Selasa, 29 Januari 2019

Laporan praktikum silvika judul pengaruh matahari terhadap pertumbuhan tanaman


Latar Belakang
 Cahaya matahari mempunyai peranan besar dalam proses fisiologi tanaman seperti fotosintesis, respirasi, pertumbuhan dan menutup membukanya stomata, perkecambahan tanaman, sehingga ketersediaan cahaya matahari menentukan tingkat produksi tanaman. Cahaya matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan, tanpa adanya cahaya matahari kehidupan tidak akan ada. Bagi pertumbuhan tanaman ternyata pengaruh cahaya selain ditentukan oleh kualitasnya ternyata ditentukan intensitasnya. Intensitas cahaya adalah banyaknya energi yang diterima oleh suatu tanaman per satuan luas dan per satuan waktu (kal/cm2/hari). Dengan demikian pengertian intensitas yang dimaksud sudah termasuk lama penyinaran, yaitu lama matahari bersinar dalam satu hari. Pada dasarnya intensitas cahaya matahari akan berpengaruh nyata terhadap sifat morfologi tanaman. Hal ini dikarenakan intensitas cahaya matahari dibutuhkan untuk berlangsungnya penyatuan CO2 dan air untuk membentuk karbohidrat (Lukitasari, 2012).
Perbedaan tingkat naungan mempengaruhi intensitas cahaya, suhu udara, dan kelembaban udara lingkungan tanaman, sehingga intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman berbeda dan mempengaruhi ketersediaan energi cahaya yang akan diubah menjadi energi panas dan energi kimia. Apabila energi cahaya tidak dilepaskan kembali ke lingkungannya, energi tersebut akan diubah menjadi energi panas dan akan menaikkan suhu daun sedangkan energi cahaya diubah menjadi energi kimia yaitu melalui proses fotosintesis dengan menghasilkan karbohidrat yang digunakan tanaman dalam proses pertumbuhannya. Kelembaban udara yang terlalu rendah dan terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan dan pembungaan tanaman. Kelembaban udara dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena dapat mempengaruhi proses fotosintesis. Laju fotosintesis meningkat dengan meningkatnya kelembaban udara sekitar tanaman. Iklim mikro mempengaruhi transpirasi antara lain radiasi cahaya mempengaruhi membukanya stomata, sehingga transpirasi berjalan lancar. Kenaikan suhu udara akan mempengaruhi kelembaban  (Pantilu, 2012).
Perbedaan tingkat naungan mempengaruhi intensitas cahaya, suhu udara, kelembaban udara dan suhu tanah lingkungan tanaman, sehingga intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman berbeda dan mempengaruhi ketersediaan energi cahaya yang akan diubah menjadi energi panas dan energi kimia. Semakin besar tingkat naungan (semakin kecil intensitas cahaya yang diterima tanaman) maka suhu udara rendah, kelembaban udara semakin tinggi. Kelembaban udara yang terlalu rendah dan terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan dan pembungaan tanaman. Kelembaban udara dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena dapat mempengaruhi proses fotosintesis. Laju fotosintesis meningkat dengan meningkatnya kelembaban udara sekitar tanaman. Dengan intensitas cahaya yang rendah, tanaman menghasilkan daun lebih besar, lebih tipis dengan lapisan epidermis tipis, jaringan palisade sedikit, ruang antar sel lebih lebar dan jumlah stomata lebih banyak. Sebaliknya pada tanaman yang menerima intensitas cahaya tinggi menghasilkan daun yang lebih kecil, lebih tebal, lebih kompak dengan jumlah stomata lebih sedikit, lapisan kutikula dan dinding sel lebih tebal dengan ruang antar sel lebih kecil dan tekstur daun keras (Widiastuti, 2004).
Proses fotosintesis dan metabolisme suatu tanaman dipengaruhi oleh faktor luar seperti sinar matahari, tersedianya air, hara mineral dan kondisi tempat tumbuh. Intensitas cahaya terlalu rendah atau terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan tinggi tanaman. Intensitas cahaya yang terlalu rendah akan menghasilkan produk fotosintesis yang tidak maksimal, sedangkan intensitas cahaya yang terlalu tinggi akan berpengaruh terhadap aktivitas sel-sel stomata daun dalam mengurangi transpirasi sehingga mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman. Naungan 40% memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan bibit yang berumur 5 bulan yang menunjukkan bahwa dalam pertumbuhannya, tanaman sangat memerlukan cahaya, sehingga ketika mendapatkan cahaya yang cukup untuk aktivitas fisiologisnya (0-40%), tanaman cenderung melakukan pertumbuhan ke samping (Kurniaty, 2009).
Tujuan
Tujuan dari Praktikum Silvika yang berjudul "Pengaruh Cahaya Terhadap Pertumbuhan Tanaman" ini adalah untuk mengetahui respon dan perubahan pada pertumbuhan tanaman dalam berbagai kondisi cekaman cahaya.
