
4. Cara menggunakan neraca analitis
· Nolkan terlebih dulu neraca tersebut
· Letakkan zat yang akan ditimbang pada bagian timbangan
· Baca nilai yang tertera pada layar monitor neraca
· Setelah digunakan, nolkan kembali neraca tersebut
5. Cara menghirup bau zat
Ingat : Jangan pernah menghirup gas atau uap senyawa secara langsung!
Gunakan tangan dengan mengibaskan bau sedikit sampel gas ke hidung.
Dibawah ini saya sertakan gambar beberapa alat, sesuai dengan permintaan beberapa blogger yang mampir kesini :


Dendrologi Bunga Majemuk


Bunga majemuk adalah sekelompok kuntum bunga yang terangkai pada satu ibu tangkai bunga atau pada suatu susunan tangkai-tangkai bunga yang lebih rumit. Rangkaian bunga semacam ini sangat bervariasi, baik pada pola-pola dan kerapatan tangkai bunganya, kelengkapan bagian-bagian pendukungnya, duduk bunga pada tangkai (filotaksi, phyllotaxy) dan lain-lain.
Berdasarkan pertumbuhan pucuknya, dikenal adanya ertumbuhan monopodial dan simpodial. Kedua macam pertumbuhan itu juga tecermin dalam pertumbuhan bunga:
·         Bunga majemuk tidak terbatas (indeterminate): pertumbuhan monopodial. Pucuk ibu tangkai bunga tumbuh terus, dan bunga-bunga mekar dari bawah ke atas.
·         Bunga majemuk terbatas (determinate): pertumbuhan simpodial. Bunga yang paling ujung mekar dahulu dan layu, kemudian di bawahnya, lewat samping, muncul tangkai bunga yang lebih muda dan mekar. Demikian seterusnya.

1.      Tandan (raceme)
yakni dengan bunga-bunga individual bertangkai tertancap di sepanjang ibu tangkai bunga yang tak bercabang.

Contoh
·         Kembang merak ( coesalpinia pulcherrima swart )

Description: Image result for bunga kembang merak





·         Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus)

Description: Image result for orthosiphon aristatus adalah

2.     Bulir (spike)
Yaitu tandan dengan bunga-bunga individual tak bertangkai (duduk).

 Contoh :
·         Bunga jorong ( Stachytaripheta jamaicensis vahl )

Description: Image result for bunga jarong ( stachytarpheta jamaicensis vahl )

·         Lada (Piper nigrum)

Description: Related image





3.     Bunga payung (umbel)
Yaitu tandan dengan ibu tangkai bunga yang pendek dan seberkas kuntum bunga yang tangkai-tangkainya muncul dari ketinggian yang sama.

Contoh :

·        Wortel (Daucus carota)

Description: Image result for daucus carota adalah

·         Bunga kangkung (Ipomoea aquatica)

Description: Berkas:N Ipoa D1600.JPG

4.      Untai (Catkin)
Yaitu bulir menggantung yang berisi bunga-bunga berkelamin tunggal

Contoh
·         Sirih (Piper betle)

Description: Image result for nama latin sirih


·         Lada (Piper nigrum)

Description: Related image

5.      Malai (Panicle)
Ibu tamgkainya mengadakan percabangan secara monopodial, demikian pula cabang-cabangnya, sehingga suatu malai dapat disamakan denga suatu tandan majemuk. Secara heseluruhan seringkali memperlihatkan bentuk sebagai kerucut atau limas.

Contoh
·         Mangga (Mangivera indica)

Description: Image result for mangifera indica flower

·         Rambutan (Nephelium lappaceum)

Description: Image result for nama latin bunga rambutan


6.      Bunga bongkol (head)
Suatu bunga majemuk yang menyerupai bunga cawan, tetapi tanpa daun-daun pembalut ,  dan ujung ibu tangkai biasanya membengkak, sehingga bunga majemuk seluruhnya berbentuk seperti bola.
Contoh :
·         Lamtoro ( Lencaena glouca benth )

Description: Image result for lamtoro ( leucaena glauca benth )

·         Sikejut   ( Mimosa pudica L )

Description: Image result for sikejut   ( Mimosa pudica L )