                                        TINJAUAN PUSTAKA
Cahaya merupakan faktor esensial untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Cahaya berperan penting dalam proses fisiologi tanaman, terutama fotosintesis, respirasi, dan transpirasi. Unsur radiasi matahari yang penting bagi tanaman ialah intensitas cahaya, kualitas cahaya, dan lamanya penyinaran. Bila intensitas cahaya yang diterima rendah, maka jumlah cahaya yang diterima oleh satuan luas permukaan daun dalam jangka waktu tertentu rendah. Pada kebanyakan tanaman, kemampuan tanaman dalam mengatasi cekaman intensitas cahaya rendah tergantung kepada kemampuannya melanjutkan fotosintesis dalam kondisi kekurangan cahaya, seperti yang dilaporkan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Adaptasi tanaman terhadap intensitas cahaya rendah melalui dua cara, yaitu peningkatan luas daun untuk mengurangi penggunaan metabolit dan mengurangi jumlah cahaya yang ditransmisikan dan yang direfleksikan. Pengurangan cahaya pada tanaman yang telah memperoleh cahaya, suhu dan kelembaban yang optimum akan menyebabkan pengurangan pertumbuhan akar dan tanaman menunjukkan gejala etiolasi (Pantilu, 2012).
            Pemberian naungan pada berbagai stadia pertumbuhan berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga per tanaman, jumlah polong per tanaman, jumlah polong berisi per tanaman, berat 100 biji, dan produksi biji kering pada berbagai macam varietas tanaman kedelai. Pemberian naungan 20% memberikan hasil yang lebih baik apabila diaplikasikan pada awal pengisian polong dibandingkan dengan awal tanam atau awal berbunga. Pengaturan pertumbuhan tanaman dapat pula dilakukan dengan zat penghambat pertumbuhan yang fungsinya menekan pertumbuhan memanjang dari tunas sehingga membentuk percabangan yang pendek dan kekar. Penghambat pertumbuhan diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok yaitu fitohormon, penghambat alami lain (termasuk derivat asam fenolat dan asam benzoat serta lakton) dan penghambat pertumbuhan sintetik. Penghambat pertumbuhan biasanya digunakan untuk memperpendek panjang ruas dan tinggi tanaman. Luas daun, penyerapan cahaya dan hasil panen umumnya tidak berkurang karena aplikasi zat penghambat pertumbuhan (Widiastuti, 2004).
            Berdasarkan ekologi terhadap kemampuan penerimaan cahaya, secara garis besar tanaman dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu: Heliofit, tanaman yang tumbuh baik jika terkena cahaya matahari penuh, dan Skiofit, tanaman yang tumbuh baik pada intensitas cahaya yang rendah. Secara umum, terdapat dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, yaitu faktor makro dan faktor mikro. Yang termasuk dalam faktor makro adalah: cahaya matahari, suhu, kelembaban, awan, angin, serta pencemaran udara. Sedangkan faktor mikro meliputi media tumbuh dan kandungan O2 dan CO2 yang ada di udara. Tanaman yang mendapatkan cahaya matahari dengan intensitas yang tinggi menyebabkan lilit batang tumbuh lebih cepat, susunan pembuluh kayu lebih sempurna, internodia menjadi lebih pendek, daun lebih tebal tetapi ukurannya lebih kecil dibanding dengan tanaman yang terlindung. Beberapa efek dari cahaya matahari penuh yang melebihi kebutuhan optimum akan dapat menyebabkan layu, fotosistesi lambat, laju respirasi meningkat tetapi kondisi tersebut cenderung mempertinggi daya tahan tanaman. Tanaman hijau memanfaatkan cahaya matahari melalui proses fotosintesis (Lukitasari, 2012).
Proses transpirasi merupakan proses pelepasan molekul air dari daun melalui stomata yang disebabkan oleh terjadinya pemanasan permukaan daun oleh cahaya matahari. Sebagian dari energi cahaya matahari akan diserap oleh tumbuhan untuk membantu reaksi terang pada proses fotosintesis. Namun sebagian energi cahaya matahari jika tidak dilepaskan justru akan meningkatkan suhu tumbuhan, terutama pada bagian daun yang berstruktur tipis. Hal ini akan membahayakan bagi keberlangsungan proses metabolismenya bahkan merusak komponen penyusunnya dan enzim yang relatif sensitif. Maka untuk menetralisis suhu yang berlebihan, daun melakukan mekanisme pelepasan molekul air ke udara melalui stomata. Energi cahaya matahari yang diterima daun sebagian akan dipakan untuk meningkatkan energi kinetik molekul air, sehingga bisa lepas ke udara bersama energi panas sedangkan air yang masih tertinggal masih relatif dingin. Pada intensitas cahaya yang cukup tanaman cenderung memacu pertumbuhan diameternya sehingga tanaman yang tumbuh pada tempat terbuka mempunyai tendensi untuk menjadi pendek dan kekar (Onrizal, 2009).