7.      Payung Tambahan (Cyme)
Tandan yang kuntum-kuntum bunganya digantikan oleh payung-payung tambahan (cyme) disebut thyrse atau thyrsus. Payung-payung tambahan sekunder ini bisa saja dari tipe-tipe yang mana saja dari bunga majemuk monochasia (satu sumbu) atau dichasia(dua sumbu yang tumbuh)

Contoh :




·         Bunga Sekrup (Helicoid cyme)

Description: Related image

·         Heliotropium amplexicaule

Description: Image result for heliotropium amplexicaule adalah

Pengunduhan Buah dan Pengenalan Biji


PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Biji dapat diartikan sebagai suatu ovule atau bakal tanaman yang masak yang mengandung suatu tanaman mini atau embrio yang terbentuk dari bersatunya sel-sel generatif yaitu gamet jantan dan gamet betina di dalam kandung embrio, serta cadangan makanan yang mengelilingi embrio. Sedangkan benih adalah merupakan biji tumbuhan yang digunakan manusia untuk tujuan penanaman atau budidaya. Biji terdiri dari tiga bagian dasar yaitu embrio (epikotil/bakal pucuk, hipokotil/bakal akar, dan kotiledon/bakal daun), jaringan penyimpan cadangan makanan (karbohidrat, lemak, protein, dan mineral), dan pelindung biji (kulit biji, sisa nucleus, endosperm, dan kadang-kadang bagian dari buah) (Utomo, 2006).
            Perbenihan tanaman hutan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan sumberdaya geneti, pemuliaan tanaman hutan, pengadaan dan pengedaran benih dan bibit, dan sertifikasi. Benih tanaman hutan yang selanjutnya disebut benih adalah bahan tanaman berupa bahan generatif (biji) atau bahan vegetatif yang digunakan untuk mengembangbiakkan tanaman hutan. Bibit tanaman hutan yang selanjutnya disebut bibit adalah tumbuhan muda hasil pengembangbiakan secara generatif atau secara vegetatif. Sumber benih adalah suatu tegakan di dalam di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan yang dikelola guna memproduksi benih berkualitas (Permenhut, 2009).
            Mutu benih perlu diperhatikan sebab sangat menentukan keberhasilan usaha pertanaman yang dilakukan. Mutu benih menentukan jumlah benih yang harus disemaikan untuk memenuhi kebutuhan bibit ketika akan menanam, jumlah bibit yang tumbuh menjadi pohon yang normal setalah ditanam, dan jumlah pohon yang memiliki sifat yang diinginkan ketika akan dipanen. Sifat yang diinginkan antara lain: batang yang lurus, diameter besar, bebas cabang yang tinggi, percabangan ringan serta bebas dari serangan hama dan penyakit. Mutu benih tanaman hutan dikelompokan ke dalam 3 golongan yaitu: mutu fisik benih adalah mutu benih yang berkaitan dengan sifat fisik seperti ukuran, keutuhan, kondisi kulit, dan kerusakan kulit benih akibat serangan hama dan penyakit atau perlakuan mekanis, mutu fisiologis benih adalah mutu benih yang berkaitan dengan sifat fisiologis, misalnya kemampuan berkecambah, dan  mutu genetik benih adalah mutu benih yang berkaitan dengan sifat yang diturunkan dari pohon induknya (ICRAF, 2002).
Pengumpulan benih dari tanah hutan dibagi menjadi 2 teknik yaitu penggoyangan manual (menggunakan tangan, bantuan tali, pengait) dan penggoyangan mekanis (mesin). Teknik pengunduhan dengan menggunakan tangan dapat diterapkan pada tegakan yang rendah, atau memiliki cabang yang menjulur sampai ketanah sehingga mudah dilakukan pemanenan langsung dengan tangan atau dengan bantuan gunting atau gergaji. Teknik pengunduhan benih dengan galah dpat diterapkan apabila benih pada batang/cabang tidak dapat digapai dengan tangan. Teknik pengumpulan/pengunduhan buah/benih bisa juga dengan memanjat yang diperlukan keahlian khusus seorang pemanjat pohon. Pengunduhan dengan memanjat dapat dilakukan dengan cara langsung memanjat tanpa bantuan peralatan ataupun dengan bantuan peralatan tali. Pengunduhan buah dengan memanjat, si pemanjat harus dibekali pengetahuan tentang kriteria buah masak. Buah yang masak di pohon agak berbeda dengan yang sudah jatuh. Umumnya, buah yang masak di pohon beberapa belum menunjukkan perubahan warna yang signifikan (Kemdikbud, 2014).
Saga pohon berbuah sepanjang tahun, umumnya buah masak mulai bulan April hingga Agustus. Tanaman ini mulai berbuah pada umur lima tahun dan berbuah tiga kali setahun sampai umur 25-30 tahun. Proses pembungaan hingga polong buah tua diperlukan waktu kira-kira 3,5 sampai 4 bulan. Produksi biji kering per pohon per tahun antara 100 sampai 150 kilogram. Pengumpulan buah dapat dilakukan dengan cara memanjat atau mengunduh langsung dengan bantuan galah berkait. Buah yang sudah masak fisiologis berwarna coklat dan sebagian sudah merekah (Suita, 2013).
Tujuan
            Tujuan praktikum Silvika yang berjudul “Pengunduhan Buah dan Pengenalan Bagian Biji” ini adalah untuk memahami teknik-teknik pengunduhan buah dan ekstraksi benih agar dapat mengetahui cara pengunduhan buah dan mengenal bagian-bagian biji, asal terbentuknya, fungsinya dan bagaimana nanti proses perkecambahannya.