Cahaya matahari mempunyai fungsi yang sangat penting pada aktivitas fotosintesa, apabila terjadi penurunan aktivitas fotosintesa maka akan terjadi perubahan karakteristik fisiologis dan morfologis tanaman, sehingga berdampak pada produktivitas tanaman. Karbon dioksida merupakan bahan utama pada aktifitas fotosintesa. Apabila keberadaan CO2 di udara berkurang maka akan mengurangi aktifitas fotosintesa, dan terjadilah perubahan karakter fisiologis maupun morfologi tanaman yang dampaknya adalah penurunan produktivitas tanaman. Intensitas cahaya berpengaruh terhadap aktivitas pertumbuhan, perubahan morfologi dan karakter fisiologis, aktivitas metabolisme metabolit primer dan sekunder. Konduktasi stomata meningkat dengan meningkatnya intensitas cahaya, berkorelasi positif dengan peningkatan laju fotosintesa, laju transpirasi, akumulasi biomas dan karbohidrat, yang mulai dari intensitas cahaya 310 μmol m−2s−1 atau setara dengan 60% naungan, 460 μmol m−2s−1 setara dengan 40% naungan, 630 μmol m−2s−1 setara dengan 20% naungan, hingga mendapat penyinaran penuh (790 μmol m−2s−1) (Rahardjo, 2001).
Pengaruh cahaya akan berkaitan langsung dengan lama penyinaran harian matahari (fotoperiodisitas). Hubungan antara pengaruh cahaya dan perkecambahan biji dikontrol suatu system pigmen yang dikenal sebagai fitokrom, yang tersusun dari chromophore dan protein. Chromophore adalah bagian yang peka terhadap cahaya. Fitokrom memiliki dua bentuk yang sifatnya reversible (bolak-balik) yaitu fitokrom merah yang mengabsorbsi sinar merah dan fitokrom infra merah yang mengabsorbsi sinar infra merah. Dalam keadaan tanpa cahaya, dengan adanya oksigen dan suhu yang rendah, proses perubahan itu akan berlangsung lambat. Pada keadaan di alam, cahaya merah mendominasi cahaya infra merah sehingga pigmen fitokrom diubah ke bentuk fitokrom infra merah yang aktif (Kusfebriani, 2010).
Matahari merupakan sumber energi utama yang memberikan kehidupan di bumi. Akan tetapi, energi matahari tidak dapat dimanfatkan secara langsung oleh semua organisme yang ada di bumi. Hanya organisme autotrof yang dapat memenfaatkan cahaya matahari secara langsung melalui proses fotosintesa yang dapat menghasilkan makanan bagi organisme autotrof tersebut maupun organisme heterotrof yang memakan organisme autotrof (Kemdikbud, 2013).
                                           DAFTAR PUSTAKA
Indriyanto. 2010. Pengantar Budi Daya Hutan. Bumi Aksara. Jakarta.
Marsono, D. 1992. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Putri, I, R . 2009. Pengaruh Intensitas Cahaya Matahari Terhadap jenis Tanaman Shorea. Diakses dari repository.ipb.ac.id/bitstream/123456789/12885/2/E09irp.pdf.[24Mei 2015] [pukul 18.00 WIB].
Simarmata, E. 2011. Hutan Mangrove. Diakses dari repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29411/4/Chapter%20II.pdf. [24 Mei 2015] [pukul 17.00 WIB].
Sitompul dan Guritno. 1995. Analisis pertumbuhan Tanaman. Gadjah mada University Press. Yogyakarta.
Widiastuti, Tohera, dan Sulistyaningsih. 2004.Pengaruh Intensitas Cahaya dankadar Daminosida Terhadap Iklim Mikro dan Pertumbuhan Tanaman Krisan. Diakses dari repository.ipb.ac.id/bitstream/123456789/12885/2/no.4_krisan.pdf [24 Mei 2015] [pukul 18.30 WIB].









Pengaruh Air Terhadap Pertumbuhan Tanaman


N







DAHULUAN
Latar Belakang
Air esensial bagi kehidupan. Hidup dan kehidupan manusia, flora dan fauna, makroorganisme dan mikroorganisme sangat tergantung pada air. Sehingga, secara alamiah, dapat dipahami bahwa tanpa air tidak ada kehidupan, karena berbagai fungsi air bagi kehidupan tidak tergantikan oleh benda lain. Air merupakan faktor penting untuk memfungsikan secara tepat sebagian besar proses-proses tumbuh-tumbuhan dan tanah. Air mempengaruhi hampir semua proses dalam tumbuhan, aktivitas metabolisme sel dan tumbuh-tumbuhan berkaitan dengan kadar air. Untuk melangsungkan proses metabolik yang diperlukan tanaman, air memerankan berbagai fungsi di dalam tanah. Sebagai pelarut dan media transfer unsur hara, sumber hidrogen, pengatur suhu tanah dan aerasi serta sebagai pengencer bahan beracun di dalam tanah. Selain itu, air berperan dalam mempertahankan tekanan turgor sel dan suhu dalam tubuh tanaman sehingga metabolisme dalam tanaman tidak terganggu (Onrizal, 2009).
Kekurangan air akan menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan perkembangannya menjadi abnormal. Kekurangan yang terjadi terus-menerus selama periode pertumbuhan akan menyebabkan tanaman tersebut menderita dan kemudian mati. Sedang tanda-tanda pertama yang terlihat ialah layunya daun-daun. Peristiwa kelayuan ini disebabkan karena penyerapan air tidak dapat mengimbangi  kecepatan penguapan air dari tanaman. Air merupakan komponen utama tubuh tanaman. Air yang diserap tanaman di samping berfungsi sebagai komponen sel-selnya, juga berfungsi sebagai media reaksi pada hampir seluruh proses metabolismenya yang apabila telah terpakai diuapkan melalui mekanisme transpirasi, yang bersama-sama dengan penguapan dari tanah sekitarnya (evaporasi) disebut evapotranspirasi. Kadar air tanah (water storage) merupakan selisih masukan air (water gain) dari presipitasi (meliputi hujan, salju, kabut) yang menginfiltrasi tanah ditambah hasil kondensasi (oleh tanaman tanah) dan adsorpsi (oleh tanah) dikurangi air yang hilang (water loss) lewat evapotranspirasi, aliran permukaan, perlokasi dan rembesan lateral       (Kurniawan, 2014).
Air dalam tanaman berkisar antara 80-90 persen dari berat kering tanaman. Persentase ini akan menjadi lebih besar lagi pada bagian-bagian tanaman yang sedang aktif tumbuh. Penyerapan air (water absorbtion) oleh akar ini sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yaitu air yang tersedia dalam tanah, temperatur tanah, aerasi tanah dan konsentrasi larutan tanah. Kekurangan air (water deficit) akan mengganggu keseimbangan kimiawi dalam tanaman yang berakibat berkurangnya hasil fotosintesis atau semua proses-proses fisiologis berjalan tidak normal. Apabila keadaan ini berjalan terus, maka akibat yang terlihat, misalnya tanaman kerdil, layu, produksi rendah, kualitas turun dan sebagainya. Pengaruh kekurangan air pada tanaman dapat dijelaskan yaitu sejak bermulanya pembentukan daun, luas daun dan jumlahnya maupun terhadap perkembangan luas sel-sel palisade pada daun-daun yang sedang mulai berkembang tersusun atas 5 (lima) lembar per tanaman sampai dengan periode pertumbuhan (Harwati, 2007).
Air merupakan komponen penting bagi berlangsungnya berbagai proses fisiologi seperti serapan hara, fotosintesis dan reaksi biokimia sehingga penurunan absorbsi air mengakibatkan hambatan pertumbuhan dan penurunan hasil. Periode masa kekeringan dapat terjadi pada setiap fase pertumbuhan, namun tanaman sangat sensitif terhadap cekaman kekeringan pada fase pembungaan sampai pengisian biji (Ciptaningtyas, 2013).
Air merupakan bagian yang terpenting di dalam tanaman, lebih kurang 80% dari tanaman merupakan air. Air merupakan medium zat-zat lain yang diangkut dari satu sel ke sel lain di dalam tanaman. Tanaman yang kekurangan air terlihat daunnya layu, apabila tanaman kemudian mendapat air dan tanaman segar kembali, maka kondisi ini disebut layu sementara. Apabila kekurangan air terus berlanjut maka berikutnya akan terjadi layu permanen, tanaman akan mati walaupun diberi air (Rahardjo, 2013).
Tujuan
Tujuan dari Praktikum Silvika yang berjudul "Pengaruh Air Terhadap Pertumbuhan Tanaman" ini adalah untuk mengetahui respon tanaman dalam berbagai kondisi cekaman air.