TINJAUAN PUSTAKA
Saga pohon (Adenanthera pavonina L.) merupakan tanaman serbaguna, semua bagian tanaman bermanfaat mulai dari biji, kayu, kulit batang dan daunnya. Saga pohon mampu memproduksi biji kaya protein serta tidak memerlukan lahan khusus untuk penanaman karena bisa tumbuh di lahan kritis, tidak perlu dipupuk atau perawatan intensif. Selain itu, hama dan gulmanya minim sehingga tidak memerlukan pestisida, jadi bersifat ramah lingkungan karena dapat ditanam bersama tumbuhan lainnya. Kandungan protein yang terdapat pada biji saga pohon tersebut juga lebih besar bila dibandingkan dengan kedelai dan beberapa tanaman komersil lainnya (Suita, 2013).
Jati putih (Gmelina arborea) merupakan salah satu tanaman cepat tumbuh (fast growing) yang banyak dibudidayakan di persemaian. Jati putih juga digunakan sebagai tanaman industri: Hutan Tanaman Industri (HTI), dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Untuk menghasilkan tanaman unggul, diperlukan teknik pemeliharaan tanaman berdasarkan kriteria mutu bibit. Dalam penelitian ini digunakan jati putih, merupakan tanaman penghasil kayu yang produktif dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Kayu jati putih biasanya digunakan sebagai bahan bangunan, bahan kertas, dan sebagai alternatif pengganti kayu sengon             (Arif dkk, 2016).
Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perlakuan awal pada benih yang ditujukan untuk mematahkan dormansi dan mempercepat terjadinya perkecambahan benih yang seragam. Skarifikasi (pelukaan kulit benih) adalah cara untuk memberikan kondisi benih yang impermeabel menjadi permeabel melalui penusukan; pembakaran, pemecahan, pengikiran, dan penggoresan dengan bantuan pisau, jarum, pemotong kuku, kertas,amplas, dan alat lainnya. Kulit benih yang permeabel memungkinkan air dan gas dapat masuk ke dalam benih sehingga proses imbibisi dapat terjadi. Benih yang diskarifikasi akan menghasilkan proses imbibisi yang semakin baik. Air dan gas akan lebih cepat masuk ke dalam benih karena kulit benih yang permeabel. Air yang masuk ke dalam benih menyebabkan proses metabolisme dalam benih berjalan lebih cepat akibatnya perkecambahan yang dihasilkan akan semakin baik          (Juhanda dkk, 2013).
Dalam  pengunduhan benih tanaman hutan dibutuhkan teknik-teknik tertentu karena kegiatan pengunduhan/pemanenan buah/benih tidak kalah pentingnya dengan pemilihan sumber benih, karena bila pengunduhan benih dilakukan dengan tidak benar maka akan diperoleh benih bermutu rendah. Semua usaha yang dilakukan untuk mencari sumber benih yang baik akan percuma bila pengunduhan benih tidak dilakukan dengan cara yang benar. Berikut ini teknis pelaksanaan pengunduhan benih (pemanenan dan pengumpulan benih) tanaman hutan menurut Ari Hidayanto, 2010 sebagai berikut yaitu teknik pengumpulan benih dari lantai hutan / tanah. Pengumpulan benih dari lantai hutan yang jatuh secara alami diyakini paling mudah, murah dan tidak membutuhkan tenaga kerja ahli. Akan tetapi teknik ini juga memiliki keterbatasan. Teknik pengunduhan/ pengumpulan benih dari lantai hutan dapat dilakukan jika jenis benih memiliki karakteristik sebagai berikut: ukuran benih sedang-besar, buah tidak memecah/menyebar, benih tidak mudah dimangsa, benih tidak mudah berkecambah, dan benih tidak mudah rusak/ kehilangan viabilitas       (Kemdikbud, 2014).
Secara umum biji terdiri atas tiga bagian yaitu: kulit biji (seed coat/testa), jaringan penyimpan cadangan makanan, dan embrio. Apabila biji digambarkan sebagai sebuah bola, maka di bagian luar dibatasi oleh struktur pembungkus atau lapisan pelindung. Kulit biji berkembang dari integument atau perpaduan dari kulit buah (dinding ovary) atau pericarp dengan kulit biji. Kulit biji tersebut sudah menyatu dalam perkembangannya dengan buah. Atau dapat pula terdiri dari pericarp dan kulit biji yang sesungguhnya bersatu dengan tangkai ovule. Kulit biji mempunyai fungsi sebagai pelindung, pengatur, dan pembatas. Yaitu untuk memegang bagian dalam biji, melindungi bagian luar dari benturan dan gesekan, mengatur kondisi suci hama (steril) di dalam biji dan menghambat masuknya jasad renik, mengatur kecepatan penyerapan air komponen bagian dalam, mengatur kecepatan masuknya oksigen, karbondioksida, dan gas lain yang dibutuhkan untuk metabolisme mengatur perkecambahan dengan menyebabkan dormansi biji. Pada biji ada beberapa struktur yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan makanan, yaitu kotiledon, endosperm, perisperm, dan gametofit betina yang haploid (Mulawarman dkk, 2002).
Biji-biji yang memiliki kotiledon ini pada waktu matang hanya mempunyai: kotiledon, embrio, dan kulit biji. Dan akan berkecambah relatif lebih cepat, karena proses pencernaan sudah terjadi lebih dahulu. Endosperm diserap oleh embrio sebelum dan atau selama proses perkecambahan biji. Biji-biji tipe ini akan berkecambah relatif lebih lambat, karena proses penyerapan air dan pencernaan tidak akan terjadi atau baru dimulai sewaktu biji tersebut dikecambahkan. Pada umumnya endosperm merupakan hasil pembelahan sel endosperm primer secara mitosis berkali-kali, dan berfungsi memberi makan embrio yang sedang berkembang. Tidak semua golongan tumbuhan mempunyai endosperm. Tumbuhan yang tidak mempunyai endosperm adalah suku Orchidaceae, Podostemaceae dan Trapaceae. Sel-sel endosperm biasanya berbentuk isodiametris, di dalamnya terdapat butir-butir amilum, lemak, protein, atau butir-butir aleuron. Di perisperm sewaktu ovule sedang tumbuh, embrio juga tumbuh, nucellus tidak habis dipakai untuk pertumbuhan tersebut malah adakalanya berkembang, sehingga terbentuk suatu jaringan yang disebut perisperm dan masih terdapat pada biji di waktu matang. Pada gametofit betina yang haploid, cadangan makanan yang tersimpan dalam biji umumnya terdiri dari: karbohidrat, lemak, protein dan mineral. Komposisi dan persentasenya berbeda-beda tergantung pada jenis biji (Ningsih, 2016).
Embrio adalah tanaman baru yang terbentuk dari bersatunya gamet jantan dan gamet betina pada suatu proses pembuahan. Embrio yang sempurna akan terdiri dari: bakal pucuk, bakal akar, dan bakal daun. Embrio yang terdapat dalam biji terbentuk melalui enam fase yaitu fase pembentukan benang sari dan putik di dalam kuncup bunga, fase mekarnya bunga yang merupakan tanda bahwa organ ini telah siap, fase persarian yakni perpindahan serbuk sari dari benang sari ke kepala putik, fase perkecambahan serbuk sari dan perkecambahan tabung sari, pembuahan sel telur dan inti kutub oleh inti sperma ari tabung sari, fase pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi dan proses pembagian diri menjadi embrio dan kulit pelindung, dan fase pemasakan biji bersamaan dengan pengumpulan cadangan makanan (Utomo, 2006).



METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
          Praktikum Silvika yang berjudul “Pengunduhan Buah dan Pengenalan Biji” dilaksanakan pada Senin, 06 Maret 2017 pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Ekologi Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Alat dan Bahan
          Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain pinset, penghapus, pensil berwarna, penggaris, pisau (cutter), dan sarung tangan. Bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain buku pengamatan, buah jati putih (Gmelina arborea), biji saga (Adenanthera pavonnina), air, kertas A4, dan kantong plastik.
Prosedur Praktikum
A.      Pengunduhan Buah
1. Dicarilah buah dari famili fabaceae (Acacia auriculiformis atau   Paraserianthes falcataria).
2. Dijemurlah buah-buah tersebut pada terik sinar matahari.
3. Setelah kulitnya kering, dipukul dengan tongkat kayu bulat kecil sampai bijinya keluar.
4. Dipilihlah biji-biji tersebut.
5. Digambarlah biji yang masih utuh, disebutkan warna dan ukurannya (panjang, lebar, serta tebalnya).
B.  Pengenalan Bagian Biji
1.      Dicarilah buah yang berdaging seperti jati putih (Gmelina arborea)       (suku Verbenaceae).
2.    Direndamlah dalam air beberapa hari.
3.    Dikupaslah daging buah dengan menggunakan pisau ataupun alat lain.
4.    Dibersihkan biji-biji tersebut dari daging dan selaput yang lain.
5.    Digambarlah biji yang masih utuh, disebutkan warna dan ukurannya (panjang, lebar, serta tebalnya).
6.    Dibelahlah biji secara membujur sehingga mengenai bagian tengah embrio kemudian digambar dan disebutkan juga bagian-bagiannya, warnanya, serta perbedaan yang nampak antara biji yang sudah direndaam dan yang masih segar.
                                              HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Hasil dari Praktikum Silvika yang berjudul “Pengunduhan Buah dan Pengenalan Biji” adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Data Pengunduhan Buah
Kelompok
Nama Jenis
Jumlah
1
Sengon (Paraserianthes falcataria)
410
2
Saga (Adenanthera pavonnina)
401
3
Akasia (Acacia auriculiformis)
282
4
Sengon (Paraserianthes falcataria)
251
5
Saga (Adenanthera pavonnina)
299
6
Akasia (Acacia auriculiformis)
250
Total