                                       TINJAUAN PUSTAKA
Peranan air dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, yaitu air merupakan bahan penyusun utama dari pada protoplasma. Kandungan air yang tinggi aktivitas fisiologis tinggi sedang kandungan air rendah aktivitas fisiologisnya rendah. Air merupakan reagen dalam tubuh tanaman, yaitu pada proses fotosintesis. Air merupakan pelarut substansi (bahan-bahan) pada berbagai hal dalam reaksi-reaksi kimia. Air digunakan untuk memelihara tekanan turgor. Sebagai pendorong proses respirasi, sehingga penyediaan tenaga meningkat dan tenaga ini digunakan untuk pertumbuhan. Secara tidak langsung dapat memelihara suhu tanaman. Untuk mencukupi kebutuhannya, tanaman mengambil air dari tanah, tetapi tidak semua air yang berada dalam tanah dapat digunakan oleh tanaman. Air tanah dapat diklasifikasikan menjadi, yaitu air higroskopis, air kapiler dan air gravitasi. Dari ketiga klasifikasi tersebut, air kapiler dan air gravitasi ini digunakan oleh tanaman dalam kehidupannya pada batas tertentu saja. Batas tersebut adalah batas atas sering disebut kapasitas lapang (field capacity) dan batas bawah disebut persentase kelayuan tetap (Harwati, 2007).
            Alasan mengapa air diperlukan untuk pertumbuhan pohon antara lain adalah karena air merupakan komponen utama dan terbesar dari pohon, sebagai pelarut dan medium untuk berbagai proses biokimia dalam pohon, sebagai pelarut dan sebagai media transfer unsur hara, sebagai baku fotosistesis (bersama CO2), dan reaksi biokimia lainnya dalam pohon, mempertahankan tekanan turgor (turgiditas) sel, mengatur dan mempertahankan suhu di dalam pohon,sehingga metabolisme pohon tidak terganggu akibat fluktuasi suhu lingkungan, mengatur suhu tanah dan aerasi serta sebagai pengencer, bahan beracun di dalam tanah, sehingga pohon tidak mengalami keracunan. Air sebagai pelarut dalam suatu organisme sangat penting untuk proses metabolisme, misalnya proses osmosis sangat bergantung pada bahan terlarut yang ada di dalam cairan sel. Struktur molekul protein dan asam nukleat serta aktivitas biologis protoplasma sangat bergantung pada molekul air. Molekul air secara aktif terlibat dalam reaksi kimia yang menjadi dasar kehidupan, bersama dengan molekul CO2 air merupakan substrat bagi fotosintesis (Onrizal, 2009).
            Air membatasi pertumbuhan tanaman, jika jumlahnya terlalu banyak akan sering menimbulkan genangan atau cekaman aerasi, jika jumlahnya terlalu sedikit akan sering menimbulkan cekaman kekeringan, diperlukan upaya pengaturan lengas tanah supaya kondisi air optimum melalui pembuatan saluran drainase untuk mencegah terjadinya genangan, maupun saluran irigasi untuk mencegah cekaman kekeringan. Pada tanaman legum, genangan tidak hanya menghambat pertumbuhan akar maupun tajuk, juga menghambat perkembangan dan fungsi bintil akar. Yang terganggu karena terhambatnya aktifitas enzim nitrogenase dan pigmen leghaemoglobin, kemampuan fiksasi N2 akan menurun. Tanaman kedelai termasuk tanaman yang tahan genangan, mampu membentuk akar adventif dan bintil akar pada akar tersebut, efek genangan akan hilang begitu akar adventif terbentuk. Faktor yang mempengaruhi penurunan pertumbuhan secara langsung bukan potensial air, tetapi potensial osmotik atau tekanan turgor. Tekanan turgor sel tanaman akan mempengaruhi aktivitas fisiologis antara lain pengembangan daun, bukaan stomata, fotosintesis, dan pertumbuhan akar (Ariyanto, 2010).
            Air adalah salah satu komponen fisik yang sangat penting dan diperlukan dalam jumlah banyak untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sekitar 85-90 % dari bobot segar sel-sel dan jaringan tanaman tinggi adalah air. Air berfungsi sebagai pelarut hara, penyusun protoplasma, bahan baku fotosintesis dan lain sebagainya. Kekurangan air pada jaringan tanaman dapat menurunkan turgor sel, meningkatkan konsentrasi makro molekul serta mempengaruhi membran sel dan potensi aktivitas kimia air dalam tanaman. Mengingat pentingnya peran air tersebut, maka untuk tanaman yang mengalami kekurangan air dapat berakibat pada terganggunya proses metabolisme tanaman yang pada akhirnya berpengaruh pada laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Cekaman kekurangan air dapat menghambat aktifitas fotosintesis dan distribusi asimilat ke dalam organ reproduktif. Air sebagai penyusun protoplasma, lebih banyak berperan untuk menjaga turgor sel agar sel dapat berfungsi secara normal. Bila sel kekurangan air untuk waktu cukup lama, isi sel akan terlepas dari dindingnya yang mengakibatkan rusaknya sel dan akhirnya tanaman mati (Kurniawan, 2014).
Pengamatan kondisi lingkungan terdiri dari suhu dan kelembaban udara, kadar lengas tanah, kadar air tanaman, pertumbuhan tanaman, seperti jumlah daun, luas daun, tinggi tanaman, bobot segar tanaman dan bobot kering tanaman. Daun merupakan salah satu organ tanaman yang berperan dalam proses fotosintesis. Tanaman budidaya cenderung menginvestasikan sebagian besar awal pertumbuhan mereka dalam bentuk penambahan luas daun, yang berakibat pemanfaatan radiasi matahari yang efisien. Cekaman kekeringan memberikan pengaruh terhadap parameter luas daun. Pada kondisi cekaman kekeringan, tanaman melakukan tekanan transpirasi dengan menekan pertumbuhan tajuk (mengurangi luas daun). Komponen hasil diamati dengan menghitung bobot biji, bobot biji per tanaman, efisiensi penggunaan air, dan indeks panen. Efisiensi penggunaan air dinyatakan dalam banyaknya hasil yang didapat per satuan air yang digunakan dalam gram bahan kering per liter air. Efisiensi penggunaan air dikaitkan dengan hasil panen dalam hubungannya dengan jumlah air yang digunakan untuk memproduksi hasil panen (Ciptaningtyas, 2013).
Pada musim kemarau, tumbuhan sering mendapatkan cekaman air (water stress) karena kekurangan pasokan air di daerah perakaran dan laju evapotranspirasi yang melebihi laju absorbsi air oleh tumbuhan. Sebaliknya pada musim penghujan, tumbuhan sering mengalami kondisi jenuh air. Air seringkali membatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya. Respon tumbuhan terhadap kekurangan air dapat dilihat pada aktivitas metabolismenya, morfologinya, tingkat pertumbuhannya, atau produktivitasnya. Pertumbuhan sel merupakan fungsi tanaman yang paling sensitif terhadap kekurangan air. Kekurangan air akan mempengaruhi turgor sel sehingga akan mengurangi pengembangan sel, sintesis protein, dan sintesis dinding sel. Pengaruh kekurangan air selama tingkat vegetatif adalah berkembangnya daun-daun yang ukurannya lebih kecil, yang dapat mengurangi penyerapan cahaya. Kekurangan air juga mengurangi sintesis klorofil dan mengurangi aktivitas beberapa enzim. Kekurangan air justru meningkatkan aktivitas enzim-enzim hidrolisis. (Anggarwulan, 2005).
Pengaruh stres air pada tanaman dapat menurunkan jumlah klorofil dan kadar prolin daun. Selain berpengaruh terhadap penurunan jumlah klorofil daun, stress air dapat meningkatkan rimpang tanaman. Pada tanaman yang mendapat stress air dibentuklah prolin untuk mengatasi kekurangan air (Rahardjo, 2013).
                                                  METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum Silvika yang berjudul “Pengaruh Air Terhadap Pertumbuhan Tanaman” dilaksanakan pada Senin, 27 Maret 2017 pukul 13.00 WIB. Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Manajemen Hutan pada Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Alat dan Bahan
      Alat yang digunakan di praktikum ini adalah mangkok kecil, sprayer, penggaris, kertas label, tally sheet pengamatan dan alat tulis.
Bahan yang digunakan di praktikum ini adalah bibit semai tanaman kehutanan, akasia (Acacia auriculiformis), sengon (Paraserianthes falcataria), saga (Adenanthera pavonnina), polybag kecil, media tanam (top soil) dan air.
Prosedur Kerja
1.    Diambil semai dan ditanam dalam polybag menggunakan top soil 100% sebanyak 12 semai dengan 3 kali ulangan dengan 4 variasi (tidak disiram, disiram setiap hari, disiram 3 hari sekali, dan disiram 5 kali sehari).