1.902
Pembahasan
Dari hasil Praktikum Silvika yang berjudul “Pengunduhan Buah dan Pengenalan Biji” dihasilkan data seperti pada tabel 1 bahwa biji sengon (Paraserianthes falcataria), saga (Adenanthera pavonnina), dan akasia      (Acacia auriculiformis) berjumlah 1.902. Pada hasil pengunduhan buah sengon (Paraserianthes falcataria) yang dilakukan oleh kelompok 1 dan kelompok 4 didapati perbedaan jumlah biji yang disebabkan oleh faktor lokasi pengunduhan biji yang sama namun dengan waktu yang berbeda, dimana kelompok 1 mendapatkan 410 biji sedangkan kelompok 4 mendapatkan 251 biji. Kelompok 2 dan kelompok 5 mengunduh biji dari saga (Adenanthera pavonnina) dengan jumlah biji pada kelompok 2 sebanyak 410 dan kelompok 5 sebanyak 299 biji. Perbedaan hasil didapat karena perbedaan teknik pengunduhan yang dilakukan, dimana kelompok 2 dengan metode pengunduhan langsung pada lantai hutan dan penggoyangan ranting pohon sedangkan kelompok 5 hanya menggunakan metode pengumpulan di lantai hutan saja. Pada pengunduhan biji akasia                   (Acacia auriculiformis) yang dilakukan oleh kelompok 3 dan kelompok 6 tidak terdapat perbedaan yang signifikan dimana kelompok 3 sebanyak 282 biji dan kelompok 6 sebanyak 250 biji. Hal ini disebabkan karena pengunduhan yang dilakukan dilaksanakan pada tempat dan waktu yang bersamaan. Jumlah total biji sengon (Paraserianthes falcataria), saga (Adenanthera pavonnina), dan akasia (Acacia auriculiformis) masing-masingnya adalah 661, 700, dan 532 biji. Dari jumlah tersebut dapat menunjukkan bahwa pengunduhan buah yang paling mudah dilakukan adalah mengunduh buah saga, lalu akasia, dan kemudian biji sengon.
Kami memakai teknik pengunduhan dibawah tegakan dikarenakan pohon yang kami unduh buahnya mencapai tinggi hampir 14 meter sehingga tidak mudah untuk kami gapai secara langsung. Hal ini sesuai dengan pernyataan Krisnawati (2011) yang menyatakan bahwa, pohon sengon umumnya berukuran cukup besar dengan tinggi pohon total mencapai 40 m dan tinggi bebas cabang mencapai 20 m. Diameter pohon dewasa dapat mencapai 100 cm atau kadang-kadang lebih.
Biji terdiri dari beberapa bagian, bagian biji yang pertama ialah kulit biji spermodermis berasal dari selaput bakal biji atau integumentum. Bagian kedua ialah tali pusar funiculus. Dan bagian ketiga ialah inti biji atau nucleus seminis yang terdiri dari lembaga, calon akar, daun lembaga, batang lembaga, putih lembaga. Bagian biji pada akasia ialah biji dan tali pusar. Bagian-bagian buah pada jati putih adalah daging buah dan biji. Ketika biji buah jati putih dibelah, didalam biji terdapat bakal tumbuh dan daging biji.
Untuk mendapatkan benih yang berkualitas hendaklah kita harus selektif dalam memilih tegakan dan cara pengambilannya yang tepat. Pada saat melakukan pengunduhan buah jati kelompok kami melakukan pemilihan buah jati yang sudah jatuh ke lantai hutan pengumpulan buah jati (Gmelina arborea) lebih baik dilakukan ketika masih hijau atau kuning.
Pada buah pohon jati putih (Gmelina arborea) dibagi menjadi dua kondisi yang berbeda, yaitu antara diberi perlakuan dengan tidak diberi perlakuan sama sekali. Perlakuan yang diberikan pada buah jati putih adalah dengan merendam buah selama 24 jam. Buah yang direndam memiliki warna yang lebih pekat yaitu kuning kecoklatan daripada buah yang tidak direndam yang masih berwarna hijau segar. Dengan merendam biji kita dapat menentukan mana biji yang layak dijadikan benih dan mana biji yang tidak layak. Biji yang layak pakai memiliki karakteristik seperti benih bersih dari kotoran, benih berisi, benih memiliki warna yang cerah, benih memiliki ukuran yang normal atau sesuai rata-rata, benih dapat tenggelam jika di rendam di dalam air untuk menghindari kemungkinan tumbuh yang kecil.
                                   KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.    Teknik pengunduhan buah antara lain dengan cara pemanjatan, mengambil dengan galah atau tali, mengumpulkan langsung dari bawah tegakan, dan penggoyangan.
2.    Pengunduhan buah yang paling banyak diunduh adalah saga (Adenanthera pavonnina) sebanyak 709 buah. Sedangkan pengunduhan buah yang paling sedikit adalah akasia (Acacia auriculiformis) sebanyak 532 buah.
3.    Bagian dari buah jati putih (Gmelina arborea) yang buahnya direndam memiliki warna yang lebih pekat yaitu kuning kecoklatan daripada buah yang tidak direndam yang masih berwarna hijau daun.
4.    Biji yang layak pakai adalah memiliki karakteristik seperti benih bersih dari kotoran, benih berisi, benih memiliki warna yang cerah, dan benih memiliki ukuran yang normal atau rata-rata.
5.    Pada biji akasia bagian-bagian biji berupa tali pusar dan biji. Bagian-bagian pada buah jati putih ialah daging buah dan biji. Didalam biji terdapat daging biji dan bakal tumbuh.
Saran
Sebaiknya para praktikan harus benar-benar tepat waktu dalam merendam buah Jati Putih (Gmelina arborea), agar terlihat perbedaan yang sesungguhnya antara buah yang diberi perlakuan dengan yang tidak diberi perlakuan.







LAPORAN PRAKTIKUM SILVIKULTUR JUDUL PEMUPUKAN

PENDAHULUAN Latar belakang Kesuburan tanah adalah potensi tanah untuk menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup, dalam bentuk...