2.    Dipelihara semai sampai berumur 4 minggu.
3.    Diukur pertumbuhan tinggi semai dan disiram sesuai variasinya.
4.    Diperlakukan bibit sesuai variasinya
1.    Tidak disiram
2.    Disiram setiap hari
3.    Disiram 3 hari sekali
4.    Disiram 5 hari sekali
5.    Diamati pertumbuhan tanaman setiap 1 minggu sekali dengan mencatat tinggi.


                                    HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil                                                                              
Hasil yang diperolehdariPraktikumSilvika yang berjudul “PengaruhAirTerhadapPertumbuhanTanaman” adalahsebagaiberikut :
Tabel 1. Data PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia(Acacia auriculiformis) denganperlakuanTop soil 100%
No
Spesies
Tinggiawal
(cm)
Minggu
Ke-1 (Tinggi)
Minggu
Ke-2 (Tinggi)
Minggu Ke-3 (Tinggi)
Minggu
Ke-4
(T/D)
1
Ulangan 1
3
1,5
2
4
5,5/0,05 cm
2
Ulangan 2
3
1,2
1,4
1,8
2/0,07 cm
3
Ulangan 3
3
-
-
-
-

Tabel2. Data PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia(Acacia auriculiformis) denganperlakuansekam padi 100%
No
Spesies
Tinggiawal
 (cm)
Minggu
Ke-1 (Tinggi)
Minggu Ke-2 (Tinggi)
Minggu Ke-3 (Tinggi)
Minggu
 Ke-4
(T/D)
1
Ulangan 1
4,6
-
-
-
-
2
Ulangan 2
6
-
-
-
-
3
Ulangan 3
6,5
-
-
-
-
Tabel3. Data PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia(Acacia auriculiformis) denganperlakuanTop soil : sekam padi (2:1)
No
Spesies
Tinggiawal
 (cm)
Minggu
Ke-1 (Tinggi)
Minggu Ke-2 (Tinggi)
Minggu Ke-3 (Tinggi)
Minggu
 Ke-4
(T/D)
1
Ulangan 1
4
2,5
3
3,7
-
2
Ulangan 2
3,2
4
5
5,8
6,4/0,045 cm
3
Ulangan 3
4
2,5
3
4
5/0,04 cm
Tabel4. Data PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia(Acacia auriculiformis) denganperlakuanTop soil : sekam padi (1:1)
No
Spesies
Tinggiawal
 (cm)
Minggu
Ke-1 (Tinggi)
Minggu Ke-2 (Tinggi)
Minggu Ke-3 (Tinggi)
Minggu
 Ke-4
(T/D)
1
Ulangan 1
2,3
1
1,2
1,5
2/0,08
2
Ulangan 2
3
2
3
4,5
-
3
Ulangan 3
3,5
1,7
2,2
2,5
-


Dari data diatasdibuatsebuahgrafik
Grafik 1.PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia (Acacia auriculiformis) denganperlakuanTop soil 100%
Grafik 2.PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia (Acacia auriculiformis) denganperlakuansekam padi 100%
Grafik3.PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia (Acacia auriculiformis) denganperlakuanTop soil : sekam padi (2:1)
Grafik4.PengamatanHasilPertambahanTinggidan Diameter BibitAkasia (Acacia auriculiformis) denganperlakuanTop soil : sekam padi (1:1)
Pembahasan
            Dari hasilpengamatanpertumbuhansemaiakasia(Acacia auriculiformis)terhadappengaruhair, di dapatkanhasilpadaperlakuan tidak disiramdengantinggiawalpadaulangan 1 setinggi4,5 cm, ulangan 2 setinggi3,5 cm, ulangan 3 setinggi4 cm. Padaminggupertamabibitpadaulangan1tumbuh2,7 cm, bibit pada ulangan 2 tumbuh setinggi 1,7 cm, dan bibit pada ulangan 3 tumbuh setinggu 2,2. Pada minggu kedua bibit pada ulangan 1 tumbuh 3 cm, ulangan 2 tumbuh 2 cm, dan ulangan 3 tumbuh setinggi 2,5 cm. Pada minggu ketiga pada ulangan 1 tumbuh 3,5 cm, ulangan 2 tumbuh 3 cm, dan ulangan 3 tumbuh setinggi 3 cm. Pada minggu akhir, bibit pada ulangan 1 tidak tumbuh, ulangan 2 tumbuh 3,5 cm dengan diameter sebesar 0,05 cm, dan ulangan 3 tidak tumbuh.
Bibitakasiaada yang tidaktumbuhdisebabkan oleh faktor manusia dan alam, yang pada saat masa pengukuran, curah hujan sangat tinggi. Sehingga walaupun bibit di letakkan di bawah nurseri, bibit juga tidak dapat menahan derasnya air hujan.Hal ini sesuai dengan pernyataan (Ariyanto, 2010) yang menyatakan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati baik sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan. Ini didasarkan atas kenyataan bahwa tinggi tanaman merupakan ukuran pertumbuhan yang paling mudah dilihat.
            Pada perlakuan disiram 5 hari sekali pertumbuhansemaiakasia                     (Acacia auriculiformis) mendapatkan tinggi awal pada bibit ulangan pertama sebesar 3,7 cm, bibit ulangan kedua 4,6 cm, dan bibit ulangan ketiga sebesar      5,8 cm. Padamiggupertamabibitpadaulangan 1tumbuh2 cm, bibit ulangan 2 tumbuh 1,8 cm, dan bibit ulangan 3 tumbuh 4 cm. Pada minggu kedua untuk bibit ulangan 1 tumbuh 2,5 cm, bibit ulangan 2 tumbuh 2 cm, dan ulangan 3 tumbuh 4,5 cm. Di minggu ketiga untuk bibit ulangan 1 tumbuh 4 cm, ulangan 2 tumbuh 2,2 cm, dan ulangan 3 bibit mati. Pada minggu terakhir, pada bibit ulangan pertama mengalami kematian. Di ulangan 2 bibit tumbuh 2,5 cm dengan diameter sebesar 0,07 cm. Dan ulangan 3 bibit mengalami kematian pula. Hal ini juga dikarenakan interval penyiraman yang dilakukan hanya 5 hari sekali, sehingga tanaman mengalami fase kekurangan air. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Harwati, 2007) yang menyatakan bahwa kekurangan air (water deficit) akan mengganggu keseimbangan kimiawidalam tanaman yang berakibat berkurangnya hasil fotosintesis atau semua proses-prosesfisiologis berjalan tidak normal.
Pada pengamatanpertumbuhansemaiakasia(Acacia auriculiformis)terhadappengaruhair, di dapatkanhasilpadaperlakuan disiram 3 hari sekalidengantinggiawalpadaulangan 1 setinggi5 cm, ulangan 2 setinggi4 cm, ulangan 3 setinggi4 cm. Padaminggupertamabibitpadaulangan 1 tumbuh                3,2 cm, ulangan 2 tumbuh 2,2 cm, dan ulangan 3 tumbuh setinggi 2,3 cm. Pada minggu kedua di ulangan 1 bibit tumbuh 3,5 cm, ulangan 2 tumbuh 2,5 cm, dan ulangan 3 tumbuh 2,5 cm. Pada minggu ketiga di ulangan 1 bibit tumbuh 4 cm, ulangan 2 tumbuh 2,8 cm, dan ulangan 3 tumbuh setinggi 3 cm. Pada minggu terakhir di ulangan 1 mengalami kematian, ulangan 2 tumbuh 3 cm dengan diameternya 0,05 cm, dan ulangan 3 tumbuh 3,5 dengan diameter sebesar                 0,09 cm.
Pada pengamatanpertumbuhansemaiakasia(Acacia auriculiformis)terhadappengaruhair, di dapatkanhasilpadaperlakuan disiram setiap hari dengantinggiawalpadaulangan 1 setinggi4 cm, ulangan 2 setinggi2,3 cm, ulangan 3 setinggi3,7 cm. Padaminggupertamabibitpadaulangan 1 tumbuh setinggi 2,3 cm, pada ulangan 2 tumbuh setinggi 1,7 cm, ulangan 3 tumbuh 2,2 cm. Pada minggu kedua untuk bibit ulangan 1 tumbuh 3 cm, ulangan 2 tumbuh 2,5 cm, dan ulangan 3 tumbuh setinggi 2,7 cm. Pada minggu ketiga untuk ulangan 1 tumbuh 3,5 cm, ulangan 2 dan 3 tumbuh setinggi 3 cm.Pada minggu akhir, pada bibit ulangan 1 tumbuh setinggi 4 cm dengan diameter sebesar 0,05 cm, pada bibit ulangan 2 tumbuh setinggi 3,5 cm dengan diameter 0,09 cm, dan pada ulangan 3 tumbuh 4 cm dengan diameternya 0,05 cm. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Onrizal, 2009) yang mengatakan bahwa air mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung, hampir semua proses dalam tumbuhan, aktivitas metabolisme sel dan tumbuh-tumbuhan berkaitan dengan kadar air.
Dari pengamatan yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa pertumbuhan bibit yang paling tinggi terdapat pada perlakuan disiram setiap hari. Dan pertumbuhan bibit akasia yang paling rendah terdapat pada perlakuan disiram5 hari sekali.Interval penyiraman yang paling baikdilakukanadalahpenyiramansetiaphari karena air merupakan esensial bagi kehidupan dan fungsi ait itu sendiri tidak tergantikan oleh benda lain, sehingga jika disiram setiap hari, tanaman tidak akan mengalami kematian karena kekurangan air.

                                      KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.        Pertumbuhan bibit akasia (Acacia auriculiformis) yang paling tinggi terdapat pada perlakuan disiram setiap hari
2.        Pertumbuhan diameter bibit akasia (Acacia auriculiformis) didapat hasil yang paling besar yaitu dengan perlakuan disiram 3 hari sekali dan disirm setiap hari sebesar 0,09 cm.
3.        Pertumbuhan bibit akasia (Acacia auriculiformis) yang paling rendah terdapat pada perlakuan disiram 5 hari sekali.
4.        Pertumbuhan diameter bibit akasia (Acacia auriculiformis) didapat hasil yang paling kecil yaitu dengan perlakuan tidakdisiram, disiram 3 hari sekali dan disirm setiap hari sebesar 0,05 cm.
5.        Interval penyiraman yang paling baikdilakukanadalahpenyiramansetiaphari.
Saran
            Sebaiknyadalam melakukan penyiramanpadasemai, para praktikan harus rajin memperhatikan bibit semai dan melakukan penyiraman sesuai dengan perlakuan-perlakuan yang sudah ditentukan.


LAPORAN PRAKTIKUM SILVIKULTUR JUDUL PEMUPUKAN

PENDAHULUAN Latar belakang Kesuburan tanah adalah potensi tanah untuk menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup, dalam bentuk...